Kelas Jurnalistik LAPMI HMI Yogyakarta Bahas Masa Depan Pers di Era Media Sosial dan AI

SLEMAN (NTBNOW.CO) – Lembaga Pers Mahasiswa Islam (LAPMI) “Sinergi” Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Yogyakarta menggelar Kelas Pengantar Jurnalisme Mahasiswa di Kafe Rage N Roast, Condongcatur, Depok, Sleman, Kamis (11/6/2026). Kegiatan tersebut mengangkat tema tantangan dan masa depan pers di tengah pesatnya perkembangan media sosial serta teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

Pemimpin Redaksi Beritajogja.com yang juga Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Jafarudin, hadir sebagai narasumber dengan materi bertajuk “Eksistensi Pers dan Jurnalisme Profesional di Era Media Sosial dan Kecerdasan Buatan”.

Dalam paparannya, Jafarudin menegaskan bahwa kehadiran media sosial tidak menghilangkan peran wartawan maupun perusahaan pers. Menurutnya, meski setiap orang kini dapat membuat dan menyebarkan informasi secara mandiri, aktivitas tersebut tidak otomatis dapat disebut sebagai praktik jurnalistik.

“Setiap orang memang bisa membuat dan menyebarkan informasi melalui media sosial. Namun menyebarkan informasi tidak sama dengan menjalankan fungsi jurnalistik,” ujarnya.

Ia menjelaskan, jurnalisme tidak hanya sebatas mempublikasikan informasi. Di dalamnya terdapat proses pencarian fakta, verifikasi, konfirmasi kepada pihak terkait, penyajian yang berimbang, hingga pertanggungjawaban kepada publik.

Menurut Jafarudin, keberadaan pers profesional justru semakin dibutuhkan di tengah maraknya hoaks, disinformasi, serta perkembangan teknologi deepfake yang mampu memanipulasi gambar, suara, dan video secara meyakinkan.

“Keunggulan utama pers saat ini bukan lagi menjadi yang tercepat, tetapi menjadi yang paling dapat dipercaya,” katanya.

Ia menambahkan, pers memiliki peran strategis sebagai pilar keempat demokrasi (fourth estate) melalui fungsi pengawasan terhadap kekuasaan, penyediaan informasi yang akurat, pembukaan ruang diskusi publik, serta mendorong transparansi dan akuntabilitas.

Dalam kesempatan tersebut, Jafarudin juga mengingatkan bahwa tidak semua kreator konten di media sosial dapat disebut wartawan. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, wartawan adalah seseorang yang secara teratur melaksanakan kegiatan jurnalistik.

“Seorang wartawan bekerja dalam sistem jurnalistik yang tunduk pada kode etik, mekanisme verifikasi, hak jawab, hak koreksi, dan tanggung jawab kepada publik,” jelasnya.

Selain membahas media sosial, ia turut menyoroti perkembangan teknologi AI yang kini mampu menghasilkan artikel, gambar, audio, hingga video secara otomatis. Menurutnya, AI dapat menjadi alat bantu yang bermanfaat bagi jurnalis, namun tidak dapat menggantikan fungsi dasar jurnalistik.

Ia menilai kemampuan membangun kepercayaan dengan narasumber, melakukan wawancara mendalam, investigasi lapangan, memahami konteks sosial, hingga mengambil keputusan etis masih membutuhkan peran manusia.

Sementara itu, Direktur LAPMI Sinergi, Abil Arqam Lubis, mengatakan kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman mahasiswa mengenai dunia jurnalistik di tengah derasnya arus informasi digital.

“Saat ini kita berada pada era banjir informasi yang nyaris tidak terbendung. Mahasiswa sebagai pengguna media sosial perlu memahami esensi jurnalisme, yaitu mencari kebenaran, melakukan verifikasi, dan menyajikan informasi yang berdampak bagi publik,” ujarnya.

Menurut Abil, kelas jurnalistik tersebut tidak hanya membahas teknik peliputan dan penulisan berita, tetapi juga etika jurnalistik, dinamika industri media, serta berbagai tantangan yang dihadapi pers akibat perkembangan teknologi.

“Kami ingin mempersiapkan sumber daya manusia yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, namun tetap berpegang pada prinsip dan etika jurnalistik,” katanya.

Melalui kegiatan ini, LAPMI Sinergi berharap peserta mampu memahami dasar-dasar jurnalistik, menguasai keterampilan peliputan dan penulisan berita, serta meningkatkan kemampuan verifikasi fakta di tengah derasnya informasi yang beredar di ruang digital. (rls)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *