MATARAM (NTBNOW.CO) – Forum Silaturahmi Keluarga Ranggagata (FSKR) kembali menggelar pengajian bulanan yang dirangkaikan dengan kegiatan halal bihalal. Acara kali ini berlangsung di kediaman salah satu anggota, H. Usman, di wilayah Rembiga, dengan suasana penuh kehangatan dan kekeluargaan.

Ketua FSKR, H Maskur, menyampaikan bahwa selain pengajian rutin, pihaknya juga tengah merencanakan agenda besar menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram. Salah satu rencana yang akan dimusyawarahkan adalah pelaksanaan takbir akbar sebagai bagian dari syiar keagamaan di tengah masyarakat.
Ia juga mengingatkan bahwa sebelumnya, pada bulan Ramadan, FSKR telah melaksanakan kegiatan sosial berupa penyaluran 204 paket santunan bagi anak yatim di Ranggagata. Kegiatan ini menjadi bukti komitmen FSKR dalam memperkuat kepedulian sosial dan semangat berbagi.
Dalam pengajian tersebut, hadir sebagai penceramah TGH Nasrullah yang menyampaikan tausiah tentang makna halal bihalal. Ia menjelaskan bahwa secara istilah, halal bihalal tidak ditemukan dalam kamus bahasa Arab, namun esensinya sangat dekat dengan konsep silaturahmi.

“Halal bihalal dimaknai sebagai upaya saling melepaskan kesalahan dan sakit hati. Kata ‘halal’ sendiri berarti melepaskan atau mengikhlaskan,” ujarnya, Minggu (19/4).
Ia menegaskan bahwa momentum halal bihalal harus dimanfaatkan untuk saling memaafkan, berjabat tangan, dan mendoakan satu sama lain. Bahkan, dalam sebuah hadis disebutkan bahwa dosa-dosa dapat gugur ketika dua orang saling berjabat tangan dengan niat tulus hingga mereka berpisah.

Lebih lanjut, TGH Nasrullah mengingatkan agar umat tidak menunda untuk meminta maaf. “Jangan menunggu ajal datang baru meminta maaf. Selagi masih ada kesempatan, perbaiki hubungan dengan sesama,” pesannya.
Menurutnya, dampak dari halal bihalal yang dilakukan dengan ikhlas dapat meningkatkan kualitas ibadah seseorang. Hal ini juga sejalan dengan makna bulan Ramadan dan Syawal sebagai momentum memperbaiki hubungan dengan Allah SWT dan sesama manusia.

Ia juga menekankan pentingnya percepatan dalam berbuat kebaikan. “Kebaikan yang ditunda belum tentu bisa dilakukan di kemudian hari. Karena itu, teruslah berinfak dan bersedekah, serta kendalikan emosi dan amarah,” tambahnya.
Kegiatan ini diharapkan mampu mempererat tali silaturahmi antaranggota FSKR sekaligus menjadi pengingat bahwa sebagai manusia, tidak lepas dari kesalahan dan dosa. Oleh karena itu, budaya saling memaafkan dan mendoakan harus terus dijaga dalam kehidupan sehari-hari. (red)












