Puncak Sangkareang, Pesona di Atas Awan yang Tak Cocok untuk Sekadar FOMO

Wartawan NTBNOW Sri Susanti di puncak Gunung Sangkareang dengan ketinggian 3200 MDPL. (Foto: dokumen pribadi)

Pagi belum benar-benar sempurna ketika cahaya keemasan perlahan menyibak gelap. Dari ketinggian, Gunung Rinjani tampak berdiri gagah. Kaldera membentang luas, Danau Segara Anak terlihat seperti lukisan, sementara Gunung Baru Jari seolah menjadi titik kecil yang melengkapi panorama.

SRI SUSANTINI

Di tempat itu, matahari terbit bukan sekadar pergantian waktu. Ia menjadi pertunjukan alam yang membuat perjalanan panjang terasa lunas. Itulah Gunung Sangkareang.

Salah satu titik yang menawarkan panorama spektakuler dari kawasan Gunung Rinjani. Dari jalur Tetebatu, Lombok Timur, pendaki bisa menikmati lanskap Rinjani, kaldera, Segara Anak, hingga Gunung Baru Jari dalam satu bingkai

Tak hanya sunrise. Saat sore menjelang, kawasan ini juga menjadi tempat yang strategis untuk menyaksikan matahari terbenam. Langit perlahan berubah warna, sementara siluet pegunungan membentuk lanskap yang sulit ditemukan di tempat lain.

Namun, di balik keindahan tersebut, ada persoalan yang mulai mengusik. Gunung Sangkareang bukan tempat untuk sekadar mengejar konten, tren, apalagi FOMO.

Jalur pendakian Sangkareang via Tetebatu memiliki karakter medan yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Dengan ketinggian sekitar 3.200 meter di atas permukaan laut (mdpl), perjalanan menuju kawasan tepi kawah membutuhkan waktu sekitar tujuh jam pada hari pertama. Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju puncak pada keesokan paginya.

Bulan terlihat sempurna dari jalur pendakian menuju puncak Sangkareang

Jalur ini pertama kali diperkenalkan melalui soft launching oleh Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) pada 13 Desember 2020, bertepatan dengan momentum HUT NTB. Setahun kemudian, jalur tersebut mulai dibuka secara resmi untuk umum.

Dari gerbang pendakian hingga Pos 3, trek relatif landai dengan vegetasi yang cukup tertutup. Namun setelah Pos 3, karakter medan berubah.

Tanjakan mulai mendominasi. Vegetasi masih rapat. Menuju kawasan camp area, pendaki harus menghadapi trek yang terus menanjak.

Perjalanan menuju puncak pun belum selesai. Ada sekitar tujuh bukit kecil yang harus dilewati sebelum benar-benar mencapai titik puncak.

Di sepanjang perjalanan, suasana justru relatif sepi. Pendaki tidak terlalu sering berpapasan. Jika bertemu, sebagian merupakan wisatawan mancanegara. Ada pula pendaki muda, termasuk kalangan Gen Z, yang memilih melakukan perjalanan pulang-pergi dalam sehari atau biasa disebut tektok.

Sunrise tampak dari belakang Puncak Rinjani sehingga menambah keindahan bukit sekitar dari jalur pendakian Gunung Sangkareang.

Masalahnya, sebagian pendakian tektok itu dilakukan secara ilegal. Mereka tidak melalui prosedur pendakian resmi. Ada yang memilih masuk melalui jalur-jalur tikus pada tengah malam, sekitar pukul 00.00.

Alasannya beragam. Namun fenomena FOMO (fear of missing out) diduga menjadi salah satu pemicunya. Melihat foto teman atau konten pendaki lain berhasil mencapai puncak, muncul keinginan untuk merasakan hal yang sama.

Persoalannya, gunung tidak mengenal FOMO.

Medan tidak akan menjadi lebih mudah hanya karena sedang viral. Ketinggian tidak akan berkurang hanya karena seseorang ingin mengejar sunrise. Dan tubuh manusia memiliki batas yang tidak bisa dinegosiasikan.

Gemerlap lampu permukiman dari ketinggian berpadu dengan siluet punggungan gunung di bawah langit malam. Pemandangan ini diabadikan dari kawasan Gunung Sangkareang, menghadirkan panorama malam yang tenang sekaligus dramatis dari ketinggian.

Pengakuan sejumlah pendaki tektok menunjukkan bagaimana sebagian dari mereka berangkat dengan persiapan yang sangat minim. Ada yang hanya membawa dua botol air ukuran kecil. Bekal makanan pun seadanya. Bahkan ada yang mengandalkan sosis sebagai salah satu sumber makanan selama perjalanan. Padahal, perjalanan menuju Sangkareang bukan perjalanan singkat.

Jika cuaca cerah, malam hari bisa mengabadikan indahnya Milky Way dengan kamera handphone

Tujuh jam menuju kawasan tepi kawah saja membutuhkan stamina. Belum lagi perjalanan menuju puncak pada hari berikutnya. Kondisi cuaca, medan, kelelahan, ketinggian dan kondisi tubuh dapat berubah sewaktu-waktu.

Tak sedikit yang akhirnya mengeluh.

Ada yang menyesal setelah merasakan sendiri beratnya medan. Ada pula yang tetap memaksakan diri meski kondisi fisik sudah tidak memungkinkan.

Keinginan mencapai puncak terkadang membuat keselamatan justru ditempatkan di urutan belakang. Gunung bukan arena pembuktian siapa yang paling kuat. Apalagi bagi mereka yang belum memahami karakter medan.

Pendakian tektok sebenarnya bukan sesuatu yang mustahil. Namun jalur Sangkareang via Tetebatu bukan medan yang ideal untuk dicoba secara sembarangan. Aktivitas tersebut hanya layak dilakukan oleh pendaki yang benar-benar berpengalaman, memahami medan, memiliki kondisi fisik memadai, serta melakukan persiapan matang.

Persoalan lainnya adalah sampah.

Di tengah keindahan alam yang seharusnya dijaga, masih ditemukan pendaki yang meninggalkan plastik makanan begitu saja. Sampah yang dibawa dari bawah tidak semuanya dibawa kembali turun.

Bahkan, pernah ada porter yang menegur pendaki agar sampah tersebut dipungut dan dibawa turun. Namun teguran itu tidak selalu mendapat respons. Ada yang memilih acuh.

Ironis. Mereka datang ke gunung untuk menikmati keindahan alam, tetapi meninggalkan jejak yang justru merusak keindahan tersebut.

Padahal, gunung bukan tempat sampah raksasa. Apa yang dibawa naik semestinya kembali dibawa turun.

Kesadaran itulah yang kemudian terus didorong Balai TNGR. Sejak 3 April 2025, TNGR menerapkan kebijakan Pendakian Zero Waste.

Konsep tersebut diarahkan untuk mengurangi sampah plastik yang dibawa pendaki sekaligus memastikan kawasan pendakian tetap bersih dan lestari.

Kebijakan itu menjadi penting di tengah meningkatnya minat masyarakat terhadap aktivitas pendakian. Gunung semakin populer. Konten tentang puncak, sunrise, sunset, lautan awan hingga foto berlatar Rinjani semakin mudah ditemukan di media sosial.

Keindahan tersebut tentu patut dipromosikan.

Tetapi ada konsekuensi yang tidak boleh dilupakan. Semakin populer sebuah gunung, semakin besar pula tekanan terhadap alamnya.

Di Sangkareang, persoalan itu terlihat dari adanya aktivitas pendakian ilegal, pendaki yang melakukan tektok tanpa persiapan, hingga persoalan sampah. Ironisnya, ketika berada di atas gunung, jumlah orang yang terlihat bisa jauh lebih banyak dibandingkan jumlah pendaki yang tercatat secara resmi.

Artinya, ada ruang pengawasan yang harus terus diperkuat. Sebab ketika seseorang memilih masuk melalui jalur ilegal, bukan hanya aturan yang diabaikan. Keselamatan pendaki juga menjadi taruhan. Jika terjadi sesuatu di tengah perjalanan, proses pencarian dan pertolongan tentu menjadi jauh lebih sulit.

Gunung memang menawarkan keindahan. Tetapi gunung juga menyimpan ketidakpastian. Cuaca dapat berubah. Kabut bisa turun tiba-tiba. Hujan membuat jalur licin. Tubuh bisa kehilangan tenaga. Dan semakin tinggi seseorang mendaki, semakin besar pula tantangan yang harus dihadapi.

Sunset dari Camp area.

Karena itu, Gunung Sangkareang seharusnya tidak diperlakukan sebagai sekadar latar belakang foto. Ia adalah ruang hidup yang harus dihormati. Keindahan sunrise dan sunset memang layak dikejar. Panorama Rinjani, Segara Anak dan Baru Jari memang pantas diabadikan.

Tetapi semuanya harus dilakukan dengan cara yang bertanggung jawab.

Jangan datang hanya karena FOMO. Jangan mendaki hanya demi konten. Jangan mempertaruhkan keselamatan demi sebuah foto di puncak. Lakukan riset. Kenali medan. Hitung waktu tempuh. Siapkan fisik dan logistik. Patuhi SOP pendakian. Gunakan jalur resmi. Dan yang paling penting, bawa kembali sampah yang dibawa dari bawah.

Sebab alam bukan tempat untuk coba-coba.

Alam bukan panggung untuk gaya-gayaan.

Gunung juga tidak pernah berjanji akan selalu ramah.

Kadang ia memberikan sunrise yang sempurna. Kadang pula menghadirkan kabut, hujan, dingin dan medan yang menguras tenaga. Sangkareang boleh menjadi destinasi untuk menikmati keindahan. Tetapi untuk sampai pada keindahan itu, ada satu hal yang harus lebih dulu dimiliki setiap pendaki “Kesadaran bahwa alam harus dihormati, bukan ditaklukkan demi FOMO”.  (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *