MGPA  

Astamaops Kapolri Soroti Detail Pengamanan MotoGP Mandalika

TFG: Asisten Utama Kapolri Bidang Operasi (Astamaops) Komjen Pol Roycke Harry Langie dan Polda NTB dalam kegiatan asistensi sekaligus Technical Floor Game (TFG) pengamanan MotoGP Mandalika 2026. (ist)

MATARAM (NTBNOW.CO)–Pengamanan MotoGP Mandalika 2026 tidak cukup hanya mengandalkan kekuatan personel. Setiap detail pergerakan orang, barang, lokasi, hingga rangkaian kegiatan harus dipetakan secara matang.

Hal itu menjadi sorotan Asisten Utama Kapolri Bidang Operasi (Astamaops) Komjen Pol Roycke Harry Langie saat melakukan asistensi sekaligus Technical Floor Game (TFG) pengamanan MotoGP Mandalika 2026, Kamis 1/10 di Mandalika.

TFG menjadi ajang simulasi visual untuk memastikan seluruh unsur pengamanan memahami tugas dan cara bertindak di lapangan. Mulai dari pengamanan peserta, penonton, VVIP dan VIP, fasilitas, jalur pergerakan, venue hingga kondisi darurat.

“Setiap kegiatan pengamanan ada empat sasaran utama. Yang pertama tentunya orang, mulai dari peserta, penonton, pejabat atau VVIP dan VIP. Ini harus dipastikan aman,” kata Roycke.

Sasaran berikutnya adalah barang atau fasilitas, lokasi, serta kegiatan. Keempatnya, kata dia, harus dirangkai dalam satu pola pengamanan yang jelas sejak tamu tiba hingga meninggalkan lokasi.

Dia meminta pola pengamanan di jalur kedatangan juga dibuat seefisien mungkin. Termasuk mengantisipasi penumpukan kendaraan saat rombongan VIP tiba di NTB.

“Kalau rangkaian, mungkin ada lima menteri atau VIP lainnya, mungkin para bupati, itu lebih bagus pakai commuter. Untuk apa? Untuk mengurai kemacetan supaya tidak terjadi penumpukan,” jelasnya.

Menurutnya, pengalaman penyelenggaraan MotoGP sebelumnya harus menjadi bahan evaluasi. Setiap potensi gangguan harus dipetakan dan dituangkan dalam rencana pengamanan (Renpam).

TFG, lanjut Roycke, menjadi implementasi dari Renpam tersebut. Pada forum itu akan terlihat siapa melakukan apa, termasuk cara bertindak masing-masing unsur pengamanan. “Supaya nanti dalam pelaksanaan kita tidak lagi meraba-raba,” tegasnya.

Tak hanya pola pengamanan, Roycke juga menyoroti penampilan personel yang bertugas di kawasan sirkuit. Menurut dia, MotoGP merupakan event olahraga internasional sekaligus bagian dari sektor pariwisata. Karena itu, kehadiran polisi di kawasan Mandalika harus mencerminkan keamanan sekaligus profesionalisme.

“Pariwisata itu salah satunya adalah nyaman, kemudian indah. Nah, polisi-polisinya harus terlihat bersih dan tentunya aman,” ujarnya.

Ia meminta perlengkapan dan pakaian personel yang bertugas di area sentral maupun dalam sirkuit diseragamkan. Jangan sampai ada perbedaan perlengkapan antarpersonel yang bertugas di titik pengamanan.

“Jangan ada satu pakai tongkat, satu tidak. Banyak orang luar atau luar negeri yang peralatan sudah begitu sesuai dengan tuntutan zaman,” katanya.

Roycke mencontohkan perlengkapan personel Pamovit maupun Sabhara yang dinilainya sudah cukup baik untuk mendukung pengamanan event internasional. “Diseragamkan,” pintanya.

Hal lain yang mendapat perhatian adalah pola pengamanan berlapis atau ring. Roycke meminta petugas di setiap ring memahami secara detail fungsi dan batas tanggung jawabnya.

Pemeriksaan terhadap orang dan barang, kata dia, harus sudah tuntas sebelum memasuki ring yang lebih dalam. Dengan demikian, tidak terjadi pemeriksaan berulang yang berpotensi menimbulkan antrean.

“Usahakan di ring 3 itu pengamanan sudah terurai. Artinya orang yang masuk, barang-barang yang boleh masuk ke dalam itu harus disampaikan oleh Humas,” tuturnya.

Informasi mengenai barang yang diperbolehkan dibawa ke dalam venue juga harus disampaikan kepada masyarakat sejak awal. Dengan begitu, saat memasuki ring berikutnya kondisi sudah steril.

“Sehingga pada saat dia masuk ring 2 atau seputaran di sirkuit, itu sudah clear. Ring 2 itu hanya pemantauan,” jelas Roycke.

Dia juga meminta personel yang bertanggung jawab pada pengaturan akhir jalur kedatangan benar-benar memahami isi Renpam. Penempatan petugas tidak harus terpaku pada satu titik, tetapi disesuaikan dengan kondisi arus kendaraan di lapangan.

Dalam kesempatan tersebut, Roycke turut menyoroti potensi kebakaran lahan. Saat tiba di NTB, dia melihat sejumlah titik yang dinilai berpotensi menjadi sumber kebakaran.

Karena itu, dia meminta potensi tersebut diantisipasi sejak dini dengan melibatkan pemerintah daerah dan pemadam kebakaran.

“Hotspot itu kebetulan karhutla ini di bawah kendali dalam operasi ini langsung di Astamaops. Jadi fire spot ini sebelumnya adalah hotspot,” ujarnya.

Dia menyarankan titik-titik yang berpotensi terbakar dibasahi terlebih dahulu untuk mencegah api muncul dan meluas.

“Teman-teman para Kapolres bisa menyampaikan kepada Bapak Bupati untuk minta Damkar disiram. Dibikin basah dulu, jangan sampai becek, supaya menghindari potensi karhutla atau kebakaran lahan,” tegasnya.

Sementara itu, Kapolda NTB Irjen Pol Kalingga Rendra Raharja mengatakan pengamanan MotoGP Mandalika 2026 telah dipersiapkan secara bertahap.

“Mandalika bukan sekadar agenda olahraga internasional. Event ini membawa nama Indonesia ke panggung dunia,” kata Kalingga.

Menurutnya, keamanan, keselamatan, dan kenyamanan seluruh tamu serta peserta menjadi bagian penting dari keberhasilan penyelenggaraan MotoGP.

Tahapan pengamanan diawali Operasi Krisna Mandalika Ring 2026 pada 14–27 September. Operasi tersebut melibatkan sekitar 200 personel dan difokuskan pada deteksi dini, pemetaan kerawanan, penggalangan, publikasi, kehumasan, serta dukungan operasi.

Selanjutnya, Operasi Cipta Mandalika Ring 2026 berlangsung pada 28 September–4 Oktober dengan kekuatan 500 personel. Pengamanan diarahkan untuk menjaga situasi kamtibmas di wilayah Lombok Tengah, Mataram, dan Lombok Barat.

“Di samping itu perlu kami laporkan bahwa 10 Polres lainnya juga melakukan operasi imbangan untuk terciptanya kondisi yang kondusif menjelang, selama dan setelah pelaksanaan MotoGP,” jelasnya.

Pengamanan utama kemudian dilaksanakan melalui Operasi Mandalika Ring 2026 pada 5–16 Oktober dengan kekuatan maksimal 2.678 personel.

Pengerahan personel dilakukan bertahap, yakni 1.356 personel pada 5–7 Oktober, kemudian meningkat menjadi 2.678 personel pada 8–12 Oktober, dan 851 personel pada 13–16 Oktober.

Kalingga mengatakan TFG menjadi momentum untuk menyatukan seluruh unsur pengamanan dalam satu pola operasi.

“Melalui TFG ini seluruh unsur tersebut diintegrasikan sehingga setiap unsur memiliki gambaran yang sama mengenai tugas, pola koordinasi, serta langkah yang dilakukan dalam menghadapi berbagai perkembangan di lapangan,” katanya.

Pemetaan pengamanan mencakup lalu lintas pergerakan penonton dan masyarakat, pengamanan venue serta jalur kegiatan, potensi gangguan kamtibmas hingga kemungkinan keadaan darurat dan bencana.

Kalingga menegaskan kesiapan tidak boleh berhenti pada dokumen perencanaan. Setiap personel harus mampu menerjemahkan rencana tersebut menjadi tindakan yang tepat, akurat, dan terukur.

“Pada akhirnya keberhasilan pengamanan bukan semata ditandai dengan tidak terjadinya gangguan, tetapi juga dengan terjaminnya seluruh rangkaian MotoGP berlangsung dengan aman, tertib dan lancar,” ujarnya.

Polda NTB juga telah melaksanakan simulasi operasi kontingensi beberapa hari sebelumnya. Simulasi tersebut menjadi bagian dari kesiapan menghadapi berbagai kemungkinan gangguan selama pelaksanaan MotoGP.

“Mari kita amankan Mandalika, kita jaga kepercayaan dunia dan kita buktikan bahwa Indonesia mampu menjadi tuan rumah yang aman, profesional dan berkelas dunia,” pungkasnya. (can)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *