Tim Riset UIN Mataram Uji Coba Modul Pengasuhan Nirkekerasan di KSB

Perwakilan tim peneliti, Dr. Syukri, M.Ag., (kiri) menjelaskan kegiatan itu merupakan bagian dari riset multi-tahun. (ist)

TALIWANG, KSB (NTBNOW.CO) — Upaya mencegah kekerasan terhadap anak terus diperkuat di Nusa Tenggara Barat (NTB). Tim Peneliti MoRA The AIR Funds Kemenag RI–LPDP UIN Mataram bersama Pemerintah Kecamatan Taliwang, Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), menggelar sosialisasi dan uji coba Modul Pengasuhan Berbasis Gender dan Kearifan Lokal, Kamis (12/8/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Kantor Kecamatan Taliwang tersebut diikuti 20 peserta dari berbagai unsur, mulai dari guru, ibu rumah tangga, penghulu, calon pengantin, aktivis perlindungan anak dan perempuan, Fatayat NU hingga aparat kecamatan.

Modul ini dirancang untuk mendorong pola asuh yang aman, responsif gender, serta mengintegrasikan nilai-nilai kearifan lokal masyarakat Sasak, Samawa, dan Mbojo-Dompu sebagai bagian dari upaya pencegahan kekerasan terhadap anak.

Bagian dari Riset Multi-Tahun

Mewakili Camat Taliwang Nurifah Irma Suryani, S.STP., M.M.Inov., kegiatan resmi dibuka pukul 08.00 WITA. Ia mengapresiasi dipilihnya Kecamatan Taliwang sebagai lokasi uji coba modul.

Irma berharap materi yang diberikan dapat diterapkan dalam keluarga dan lingkungan masyarakat, mengingat kekerasan terhadap anak dapat terjadi di rumah tangga, masyarakat, lembaga pendidikan hingga media sosial.

Perwakilan tim peneliti, Dr. Syukri, M.Ag., menjelaskan kegiatan tersebut merupakan bagian dari riset multi-tahun. Tahun pertama difokuskan pada pengumpulan data lapangan dan penyusunan draf modul, sedangkan tahun kedua memasuki tahap sosialisasi serta uji coba langsung di sejumlah komunitas di NTB.

Bahas Pola Asuh dan Hak Anak

Dalam kegiatan tersebut, peserta diajak memahami perbedaan antara jenis kelamin biologis atau seks dengan gender yang berkaitan dengan peran sosial dan budaya.

Materi juga menekankan pentingnya pemenuhan hak anak. Anak tidak semestinya hanya diperintah atau dimarahi ketika melakukan kesalahan, tetapi perlu diajak berbicara dan didengarkan pendapatnya.

Peserta juga mempelajari berbagai bentuk pola asuh serta kekerasan terhadap anak, mulai dari kekerasan fisik seperti memukul dan mencubit, kekerasan verbal berupa bentakan, kekerasan psikologis seperti mengabaikan anak, hingga kekerasan ekonomi.

Kearifan Lokal Sumbawa Jadi Bagian Modul

Salah satu materi penting adalah integrasi kearifan lokal dalam pola asuh. Nilai-nilai positif masyarakat Sumbawa Barat digali untuk mengurangi bias gender dan mencegah potensi kekerasan terhadap anak.

Salah satu nilai yang diperkenalkan adalah “Adat Barenti ko Syara’, Syara’ Barenti ko Kitabullah”, yang bermakna adat berpegang pada syara’ dan syara’ berpegang pada Kitabullah.

Selain itu, terdapat nilai “Taket ko Nene’ Kangila Bowat Lenge”, yang mengandung pesan untuk takut kepada Tuhan dan malu berbuat buruk.

Peserta Antusias

Kegiatan mendapat respons positif dari peserta. Materi dinilai aplikatif karena tidak hanya membahas konsep pengasuhan, tetapi juga memberikan pemahaman mengenai kearifan lokal dan langkah konkret yang dapat diterapkan dalam keluarga serta komunitas.

Salah seorang peserta, Yanuar, menilai diskusi interaktif memberikan wawasan baru mengenai pengasuhan dan kearifan lokal. Peserta lainnya, Hendrik, menyatakan berkomitmen menerapkan materi tersebut dalam keluarga dan menyampaikannya kepada komunitas masyarakat.

Untuk mengukur efektivitas kegiatan, tim peneliti melakukan pre-test dan post-test. Evaluasi lanjutan juga dijadwalkan dua bulan setelah kegiatan untuk melihat dampak jangka panjang penerapan modul. (red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *