News  

PRSU di Medan Baru Separuh Jalan: Ferry dan EO Jangan Terjebak Selebrasi, Nama Besar Bobby Masih Dipertaruhkan

Apresiasi terhadap berbagai capaian awal Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) ke-50 di Medan tentu patut diberikan. Antusiasme masyarakat, dukungan berbagai pihak, hingga mulai terlihatnya arah transformasi merupakan modal penting bagi penyelenggaraan tahun ini.

Namun, dalam sebuah event berskala besar yang berlangsung selama satu bulan, keberhasilan tidak dapat disimpulkan hanya dari dinamika pada separuh perjalanan.

Justru fase inilah yang paling menentukan arah akhir penyelenggaraan.

Karena itu, Ferry Indra bersama event organizer (EO) diharaapkan tidak terjebak selebrasi. Istilah berselebrasi dalam tulisan ini bukan dimaksudkan bahwa penyelenggara telah menyatakan diri berhasil, melainkan sebagai pengingat agar berbagai capaian awal tidak mengurangi ketajaman dalam melakukan evaluasi.

Dalam manajemen sebuah event besar, euforia di pertengahan jalan justru dapat menjadi jebakan yang membuat berbagai persoalan yang masih memerlukan pembenahan luput dari perhatian.

*(Tidak Sederhana)*

Apalagi sejak awal, PRSU ke-50 tidak dibebani target yang sederhana. Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution telah meletakkan visi yang jauh lebih besar.

PRSU tidak lagi ingin dipersepsikan sebagai pasar malam, melainkan ditransformasikan menjadi trade fair, etalase budaya, ruang promosi investasi, panggung ekonomi kreatif, dan wajah baru Sumatera Utara.

Visi sebesar itu tidak mungkin diukur hanya dari ramainya satu atau dua konser artis nasional ataupun meningkatnya jumlah pengunjung pada hari-hari tertentu.

Harus diakui, sejumlah capaian awal patut diapresiasi. Dukungan Komisi VII DPR RI agar PRSU masuk kalender event nasional merupakan sinyal positif.

Kehadiran 33 paviliun kabupaten/kota, partisipasi Pulau Pinang, Malaysia, dominasi konten lokal, hingga meningkatnya antusiasme masyarakat menunjukkan bahwa arah perubahan mulai terlihat.

Namun, seluruh capaian tersebut baru merupakan modal awal, bukan garis akhir.

Masih ada sejumlah indikator yang harus diuji secara jujur dan objektif.

Apakah target kunjungan benar-benar tercapai? Bagaimana kualitas pelayanan yang dirasakan pengunjung? Seberapa besar transaksi UMKM yang tercipta? Apakah seluruh paviliun dan stan mampu beroperasi secara konsisten sesuai jam layanan? Bagaimana tingkat kepuasan masyarakat terhadap fasilitas, parkir, keamanan, kebersihan, dan kenyamanan kawasan? Apakah wajah baru PRSU benar-benar dirasakan publik, atau masih menjadi sebuah proses transformasi yang terus disempurnakan?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang seharusnya menjadi agenda evaluasi harian Ferry dan EO. Sebab, keberanian mengevaluasi jauh lebih penting daripada terburu-buru membangun narasi keberhasilan.

Di sinilah kepemimpinan diuji. Pemimpin yang kuat bukanlah mereka yang paling cepat menyatakan diri berhasil, melainkan mereka yang paling cepat menemukan kekurangan untuk segera diperbaiki.

Dalam penyelenggaraan event berskala besar, kritik bukan ancaman. Kritik merupakan instrumen pengendalian mutu agar penyelenggaraan terus bergerak menuju standar yang lebih baik.

Lebih penting lagi, yang sedang dijaga bukan semata reputasi PT Pembangunan Prasarana Sumatera Utara (Perseroda) sebagai penyelenggara ataupun nama baik EO.

Yang juga dijaga adalah kredibilitas agenda transformasi PRSU sebagai bagian dari arah pembangunan yang diusung Pemerintah Provinsi Sumatera Utara.

(*Persepsi Publik)*

Dalam persepsi publik, penyelenggara dan pemerintah sering kali dipandang sebagai satu kesatuan. Masyarakat tidak selalu membedakan secara rinci siapa pengambil kebijakan, siapa pelaksana teknis, dan siapa mitra penyelenggara.

Yang mereka nilai adalah hasil akhirnya. Karena itu, kualitas penyelenggaraan PRSU pada akhirnya akan ikut memengaruhi cara publik memandang keseriusan pemerintah dalam mewujudkan visi besar yang telah disampaikan kepada masyarakat.

Apabila penyelenggaraan terus membaik hingga penutupan, kepercayaan publik terhadap arah transformasi tersebut tentu akan semakin menguat. Sebaliknya, apabila berbagai catatan di lapangan tidak segera dibenahi, ruang kritik akan tetap terbuka.

Karena itulah evaluasi yang jujur menjadi jauh lebih penting daripada rasa puas atas capaian sementara.

Paruh kedua penyelenggaraan PRSU seharusnya menjadi fase paling menentukan. Bukan fase untuk menikmati berbagai pujian, melainkan momentum memperkuat disiplin operasional, memperbaiki berbagai kekurangan, memastikan seluruh peserta mematuhi jam operasional, meningkatkan kualitas pelayanan, serta menjaga pengalaman terbaik bagi setiap pengunjung.

Pada akhirnya, sejarah tidak akan mencatat seberapa sering penyelenggara menyatakan bahwa PRSU telah berubah. Sejarah akan mencatat apakah perubahan itu benar-benar dirasakan masyarakat. Ukuran keberhasilan bukanlah euforia di pertengahan perjalanan, melainkan kemampuan menyelesaikan seluruh rangkaian PRSU dengan kualitas yang konsisten hingga hari terakhir.

Di situlah letak pertaruhan yang sesungguhnya. Bukan hanya bagi Ferry Indra dan EO sebagai penyelenggara, tetapi juga bagi terwujudnya visi besar Bobby Nasution yang ingin mengangkat PRSU menjadi kebanggaan Sumatera Utara dan berkembang sebagai trade fair yang profesional, modern, serta layak diperhitungkan di tingkat nasional. *(zulfikar tanjung bersertifikat wartawan utama dewan pers)*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *