Putus Rantai Kekerasan Anak, Tim Riset UIN Mataram Dorong Pengasuhan Berbasis Kearifan Lokal dan Keadilan Gender

LOMBOK BARAT (NTBNOW.CO)– Upaya mencegah kekerasan terhadap anak membutuhkan perubahan cara pandang dalam pengasuhan. Tidak hanya mengedepankan prinsip ramah anak, pola asuh juga perlu berpijak pada kearifan lokal dan keadilan gender.

Hal tersebut menjadi perhatian Tim Riset UIN Mataram melalui program riset MoRA The AIR Funds Kementerian Agama RI–LPDP yang menggelar Pelatihan Modul Pengasuhan Berbasis Kearifan Lokal dan Keadilan Gender, Sabtu–Minggu, 15–16 Agustus 2026.

Kegiatan yang berkolaborasi dengan Yayasan Inspirasi NTB tersebut berlangsung di Inspirasi Coffee & Culture Movement, Telaga Waru, Labuapi, Lombok Barat.

Pelatihan menjadi ruang pembelajaran dan refleksi bersama mengenai praktik pengasuhan keluarga, kekerasan terhadap anak, ketimpangan peran berbasis gender, serta pentingnya menghidupkan kembali nilai-nilai lokal untuk mendukung tumbuh kembang anak secara sehat dan bermartabat.

Ketua Inspirasi NTB, Nurjannah, S.Pd., menilai kearifan lokal perlu kembali digali sebagai salah satu fondasi dalam membangun pola pengasuhan yang mampu mencegah kekerasan terhadap anak.

Menurutnya, modul yang digunakan dalam pelatihan memiliki relevansi dengan kondisi masyarakat karena membahas persoalan kekerasan anak sekaligus menggali kembali pola asuh lokal yang selama ini mulai terlupakan.

Ia berharap peserta dapat membawa pengetahuan tersebut ke lingkungan keluarga dan masyarakat masing-masing sehingga tidak berhenti sebatas kegiatan pelatihan.

Sementara itu, perwakilan tim peneliti, Dr. Baiq Ratna Mulhimmah, M.H., menjelaskan bahwa modul pengasuhan tersebut merupakan hasil penelitian dan pengumpulan data yang dilakukan selama kurang lebih satu tahun.

Peserta dari berbagai generasi diajak melihat perbedaan pola pengasuhan antargenerasi. Bagi peserta yang belum memasuki kehidupan berkeluarga, pengetahuan tersebut diharapkan dapat menjadi bekal dalam membangun keluarga dan mengasuh anak di masa mendatang.

Mengurai Persoalan Anak dari Lingkungan Terdekat

Pelatihan yang didampingi tim peneliti Syahrul Hanafi, M.E.K. berlangsung secara partisipatif dan interaktif.

Peserta tidak hanya mengikuti materi, tetapi juga diajak merefleksikan pengalaman masa kecil melalui permainan yang pernah mereka lakukan. Metode tersebut digunakan untuk melihat perubahan pola interaksi anak dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Dalam diskusi, peserta mengidentifikasi berbagai persoalan anak yang kerap ditemukan di lingkungan sekitar, mulai dari bullying, anak kurang mandiri, pernikahan anak, penggunaan gawai secara berlebihan, pembatasan terhadap anak, hingga minimnya ruang bagi anak untuk menyampaikan pikiran dan perasaannya.

Sejumlah kelompok juga menyoroti intimidasi dan bullying verbal yang dilakukan orang dewasa terhadap anak, perubahan perilaku akibat penggunaan gadget secara berlebihan, serta persoalan orang tua yang merasa tidak nyaman menjalankan peran pengasuhan.

Sementara kelompok lainnya membahas persoalan pernikahan anak beserta konsekuensi sosial dan pengasuhan yang ditimbulkannya.

Fasilitator Rohani Inta Dewi, MA. menekankan bahwa perilaku orang tua memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan karakter anak.

Bahasa yang digunakan orang tua, cara menyelesaikan konflik, serta bagaimana anggota keluarga diperlakukan dapat direkam dan ditiru oleh anak.

Karena itu, komunikasi yang kasar atau penuh umpatan berpotensi ditiru anak dan dibawa ke lingkungan pergaulannya.

Membongkar Stereotip Gender dalam Pengasuhan

Pelatihan kemudian membahas perbedaan konsep seks dan gender serta bagaimana konstruksi sosial membentuk harapan berbeda terhadap anak laki-laki dan perempuan.

