Menpar Sumbang 15 Alat Tenun untuk Warga Terdampak Kebakaran Sade

LOMBOK TENGAH (NTBNOW.CO)–Upaya pemulihan Desa Adat Sade, Lombok Tengah pascakebakaran mulai diarahkan tidak hanya pada pembangunan rumah yang hangus. Pemerintah juga menaruh perhatian pada pemulihan ekonomi warga, khususnya para perajin tenun yang kehilangan tempat dan sarana produksi.

Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengatakan pihaknya sudah menyerahkan bantuan 15 unit alat tenun kepada warga terdampak kebakaran. Bantuan tersebut diharapkan bisa mempercepat aktivitas para perajin, terutama ibu-ibu yang selama ini menggantungkan pendapatan dari kerajinan tenun.

“Tenun secepatnya pulih lagi. Kami tadi sudah donasikan alat tenun, ada 15 unit yang kami kumpulkan untuk ibu-ibu, dan sudah kami serahkan,” kata Widiyanti, Kamis 27/8.

Dia menyebut, kebutuhan alat tenun di Sade masih cukup besar. Dari pendataan sementara, sedikitnya dibutuhkan sekitar 60 unit alat tenun untuk membantu menghidupkan kembali aktivitas kerajinan warga.

“ Yang dibutuhkan itu ada 60, nanti kami akan donasikan lagi secepatnya,” ucapnya.

Menurutnya, pemulihan Sade harus dilakukan secara menyeluruh. Bukan hanya membangun kembali rumah adat yang terbakar, tetapi juga memastikan roda ekonomi masyarakat kembali bergerak.

Kementerian Pariwisata, lanjutnya, juga akan mengoptimalkan program desa wisata untuk mendukung proses pemulihan Sade. Sejumlah program seperti pelatihan serta pembinaan akan diarahkan untuk membantu masyarakat mengembangkan kembali potensi pariwisata dan ekonomi kreatif.

“Dari kami juga ada program desa wisata dan ada mitra yang bisa kita ajak untuk sama-sama membina dan membangun desa wisata, termasuk Desa Sade, seperti pelatihan dan program lainnya,” ujarnya.

Di sisi lain, pemerintah juga tengah mengkaji rencana pemulihan kawasan Sade setelah kebakaran menghanguskan puluhan rumah adat. Widiyanti menyebut terdapat sekitar 75 rumah adat yang terdampak dan perlu dikaji kembali untuk pembangunan.

Tak hanya rumah adat, fasilitas pendukung seperti masjid dan museum juga menjadi bagian dari rencana pemulihan. Bahkan, pemerintah menyiapkan konsep museum sementara agar aktivitas pariwisata tetap berjalan selama proses pembangunan.

“Ini akan dikaji lagi untuk 75 rumah adat yang hangus. Masjid dan museum akan dibuat sementara agar wisatawan bisa melihat historisnya dan memberikan pemasukan untuk Desa Sade,” jelasnya.

Widiyanti menegaskan, pemerintah belum dapat memastikan besaran anggaran pembangunan kembali kawasan tersebut. Kajian teknis melalui Detail Engineering Design (DED) harus diselesaikan terlebih dahulu agar kebutuhan pembiayaan dapat dihitung secara akurat.

“Untuk biayanya kami tidak bisa ekspos sekarang karena takutnya tidak akurat. Kami harus membuat DED-nya dulu,” tuturnya.

Pembiayaan pemulihan Sade nantinya tidak hanya mengandalkan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN). Pemerintah akan membuka peluang kolaborasi dengan pihak swasta, mitra pariwisata, pemerintah daerah, maupun pihak lain yang memiliki kepedulian terhadap keberlangsungan Desa Adat Sade.

“Kami akan berupaya sebisa mungkin untuk menggalang dana untuk pemulihan Sade,” tegasnya.

Kementerian Pariwisata juga akan berperan dalam mengoordinasikan proses pemulihan bersama pemerintah daerah. Di saat yang sama, promosi kepada wisatawan akan terus dilakukan untuk memastikan Sade tetap menjadi bagian dari tujuan wisata di Lombok.

“Peran kami mengoordinasikan terutama dengan pemda dan juga memberikan informasi kepada wisatawan bahwa Desa Sade ini akan dibangun kembali,” pungkasnya. (can)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *