Menyusuri Jalur Gelap, Menembus Tanjakan, Berakhir di Puncak Amben Hill

Dingin Sembalun Tak Lagi Terasa, Kalah oleh Tanjakan dan Tawa di Jalur Pendakian

DINGIN malam di Sembalun menusuk hingga ke tulang. Jalanan masih gelap. Suara jangkrik, kodok, dan desiran angin menjadi musik perjalanan. Namun, di kepala kami bertiga hanya ada satu tujuan: puncak.

 

Oleh SRI SUSANTINI

Jarum jam menunjukkan pukul 04.30 Wita ketika saya bersama Eka Safitri dan Ahmad Sauqi bersiap memulai perjalanan menuju Amben Hill. Bukit setinggi sekitar 2.100 meter di atas permukaan laut (mdpl) itu berada di kawasan Sembalun, Lombok Timur.

Pagi itu, Belum banyak kendaraan melintas. Jalanan lengang. Perjalanan dari Pringgarata, Lombok Tengah, yang biasanya membutuhkan waktu sekitar 2 hingga 2,5 jam, pagi itu kami tempuh hanya sekitar 1,5 jam.

Memasuki kawasan Hutan Lemor, Lombok Timur, suhu terasa semakin menggigit. Tangan mulai kaku. Jari-jari seperti kehilangan rasa. Pukul 04.53 Wita, azan Subuh terdengar dari telepon genggam.

Kami memutuskan berhenti di sebuah warung di kawasan Bukit Gedong. Selain menunaikan salat, kami memanfaatkan waktu untuk menghangatkan tubuh.

Motor masih menyala.

Kami bahkan harus mendekatkan telapak tangan ke knalpot motor. Cara sederhana, tetapi lumayan mengembalikan rasa pada jari-jari yang kebas.

Dari Dingin Beralih Jadi Peluh

Perjalanan berlanjut. Sesampainya di basecamp pendakian Amben Hill, api unggun terlihat menyala. Empat hingga lima petugas mengelilinginya.

Suasana masih sepi. Hanya belasan sepeda motor terlihat terparkir. Sebagian pengunjung rupanya memilih bermalam di puncak.

Eka dan Sauqi langsung mendekati api. Saya menyusul. Telapak tangan kami arahkan ke bara. Jaket dibuka sedikit. Hangat api perlahan menggantikan dinginnya Sembalun. Tak lama kemudian, matahari mulai menyibakkan cahaya.

Kami memasuki gerbang pendakian.

Awalnya jalur terasa bersahabat. Kebun dan hutan menyambut dengan trek yang cukup landai. Namun, keramahan itu tidak berlangsung lama. Baru beberapa menit berjalan, napas mulai memburu. Detak jantung meningkat. Peluh mulai keluar.

Dingin yang sejak tadi menggigit perlahan menghilang, digantikan panas tubuh sendiri.

Trek semakin menanjak. Akar pohon pinus menjulur di antara tanah, membentuk tangga alami. Licin. Setiap langkah harus diperhitungkan.Gravitasi seakan bekerja lebih keras.

Sekitar 45 menit berjalan, kami tiba di Pos 1 dengan ketinggian sekitar 1.400 mdpl.

Dari titik ini, trek mulai terbuka. Debu semakin pekat. Batu-batu berserakan. Matahari mulai terasa menyengat. Langkah kaki pendaki lain membuat debu beterbangan.

Di tengah perjalanan, kami menemukan sebuah pohon yang diberi nama Pohon Jomblo. Tentu saja, perjalanan tidak lengkap tanpa foto.

Kami bergantian berpose. Kamera telepon genggam berpindah dari satu tangan ke tangan lainnya. Satu tujuan sederhana: mengabadikan momen sekaligus membawa pulang bahan untuk media sosial.

Setelah sesi foto selesai, perjalanan kembali dilanjutkan. Kali ini kaki mulai terasa berat. Lutut bergetar. Napas dan detak jantung seolah sudah memiliki irama sendiri. Namun, trek di depan justru semakin menantang. Tali-tali terpasang di beberapa bagian sebagai pegangan. Tanah berdebu dan licin membuat tanjakan semakin sulit. Semakin ke atas, kemiringannya semakin terasa.

Satu Jam Berhenti karena Obrolan

Pos 2 akhirnya terlihat. Sebuah bangunan sederhana berdiri di sana. Enam tiang bambu menyangga atap paranet hitam. Tidak mewah, tetapi cukup untuk berteduh. Angin yang berembus membuat tempat itu terasa teduh.

Sauqi langsung membuka ransel. Logistik dikeluarkan.Kami duduk, ngemil, minum, lalu bercanda. Cara sederhana untuk mengusir lelah. Tak lama kemudian, dua pendaki datang. Keduanya membawa carrier berukuran sekitar 60 liter.

Dari barang bawaan yang mereka pikul, jelas mereka sudah bermalam di puncak.

Mereka ikut beristirahat. Kami saling menyapa. Bekal pun mulai berpindah tangan. Awalnya mereka malu-malu.

Tapi, saya tidak terlalu pandai membiarkan orang menolak makanan.

“Ambil dan makan saja, tidak apa-apa. Ayo,” kata saya.

“Iya, Kak,” jawabnya.

“Iya, iya saja. Ambil. Tidak boleh menolak,” saya kembali memaksa.

 

Akhirnya mereka mengambil jajanan yang kami bawa. Kami menyebutnya, bercanda, sebagai Makan Bergizi Gratis alias MBG.

Obrolan semakin panjang. Kami saling bertukar cerita tentang gunung yang pernah didaki. Dari pengalaman trek hingga cerita lucu selama perjalanan.

Di tengah obrolan, Eka justru memperhatikan carrier milik pendaki lain.

Matanya berbinar. Selama ini Eka lebih sering mendaki dengan sistem tektok—naik dan turun tanpa bermalam.

Kali ini dia ingin merasakan sensasi membawa carrier. Saya pun meminta izin kepada salah seorang pendaki untuk meminjamkan carriernya. Eka langsung mengangkatnya. Carrier yang sebelumnya terasa berat di punggung orang lain mendadak menjadi sumber kebahagiaan baginya. “Ye, akhirnya aku gendong carrier!” teriaknya sambil tertawa.

Belum selesai. “Kak, foto dan buatkan video. Nanti saya upload di Instagram,” pintanya.

Kami tertawa.Pendakian memang aneh. Kadang yang membuat bahagia bukan puncak, melainkan hal-hal kecil di perjalanan. Lucunya, hampir setengah jam kami ngobrol, tetapi lupa berkenalan.

Nama baru ditanyakan setelah obrolan panjang. Media sosial pun saling bertukar.

Bahkan muncul rencana untuk kembali bertemu dan mendaki bersama, salah satunya menuju Puncak Tembesi melalui jalur selatan Rinjani.

Tanpa terasa, hampir satu jam kami berada di Pos 2. Terlalu lama memang.

Kami akhirnya berpamitan dan melanjutkan perjalanan masing-masing.

Selepas Pos 2, trek kembali menunjukkan wajah aslinya.Curam, Licin, Berdebu.

Tali semakin banyak terpasang. Pengelola memasangnya untuk membantu pendaki menjaga keseimbangan. Kemudian kami tiba di Tanjakan Samurai. Namanya terdengar gagah. Trek-nya pun tidak kalah garang. Bendera Merah Putih berjajar di sepanjang jalur. Dari titik ini, puncak terlihat seperti sudah dekat. Tetapi gunung punya cara sendiri untuk menguji kesabaran.

Masih ada dua bukit yang harus dilewati.

Tanjakan Samurai juga menjadi salah satu spot favorit untuk berfoto. Pendaki rela berhenti dan antre demi mendapatkan gambar terbaik. Kami tidak terlalu lama.

Perjalanan dilanjutkan. Di sepanjang jalur, kami berpapasan dengan pendaki yang turun setelah bermalam.

Salah seorang pendaki membawa carrier besar. Dari bentuknya, seperti ada “lemari” di dalam tas. “Mas, masih jauh?” tanya Eka.

“Dikit lagi, Mbak. Ya, satu jam lagi lah. Tinggal melewati tanjakan di depan, lalu satu bukit lagi. Setelah itu landai sampai puncak,” jawabnya enteng. Dia kemudian melanjutkan perjalanan turun dan perlahan menghilang ditelan kabut.

Kalimat “satu jam lagi” itu cukup menjadi bahan bakar semangat. Di tengah Tanjakan Samurai, kami kembali bertemu dua pendaki. Seorang perempuan dan laki-laki berusia sekitar 20 hingga 23 tahun. Saling sapa kembali terjadi.

“Kak, dari mana?” tanya perempuan itu.

” Dari Lombok Tengah. Kamu dari mana?” saya balik bertanya.

” Dari Sambelia, Lombok Timur, Kak. Pelan-pelan saja ya. Kita bareng sampai puncak,” jawabnya.

“Ya, aman. Santai saja,” jawab saya.

Namanya Delia. Temannya bernama Nana. Sejak saat itu, rombongan kami bertambah.Dari tiga menjadi lima.

Saya, Eka, Sauqi, Delia, dan Nana.

Kami berjalan dalam ritme masing-masing. Tidak harus cepat. Yang penting terus bergerak.

Menemukan Sunyi di Puncak Amben

Sekitar empat jam perjalanan sejak gerbang pendakian, akhirnya kami sampai. Puncak Amben Hill.

Ketinggiannya sekitar 2.100 mdpl. Durasinya memang cukup lama, karena rata-rata pendaki yang lain hanya membutuhkan waktu dua hingga jam untuk sampai puncak. Punggung sudah basah kuyup. Kaki terasa berat. Namun semua itu terbayar ketika pandangan terbuka.

Gunung Rinjani berdiri gagah. Pohon-pohon tua berlumut hijau tumbuh di sekitar puncak. Salah satunya pohon purba dengan belasan cabang yang menjulur hingga menyentuh tanah.

Pohon itu bukan sekadar latar foto.

Pengunjung dilarang menaikinya demi menjaga kelestariannya.

Kabut perlahan turun. Pemandangan yang sebelumnya terbuka seperti lukisan perlahan tertutup putih. Puncak juga belum ramai. Hanya sekitar tujuh orang.

Lima orang dari rombongan kami dan dua pengunjung yang datang lebih dulu.

Kami memilih menikmati suasana sebelum sibuk dengan kamera. Tiga nasi bungkus dikeluarkan. Lauk sederhana, ayam suwir, tempe kering, dan sambal. Tidak ada restoran. Tidak ada meja makan.

Hanya bekal yang dibawa dari bawah.

Namun, di ketinggian 2.100 mdpl, makanan sederhana terasa seperti hidangan istimewa.

Kami makan sambil ditemani suara angin.

Setelah selesai, sampah dikumpulkan.

Bekal yang tersisa dikeluarkan. Snack dibuka.Kami saling bertukar makanan.

Tidak ada yang menyembunyikan bekal. Semua berbagi, semua menikmati.

Mungkin inilah salah satu hal paling menyenangkan dari perjalanan ke gunung, orang yang baru beberapa jam lalu tidak saling kenal bisa duduk bersama dan berbagi makanan seolah sudah lama berteman.

Satu per satu pendaki mulai tiba.

Kami pun mengambil foto di papan nama puncak dan di sekitar pohon purba.

Bukti sederhana bahwa kami berhasil sampai.

Sekitar satu jam menikmati puncak, jarum jam menunjukkan pukul 12.12 Wita.

Kami memutuskan turun. Kali ini jalur terlihat berbeda. Pendaki yang hendak naik semakin banyak. Gunung yang pagi tadi terasa sunyi mulai ramai.

Ketika Gunung Menjadi Panggung Fashion

Di perjalanan turun, ada satu hal lain yang menarik perhatian. Bukan hanya pemandangan. Bukan pula trek.

Melainkan gaya para pendaki.

Tren mendaki gunung kini tidak selalu identik dengan celana lapangan, jaket tebal, dan carrier besar.

Di media sosial, gaya gorpcore paduan busana outdoor dengan sentuhan fashion semakin populer. Kami bertemu banyak pendaki muda, terutama Gen Z, yang tampil modis.

Ada yang memakai pakaian ketat, celana pendek hingga panjang, hingga riasan wajah yang cukup mencolok. Gunung seolah menjadi ruang terbuka untuk mengekspresikan diri sekaligus menghasilkan konten. Tidak ada yang salah dengan itu. Mendaki juga bisa menjadi ruang untuk menikmati diri sendiri.

Tetapi gunung tetaplah alam liar. Keselamatan seharusnya berada di atas estetika.

Makeup tebal, misalnya, bisa terasa tidak nyaman ketika wajah berkeringat. Sementara pakaian yang terlalu mengutamakan gaya namun tidak sesuai kondisi gunung justru dapat meningkatkan risiko.

Bahan seperti katun atau jeans, misalnya, cenderung menyerap air dan keringat sehingga lebih lama kering. Di suhu dingin, kondisi tersebut bisa berbahaya.

Karena itu, tampil modis boleh.

Namun fungsi tetap nomor satu. Pilih pakaian luar yang tahan angin dan air. Hindari bahan yang mudah menahan kelembapan. Gunakan sepatu yang memiliki grip baik agar tidak mudah terpeleset di jalur berpasir atau licin.

Makeup pun tidak harus berlebihan.

Pelembap dan sunscreen secukupnya sudah cukup untuk membantu melindungi kulit dari paparan matahari di ketinggian.

Logistik juga jangan dilupakan.

Air minum, makanan, perlengkapan pribadi, serta P3K standar harus masuk dalam daftar bawaan.

Puncak Bukan Sekadar Foto

Untuk menikmati Amben Hill, pengelola mengenakan tarif sekitar Rp15 ribu per orang dan Rp15 ribu untuk parkir satu sepeda motor.

Nominalnya relatif terjangkau untuk sebuah perjalanan yang menawarkan pengalaman berbeda. Tetapi yang lebih mahal dari tiket masuk adalah keselamatan. Gunung bukan tempat untuk sekadar mengejar tren. Bukan pula tempat untuk membuktikan diri karena takut ketinggalan atau FOMO.

Di balik foto keren di puncak, ada trek licin, tanjakan panjang, cuaca yang bisa berubah, dan tubuh yang harus beradaptasi dengan ketinggian.

Perjalanan ke Amben Hill mengajarkan satu hal sederhana. Puncak memang tujuan. Namun cerita terbaik justru sering lahir di perjalanan menuju ke sana. Dari tangan yang menghangat di knalpot motor.

Dari api unggun di basecamp. Dari jajanan yang dibagi kepada orang asing. Dari seorang teman yang begitu bahagia hanya karena berhasil menggendong carrier.

Dari lima orang yang awalnya tidak saling mengenal, lalu berjalan bersama menuju puncak. Dan dari sepiring nasi sederhana yang terasa jauh lebih nikmat karena disantap bersama di ketinggian.

Puncak akhirnya bukan hanya tentang seberapa tinggi kita berdiri. Tetapi tentang bagaimana kita pulang. Pergi dengan sehat. Pulang dengan selamat. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *