MATARAM (NTBNOW.CO)–Keluarga tiga santri korban dugaan pembakaran di Pondok Pesantren Rosudatussaulatiyah Al Ibrahimy, Dusun Sengkol II, Desa Mantang, Kecamatan Batukliang, Lombok Tengah, mengaku harus berjuang keras membiayai pengobatan anak mereka. Salah satu orang tua korban bahkan menjual dua ekor sapi dan meminjam uang demi menyelamatkan nyawa putranya.
Tiga korban dalam peristiwa tersebut adalah Sahid Al Hudrry, Ahmad Devan Ramadhan, dan M. Sahril Sobirin. Ketiganya diduga menjadi korban pembakaran yang dilakukan oleh sesama santri berinisial MR.
Orang tua Sahid Al Hudrry, Rumidah, mengatakan seluruh kemampuan ekonomi keluarganya dikorbankan untuk biaya pengobatan putranya.
“Saya jual dua ekor sapi untuk biaya pengobatan anak saya. Saya juga ambil uang MEKAR Rp 715 juta. Bahkan kalau harus pinjam uang dengan bunga tinggi pun saya tidak peduli, yang penting anak saya bisa diobati,” kata Rumidah, Kamis 9/7.
Dia menceritakan, saat mendapat kabar kejadian.putranya bersama dua korban lainnya telah dibawa ke Puskesmas Pancor Dao oleh pihak pondok. Kondisi ketiganya, kata dia, mengalami luka bakar serius.
“Waktu saya melihat anak saya, kondisinya sudah hitam dan gosong. Saya sudah tidak bisa berbuat apa-apa. Saya antara sadar dan tidak melihat kondisi anak saya,” ujarnya.
Selanjutnya korban dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah Praya dan menjalani perawatan selama 12 hari menggunakan fasilitas BPJS Kesehatan. Namun, setelah dipulangkan, keluarga masih harus menanggung biaya pembelian obat yang nilainya mencapai jutaan rupiah.
“Saya beli obat Rp 1,7 juta, ada yang Rp 500 ribu, sampai obat Cina tiga butir seharga Rp 3 juta. Alhamdulillah sempat ada perubahan. Tapi setelah perban dibuka, lukanya membusuk dan mengeluarkan bau. Saya sampai malu membuka pintu rumah kalau ada tetangga atau keluarga datang. Tapi saya tetap sabar,” ujarnya.
Rumidah juga mengaku bantuan dari pihak pondok pesantren sangat terbatas. “Dari pihak pondok hanya tiga kali memberi santunan, pertama Rp 500 ribu, kedua Rp 250 ribu, dan ketiga Rp 200 ribu. Mereka tidak mau bertanggung jawab karena semua diserahkan kepada terduga pelaku yang merupakan teman anak kami,” ungkapnya.
Meski sempat diliputi amarah, Rumidah mengaku memilih menahan diri dan menyerahkan proses hukum kepada aparat.
“Saya sempat merasa dendam. Rasanya ingin membunuh pelakunya. Tapi Alhamdulillah kami bisa melalui semua ini dengan baik,” ujarnya.
Sementara itu, ibu korban Ahmad Devan Ramadhan, Nuraini, mengungkapkan berdasarkan cerita yang disampaikan para korban, bensin yang menjadi pemicu kebakaran dibeli atas perintah MR.
“Anak-anak cerita kalau yang beli bensin itu atas perintah MR. Kalau tidak mau, mereka diancam dipukul. Katanya bensin itu untuk membakar plastik mika,” kata Nuraini.
Menurut penuturan korban, api tiba-tiba membesar hingga MR berusaha memadamkannya menggunakan kayu. Saat mencoba mengambil botol bensin, bahan bakar justru tumpah dan menyambar barang-barang di dalam gudang.
“MR berhasil keluar, tetapi pintu ruangan tidak dibuka sehingga tiga korban terjebak di dalam,” ujarnya.
Nuraini mengatakan keluarga kemudian menyampaikan cerita tersebut kepada pihak pondok pesantren. Namun, menurutnya, tidak ada respons berarti dari pengelola pondok.
“Kami datang ke pondok dan menceritakan semuanya sesuai pengakuan anak-anak. Respons pihak pondok hanya mengatakan, ‘oh seperti itu’,” katanya.
Ia juga mengaku anaknya kerap mengalami dugaan perundungan sebelum peristiwa tersebut terjadi.
“Anak saya sering dibuli oleh anak pimpinan pondok bersama MR. Mereka ditelanjangi, dipukul, ditendang di kepala dan badan. Katanya tuan guru tidak tahu. Kami hanya meminta pertanggungjawaban dan pelakunya ditangkap,” ujar Nuraini.
Di sisi lain, Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Mataram, Joko Jumadi, memastikan keluarga korban tidak lagi dibebani biaya pendampingan maupun perawatan medis.
“Untuk biaya tunggakan BPJS dialihkan ke LPA. Sedangkan biaya perawatan saat ini ditanggung Polda NTB. Jadi pihak keluarga korban tidak perlu lagi membayar biaya apa pun,” pungkasnya. (can)












