MATARAM (NTBNOW.CO)–Polda Nusa Tenggara Barat (NTB) membantah tudingan melakukan pencegatan terhadap dua korban dugaan pembakaran di Pondok Pesantren Rosudatussaulatiyah Al Ibrahimy, Lombok Tengah, yang hendak bertolak ke Jakarta untuk memenuhi undangan podcast Denny Sumargo melalui Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (BIZAM).
Direktur PPA dan PPO Polda NTB Kombes Pol. Ni Made Pujewati menjelaskan tindakan anggota dilakukan untuk memastikan hak korban tetap terlindungi, termasuk menjalani perawatan medis dan memenuhi agenda pemeriksaan penyidik yang telah dijadwalkan.
“Tidak ada dicegat. Tidak ada izin kepada Polda. Kami hanya memastikan hak-hak korban terlindungi dan proses penyidikan yang memang sudah dijadwalkan dapat terlaksana,” kata Pujewati, Kamis 9/7.
Ia mengatakan penyidik telah menjadwalkan berita acara pemeriksaan tambahan terhadap kedua korban pada hari yang sama, Rabu 8/7 kemarin, karena keterangannya dibutuhkan dalam proses penyidikan lanjutan.
Selain itu, menurut dia, kedua korban dibawa dari rumah sakit tanpa sepengetahuan aparat maupun pendamping. Padahal masih menjalani perawatan berdasarkan rekomendasi rumah sakit.
“Korban diambil dari rumah sakit Provinsi tanpa sepengetahuan. Sudah diingatkan, tetapi tetap memaksa. Tidak ada komunikasi ataupun permintaan izin kepada pendamping, sehingga kami memastikan korban tetap mengikuti proses perawatan dan penyidikan,” ujarnya.
Penasihat hukum kedua korban, Yan Mangandar juga membantah informasi yang beredar di media sosial mengenai dugaan intimidasi oleh LPA Mataram terhadap orang tua korban.
“Kami tegaskan tidak pernah ada pengancaman, baik dari LPA kepada orang tua maupun sebaliknya. Tidak ada sama sekali,” tegasnya.
Dia mengaku, pihaknya tidak mengetahui rencana keberangkatan korban ke Jakarta karena tidak pernah menerima pemberitahuan ataupun koordinasi dari pihak yang membawa korban.
Ia menambahkan kedua korban saat itu masih menjalani pengobatan di rumah sakit. Ketika salah seorang pasien tidak berada di ruang perawatan, tenaga medis melaporkan kondisi tersebut sehingga aparat kepolisian melakukan penelusuran hingga ke bandara.
“Teman-teman medis menjadi cemas karena pasien tidak ada. Akhirnya kepolisian mengejar sampai di bandara dan menjemput mereka. Di rumah sakit maupun di bandara tidak ada sama sekali tim dari LPA Mataram,” pungkasnya. (can)












