Pilkades Selesai, Mengapa Hati Kita Belum Pulang?

Desa sesungguhnya bukan sekadar kumpulan rumah. Desa adalah tempat nama-nama keluarga saling bersambung, tempat anak-anak tumbuh dengan mengenal siapa pamannya, siapa bibinya, siapa tetangganya. Di desa, perbedaan tidak pernah lebih besar daripada persaudaraan.

Lalu datanglah Pilkades.

Pilkades sebenarnya hanyalah cara untuk memilih seorang pelayan masyarakat. Ia bukan perlombaan menentukan siapa yang paling mulia, bukan pula pengadilan yang memutuskan siapa yang paling benar. Yang dipilih hanyalah seseorang yang diberi amanah untuk beberapa tahun. Setelah itu, jabatan akan kembali menjadi kenangan.

Anehnya, yang sementara sering kita jadikan abadi. Yang seharusnya menjadi jalan justru berubah menjadi tembok.

Ada yang tidak lagi saling menyapa. Ada keluarga yang menjadi canggung. Ada sahabat yang menjaga jarak. Bahkan ada yang menganggap pilihan politik lebih penting daripada tali darah yang telah dipintal puluhan tahun.

Padahal, ketika azan berkumandang, kita tetap berdiri menghadap kiblat yang sama. Ketika ada tetangga meninggal, kita tetap mengusung jenazah dengan bahu yang sama. Ketika musim tanam tiba, sawah tidak pernah bertanya siapa yang dulu didukung.

Maka, siapa sebenarnya yang sedang kita menangkan?

Kalau kemenangan itu membuat hati kehilangan kasih sayang, mungkin yang menang bukan kita, melainkan ego. Kalau kekalahan membuat kita memutus silaturahmi, mungkin yang kalah bukan suara di kotak suara, melainkan kebesaran jiwa.

Desa tidak dibangun oleh satu kepala desa. Desa dibangun oleh seluruh warganya. Kepala desa hanya nahkoda, sedangkan perahu hanya akan bergerak jika semua orang bersedia mendayung bersama.

Karena itu, sesudah Pilkades, yang lebih penting daripada menghitung siapa pendukung siapa adalah menghitung berapa banyak hati yang harus dipeluk kembali. Berapa banyak pintu yang harus diketuk lagi. Berapa banyak tangan yang harus dijabat tanpa menyisakan prasangka.

Memaafkan bukan berarti mengalah. Berdamai bukan berarti kalah. Justru di situlah kemenangan yang sesungguhnya. Ketika kita mampu menempatkan persaudaraan di atas kepentingan sesaat.

Ranggagata terlalu berharga untuk diwariskan kepada anak cucu dalam keadaan terbelah. Yang pantas mereka warisi adalah teladan bahwa orang tua mereka pernah berbeda pilihan, tetapi tidak pernah kehilangan kasih sayang.

Sebab pada akhirnya, sejarah tidak akan lama mengingat siapa yang menang dalam Pilkades. Namun sejarah akan selalu mengingat masyarakat yang mampu menjaga persaudaraan ketika perbedaan datang menguji mereka.

Mari kita pulang. Bukan pulang ke rumah, melainkan pulang ke hati yang lapang. Sebab desa yang damai bukan lahir karena semua orang sepakat, tetapi karena semua orang tetap saling menghormati meski pernah berbeda pilihan. (abdus syukur)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *