MATARAM (NTBNOW.CO)–Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) terus memperkuat Program Desa Berdaya sebagai salah satu program prioritas untuk mewujudkan visi NTB Makmur Mendunia.
Melalui program yang dijalankan secara bertahap hingga 2030, pemerintah mendorong desa menjadi pusat pertumbuhan ekonomi berbasis potensi lokal yang mampu menciptakan lapangan kerja, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, sekaligus mempercepat pengentasan kemiskinan.
Salah satu implementasi program tersebut diwujudkan melalui Pelatihan dan Pendampingan Program Desa Berdaya “Desa Ekspor” yang diselenggarakan Bidang Pengembangan Perdagangan Luar Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi NTB bekerja sama dengan PT Hindra Soe Consulting (HSC) dan bersinergi dengan Dekranasda Provinsi NTB.
Pelatihan ini diikuti 30 peserta yang berasal dari unsur UKM, IKM, koperasi, dan BUMDes hasil kurasi dari 40 Desa Berdaya.

Kegiatan yang berlangsung di Aula BKP3ED Disperindag NTB dan dibuka oleh Ketua Dekranasda Provinsi NTB, Sinta Agathia M. Iqbal, serta dihadiri Kepala Disperindag NTB Lalu Wiranata, jajaran organisasi perangkat daerah, Bank Indonesia, Bea Cukai Mataram, perbankan, BUMN, hingga sejumlah mitra strategis yang terlibat dalam penguatan ekosistem ekspor daerah.
Dalam sambutannya, Sinta Agathia mengatakan produk-produk unggulan NTB sejatinya telah memiliki kualitas yang mampu bersaing di pasar nasional maupun internasional. Menurut dia, tantangan utama saat ini bukan pada kualitas produk, melainkan masih terbatasnya pemahaman pelaku UMKM mengenai mekanisme ekspor dan keberanian untuk memasuki pasar global.
“Ketika produk desa mampu menembus pasar ekspor, maka nilai tambahnya akan kembali kepada masyarakat. Karena itu, kolaborasi seluruh stakeholder menjadi kunci agar semakin banyak desa yang mampu tumbuh melalui potensi unggulannya dan berkontribusi dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” katanya.
Kepala Disperindag Provinsi NTB, Lalu Wiranata, menjelaskan Program Desa Berdaya merupakan agenda prioritas Pemerintah Provinsi NTB yang dilaksanakan secara bertahap hingga 2030. Sebanyak 257 desa menjadi sasaran pembinaan, sedangkan pada 2026 terdapat 40 desa yang telah ditetapkan melalui surat keputusan untuk memperoleh pembinaan.
Menurut Wiranata, Program Desa Ekspor diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah produk desa sehingga memenuhi standar pasar internasional dan mampu bersaing di pasar ekspor.
“Potensi desa di NTB sangat besar. Tugas kita adalah memastikan potensi tersebut tidak berhenti sebagai produk lokal, tetapi mampu berkembang menjadi produk ekspor yang memberikan manfaat ekonomi lebih besar bagi masyarakat sekaligus melahirkan eksportir-eksportir baru dari NTB,” ujarnya.
Dia mengaku, Selama pelatihan, peserta mendapatkan materi mengenai strategi ekspor, peningkatan kualitas produk, pemasaran digital, penyusunan dokumen ekspor, hingga pengembangan usaha.
Peserta juga akan mengikuti business matching dengan calon pembeli potensial sebagai upaya membuka peluang ekspor produk unggulan NTB,” ungkapnya.
Praktisi Ekspor Hindra Soe mengatakan strategi promosi internasional dan pemanfaatan marketplace global berfungsi untuk memperluas akses pasar.
Menurutnya, teknik menyusun offering letter, quotation, strategi mencari dan meyakinkan calon pembeli internasional, hingga memanfaatkan jejaring bisnis, media sosial, dan marketplace sebagai sarana promosi produk ekspor. “Saat ini technology sudah berkembang, harus kita manfaatkan itu,” tuturnya.
Dia berharap Program Desa Berdaya “Desa Ekspor” mengangkat UMKM dan produk lokal desa mampu naik kelas, menembus pasar global secara mandiri, serta menjadi motor penggerak ekonomi baru yang menurunkan angka kemiskinan di daerah. (can)












