MATARAM (NTBNOW.CO)– Badan Pusat Statistik (BPS) Nusa Tenggara Barat (NTB) mencatat nilai Inflasi tahunan pada Agustus 2026 menembus 4,03 persen. Angka tersebut menjadi alarm bagi pemerintah karena tekanan harga berpotensi menggerus daya beli masyarakat.
Namun, inflasi tinggi itu belum menunjukkan ekonomi NTB sedang kehilangan tenaga. Sejumlah indikator justru memperlihatkan aktivitas ekonomi masih bergerak positif.
Seperti Nilai Tukar Petani (NTP) menguat menjadi 129,67. Kunjungan wisatawan nusantara mencapai 1,41 juta orang. Sementara nilai ekspor sepanjang Januari–Juli 2026 melonjak 38,90 persen secara tahunan.
Kepala BPS NTB Dr. Drs. Wahyudin menyebutkan inflasi year on year (y-on-y) NTB pada Agustus 2026 mencapai 4,03 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) 112,85.
Kota Bima mencatat inflasi tertinggi sebesar 4,49 persen. Sedangkan Kota Mataram menjadi daerah dengan inflasi terendah, yakni 3,95 persen.
Secara bulanan, inflasi Agustus berada di level 0,57 persen. Sementara secara year to date (y-to-d), inflasi tercatat 2,35 persen,” kata Wahyudin, Selasa 1/9.
Dia menyebutkan, tekanan terbesar datang dari kelompok makanan, minuman dan tembakau. Kelompok ini mengalami inflasi 4,82 persen. Sejumlah bahan pangan menjadi pemicu. Di antaranya daging ayam ras, cabai rawit dan beberapa jenis ikan. Pergerakan harga komoditas tersebut dipengaruhi dinamika permintaan, produksi hingga kondisi cuaca.
Meski demikian, tidak semua harga bergerak naik. Penurunan harga tomat, bawang merah, bawang putih, biaya sekolah menengah atas serta bensin ikut menahan laju inflasi.
Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik NTB Ahsanul Khalik menilai angka inflasi harus menjadi alarm bagi pemerintah.
Namun, alarm tersebut tidak boleh membuat pemerintah hanya melihat ekonomi dari sisi kenaikan harga.
“Inflasi adalah alarm. Karena itu harus kita jawab dengan pengendalian harga yang lebih kuat. Tetapi kita juga harus melihat indikator ekonomi secara utuh,” katanya.
Salah satu indikator yang menunjukkan ekonomi masyarakat masih memiliki tenaga adalah NTP.
Pada Agustus, NTP NTB mencapai 129,67, naik 1,44 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Kenaikan tersebut terutama ditopang indeks harga yang diterima petani (It) yang tumbuh 1,51 persen. Sedangkan indeks harga yang dibayar petani (Ib) hanya naik 0,07 persen. Artinya, harga yang diterima petani tumbuh jauh lebih cepat dibandingkan biaya yang harus mereka keluarkan.
Lima subsektor bahkan mencatat NTP di atas 100. Tanaman pangan berada di angka 125,93, hortikultura 189,58, tanaman perkebunan rakyat 111,09, peternakan 118,96 dan perikanan 113,16. Kondisi tersebut menjadi modal penting di tengah tekanan inflasi.
“Ketika harga yang diterima petani tumbuh lebih tinggi daripada harga yang mereka bayar, daya tukarnya membaik. Ini menjadi salah satu modal penting bagi ketahanan ekonomi masyarakat,” ujar Aka.
Tenaga ekonomi NTB juga terlihat dari sektor pariwisata. BPS mencatat Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel bintang pada Juli 2026 mencapai 51,54 persen. Angka tersebut naik 6,68 poin dibandingkan Juni dan meningkat 1,62 poin dibandingkan Juli 2025.
Jumlah wisatawan nusantara bahkan mencapai 1.410.478 orang. Naik 15,95 persen dibandingkan Juli 2025.
Sementara wisatawan mancanegara yang masuk melalui Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (BIZAM) mencapai 9.039 orang. Angka tersebut meningkat 29,50 persen dibandingkan Juni.
Mobilitas masyarakat ikut terdongkrak.
Penumpang yang datang melalui angkutan laut pada Juli meningkat 26,52 persen secara bulanan. Penumpang yang berangkat naik 23,57 persen.
Di sektor penerbangan domestik, penumpang datang mencapai 129.516 orang atau tumbuh 20,59 persen dibandingkan Juni. Penumpang berangkat sebanyak 125.228 orang, naik 19,57 persen.
Sinyal positif lainnya datang dari perdagangan luar negeri. Nilai ekspor NTB sepanjang Januari–Juli 2026 mencapai US$166,08 juta. Angka itu tumbuh 38,90 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Tembaga masih menjadi komoditas ekspor terbesar pada Juli dengan kontribusi mencapai 93,55 persen. Disusul perhiasan dan permata serta ikan dan udang.
Pasar utama ekspor NTB antara lain Tiongkok, Thailand, Korea Selatan, Vietnam dan Taiwan.
Di sisi lain, impor justru mengalami penurunan. Nilai impor Januari–Juli 2026 tercatat US$47,87 juta atau turun 72,03 persen secara tahunan.
Bagi Pemprov NTB, rangkaian angka tersebut memperlihatkan wajah ekonomi daerah yang tidak tunggal.
Ada tekanan harga yang harus segera direspons. Tetapi di saat bersamaan, sektor produksi, pariwisata, mobilitas hingga ekspor masih bergerak.
“Inflasi harus kita kendalikan karena menyangkut daya beli masyarakat. Tetapi NTP yang menguat, pariwisata yang tumbuh, mobilitas yang meningkat dan ekspor yang melonjak menunjukkan bahwa kita memiliki daya tahan ekonomi,” ucapnya.
Karena itu, pengendalian inflasi tidak bisa dilakukan dengan mengorbankan sektor produktif.
Pemerintah dituntut menjaga pasokan dan distribusi pangan. Pada saat bersamaan, produksi pertanian harus diperkuat, sektor pariwisata terus dikembangkan dan nilai tambah komoditas ditingkatkan. Sebab, menjaga harga saja tidak cukup. Ekonomi juga harus terus menghasilkan pendapatan bagi masyarakat.
Dia menegaskan Pemprov NTB tidak ingin mengabaikan inflasi. Namun, pemerintah juga tidak ingin mengambil kesimpulan bahwa ekonomi sedang melemah hanya berdasarkan satu indikator.
“Alarmnya harus kita dengarkan, tetapi kita juga harus tahu bahwa kita punya modal untuk menjawabnya. Tugas pemerintah adalah menjaga harga, memperkuat produksi dan memastikan pertumbuhan ekonomi memberi manfaat yang semakin luas kepada masyarakat,” pungkasnya. (can)