Peserta diajak memahami bahwa sejumlah tuntutan yang dianggap sebagai sesuatu yang “wajar” dalam masyarakat tidak selalu berkaitan dengan kodrat biologis. Sebagiannya terbentuk melalui budaya, kebiasaan, pembagian peran dan nilai yang diwariskan antargenerasi.

Dalam diskusi, peserta menyoroti masih adanya anggapan bahwa keberhasilan perempuan diukur dari kemapanan pasangan, sementara laki-laki dituntut selalu kuat secara fisik, psikologis maupun finansial.

Peserta juga menilai anak laki-laki perlu diberikan ruang untuk mengekspresikan emosi dan menyampaikan persoalan yang dihadapi.

Di sisi lain, masih ditemukan pandangan bahwa laki-laki lebih layak menjadi pengambil keputusan, pendidikan tinggi lebih diprioritaskan bagi laki-laki, serta pekerjaan domestik seperti memasak dianggap sebagai tanggung jawab perempuan.

Pengasuhan Transformatif: Anak Bukan Objek Ambisi Orang Tua

Salah satu materi utama pelatihan adalah konsep Pengasuhan Transformatif Gender.

Pendekatan ini mendorong keluarga mengubah pola pengasuhan menjadi lebih adil, ramah anak dan memberikan kesempatan yang setara kepada anak laki-laki maupun perempuan untuk berkembang sesuai potensi masing-masing.

Pengasuhan transformatif tidak sekadar berbicara mengenai pembagian pekerjaan rumah tangga. Lebih jauh, pendekatan tersebut mengubah cara orang tua memandang anak.

Anak ditempatkan sebagai individu yang memiliki potensi, kebutuhan dan hak untuk berkembang. Karena itu, orang tua didorong menjadi pendamping tumbuh kembang, bukan pihak yang sepenuhnya menentukan masa depan anak.

Komunikasi dua arah, mendengarkan kebutuhan anak, memahami tahapan perkembangan serta memberikan ruang bagi anak untuk menyampaikan pendapat menjadi bagian penting dari pola pengasuhan tersebut.

Empat Hak Dasar Anak

Peserta juga diperkenalkan dengan konsep “Pohon Pengasuhan” sebagai metafora dalam membangun keluarga.

Akar menggambarkan nilai, prinsip, keyakinan dan fondasi keluarga. Sementara batang menggambarkan pelaksanaan peran pengasuhan yang menopang pertumbuhan anak.

Dalam sesi akhir, peserta kembali diingatkan mengenai empat hak dasar anak, yakni hak hidup, hak tumbuh dan berkembang, hak memperoleh perlindungan, serta hak berpartisipasi.

Hak tersebut perlu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, antara lain dengan memberikan kesempatan anak berbicara, mendengarkan pendapat mereka, melindungi dari kekerasan, menyediakan akses pendidikan dan memenuhi kebutuhan dasar.

Diharapkan Berdampak pada Keluarga

Tim peneliti menilai riset mengenai pengasuhan dan relasi gender penting karena dinamika ekonomi serta pembagian peran dalam rumah tangga dapat memengaruhi hubungan pasangan dan pola pengasuhan anak.

Perbedaan kondisi ekonomi keluarga, termasuk ketika pendapatan istri lebih tinggi dibandingkan suami, dapat menjadi sumber ketegangan apabila tidak disertai komunikasi dan pemahaman relasi yang setara.

Pendekatan pengasuhan transformatif gender diharapkan membantu keluarga membangun relasi yang lebih komunikatif, adil dan adaptif dengan tetap menempatkan kepentingan terbaik anak sebagai perhatian utama.

Antusiasme peserta terlihat sepanjang pelatihan. Mereka aktif berdiskusi sekaligus merefleksikan praktik pengasuhan yang selama ini berlangsung di keluarga dan lingkungan masing-masing.

Pada akhir kegiatan, sejumlah peserta menyatakan komitmen untuk mulai mengubah pola pikir dan praktik pengasuhan, antara lain dengan menghindari komunikasi yang melukai, memberikan ruang kepada anak untuk menyampaikan pendapat serta mendampingi anak sesuai usia dan potensinya.

Pelatihan tersebut diharapkan menjadi awal lahirnya praktik pengasuhan baru di masyarakat, yakni pola asuh yang tetap berakar pada kearifan lokal, menjunjung keadilan gender, melindungi hak anak, serta memberikan ruang bagi setiap anak untuk tumbuh dan berkembang sesuai potensinya. (red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *