Waktu menunjukkan pukul 03.00 dini hari. Menurut saya, itu adalah waktu yang tepat untuk memulai agenda yang telah direncanakan bersama bestie sekaligus keponakan saya, Eka Safitri, sejak seminggu lalu. Kami berangkat menggunakan sepeda motor, menembus udara dingin, gelap, dan sepi menuju Desa Sembalun, Lombok Timur, untuk merealisasikan rencana mendaki bukit secara pulang-pergi atau yang dikenal dengan istilah tektok.
———- SRI SUSANTINI—–
Tektok adalah metode mendaki gunung dalam satu hari tanpa menginap, di mana pendaki naik ke puncak lalu kembali turun dalam waktu singkat.
Kami berangkat dari Desa Sepakek, Kecamatan Pringgarata, Lombok Tengah. Di tengah perjalanan, tepatnya di Pasar Jelojok, Kopang, kami bertemu dengan Alkarezi, seorang guide gunung yang akan mendampingi perjalanan tektok kami ke dua bukit sekaligus.

Sebagai intermezzo, rencana awal kami adalah menuju Bukit Sempana melalui jalur ekstrem Letter Z. Namun, menurut Zi—sapaan akrab Karezi—jalur Bukit Nanggi menuju Sempana lebih landai. Akhirnya kami mengikuti saran tersebut.
Ada hal unik dalam perjalanan itu. Di pertigaan Desa Suela, yang dikenal sebagai rest area sebelum masuk kawasan Sembalun, kami diikuti seorang remaja dengan sepeda motor bebek abu-abu dan sandal jepit lusuh. Ia bernama Ahmad Sauqi.
Pukul 04.45 WITA, kami berhenti untuk salat Subuh berjamaah di sebuah warung sebelum Pusuk Sembalun. Tiba-tiba pemuda itu mendekat dan bertanya,
“Kak, mau ke mana? Boleh saya bergabung?”
Kami sempat saling pandang.
“Kamu mau ke mana?” tanya saya.
“Mau ke Bukit Bao Daya, tektok. Tapi saya ikut kakak saja,” ujarnya.
“Kami ke Bukit Nanggi, lanjut ke Sempana,” jawab saya.
“Iya, saya ikut saja. Saya sudah pernah ke Nanggi,” katanya mantap.
Dari rencana bertiga, kami pun menjadi empat orang.
Pukul 05.30 WITA, kami tiba di area parkir Bukit Nanggi di Desa Sembalun Bumbung. Parkiran penuh oleh kendaraan para pendaki yang menginap. Kami melakukan registrasi dengan biaya Rp20 ribu per orang, parkir motor Rp10 ribu, dan mobil Rp20 ribu.
Perjalanan dimulai pukul 06.24 WITA. Kabut pagi masih menggantung tipis saat langkah pertama menapaki jalur tanah dan bebatuan. Udara dingin bercampur aroma daun basah dan tanah yang tersentuh embun.

Langkah awal terasa berat, napas mulai berpacu dengan detak jantung. Namun di situlah letak keindahannya—perjuangan kecil yang perlahan berubah menjadi irama. Suara burung dan aliran air menemani perjalanan, sementara angin sesekali menyapu lelah.
Menuju pos satu, jalur masih berupa hutan dengan trek licin akibat hujan lebat sehari sebelumnya.
Di titik ini, sepatu saya mulai rusak setelah lima tahun menemani perjalanan naik turun gunung. Panik mulai terasa. Eka dan Sauqi mencoba meminjam sandal dari pendaki yang turun, namun berbagai jawaban kami terima.
Hingga akhirnya, di sebuah pos setelah pos dua, kami bertemu tiga remaja yang sedang membuat konten TikTok. Dengan usaha Eka, mereka bersedia meminjamkan sandal ukuran 40 untuk saya.
Semakin tinggi, pemandangan mulai terbuka. Hamparan hijau terlihat seperti lukisan. Namun sayangnya, kabut menutupi Gunung Rinjani.
Jalur semakin padat. Pendaki harus bergantian melewati jalur sempit dengan bantuan tali dan tangga kayu.
Setelah lima jam perjalanan, kami tiba di puncak Bukit Nanggi. Meski Rinjani tak terlihat, lautan awan membentang luas—tetap memukau.
Pukul 12.00 WITA, kami melanjutkan perjalanan ke Bukit Sempana, bukit tertinggi kedua di Lombok dengan ketinggian 2.329 mdpl, bagian dari Seven Summits Sembalun.
Ada dua jalur menuju puncak: jalur Nanggi yang lebih landai dan teduh, serta jalur Tembok China yang curam namun menawarkan panorama terbuka.
Sepanjang perjalanan, kami menemukan banyak sampah berserakan. Sangat disayangkan, keindahan alam harus ternodai oleh ulah pengunjung yang tidak bertanggung jawab.
Namun saat tiba di puncak Sempana, semua lelah terbayar. Angin bertiup kencang, namun membawa rasa damai. Seolah dunia berhenti sejenak, memberi ruang untuk bersyukur.

Kami mengabadikan momen dengan foto dan video, lalu beristirahat sambil menikmati kopi susu jahe hangat dan camilan sederhana.
Suasana di puncak terasa hangat. Tawa, canda, dan kebersamaan tercipta dengan para pendaki lain yang bergabung.
Mendaki bukit bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan batin. Tentang melangkah meski lelah, tetap naik meski ragu, dan menemukan diri sendiri di setiap ketinggian yang berhasil ditaklukkan. (*)












