LOMBOK TENGAH (NTBNOW.CO) — Pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mempercepat pemulihan Desa Adat Sade, Lombok Tengah, pascakebakaran yang menghanguskan puluhan rumah adat.
Pemulihan Desa Adat Sade tidak hanya diarahkan pada penanganan darurat, tetapi juga mencakup rekonstruksi jangka menengah dan panjang. Pemerintah ingin aktivitas ekonomi, pendidikan, serta pariwisata masyarakat kembali berjalan secara bertahap.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana meninjau langsung kondisi Desa Adat Sade, Kamis (27/8/2026). Dalam kunjungan tersebut, Widiyanti bertemu Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal, pemerintah daerah, dan masyarakat terdampak untuk membahas langkah percepatan pemulihan.
Widiyanti mengatakan, kebutuhan kemanusiaan bagi warga terdampak telah ditangani. Selanjutnya, pemerintah mulai memfokuskan perhatian pada pemulihan kehidupan masyarakat dan aktivitas ekonomi di Desa Adat Sade.
“Kami akan berfokus ke jangka menengah dan jangka panjangnya, supaya masyarakat Desa Sade ini bisa kembali aktif bekerja, ibu-ibu kembali menenun, dan anak-anak kembali sekolah,” kata Widiyanti.
Untuk memastikan program pemulihan tepat sasaran, pemerintah daerah diminta melakukan pendataan secara menyeluruh terhadap warga yang terdampak kebakaran.
Pendataan tersebut mencakup identitas warga hingga jumlah pekerja yang kehilangan mata pencaharian akibat musibah kebakaran.
Menurut Widiyanti, data yang akurat menjadi dasar penting dalam menentukan bentuk bantuan dan program pemulihan. Pemerintah juga menyiapkan mekanisme pengelolaan donasi agar bantuan dari berbagai pihak dapat dihimpun dan digunakan secara terarah.
“Membangun Desa Adat Sade ini tidak murah. Kami akan berupaya sebisa mungkin untuk menggalang dana dan melihat mana yang terus membantu untuk pembangunan,” ujarnya.
75 Rumah Adat Akan Direkonstruksi
Kebakaran menyebabkan sekitar 75 rumah adat di Desa Sade hangus. Selain rumah warga, sejumlah fasilitas penting seperti masjid dan museum juga menjadi bagian dari perhatian pemerintah.
Widiyanti mengatakan pembangunan kembali tidak boleh dilakukan secara tergesa-gesa. Rekonstruksi harus memiliki perencanaan yang matang melalui penyusunan master plan dan desain teknis.
“Ini akan dikaji lagi untuk 75 rumah adat yang hangus. Masjid dan museum akan dibuat sementara agar wisatawan bisa melihat historisnya dan memberikan pemasukan untuk Desa Sade,” jelasnya.
Pembangunan fasilitas sementara tersebut diharapkan dapat membantu mempertahankan aktivitas wisata sekaligus membuka kembali sumber pendapatan masyarakat selama proses rekonstruksi berlangsung.
Pemulihan Desa Adat Sade juga diarahkan menjadi momentum untuk meningkatkan aspek keselamatan kawasan. Pemerintah berencana memasukkan teknologi serta infrastruktur keselamatan dalam perencanaan pembangunan kembali.
Langkah tersebut diharapkan dapat menjadi pembelajaran bagi desa adat lainnya yang memiliki risiko serupa.
“Master plan ini harus menjadi alat proyek bagi desa-desa adat lainnya yang rawan kebakaran atau musibah,” tutur Widiyanti.
Dengan demikian, rekonstruksi Sade tidak hanya mengembalikan bangunan yang rusak, tetapi juga memperkuat ketahanan kawasan terhadap potensi bencana di masa mendatang.
Rekonstruksi Tidak Hanya Mengandalkan APBN
Pemerintah memastikan pembiayaan pembangunan kembali Desa Adat Sade tidak hanya bergantung pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Kolaborasi akan dibangun dengan pemerintah daerah, sektor swasta, mitra pariwisata, serta berbagai pihak lainnya.
“Tentunya ini tidak hanya APBN. Ini semua akan melibatkan swasta, mitra-mitra, pemerintah dan yang lainnya,” kata Widiyanti.
Sementara itu, Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal menegaskan bahwa penanganan masyarakat terdampak tetap menjadi prioritas pemerintah.
“Yang jelas masalah kemanusiaan itu sudah tertangani dengan baik dan insyaallah kami akan terus tangani situasi kemanusiaannya,” ujar Iqbal.
Iqbal menegaskan, pembangunan kembali Desa Adat Sade tidak boleh sekadar mengganti rumah-rumah yang terbakar. Rekonstruksi harus mempertahankan nilai sejarah, budaya, dan peradaban masyarakat Sade.
Menurutnya, Desa Adat Sade merupakan bagian penting dari identitas budaya dan pariwisata NTB.
“Sade ini tidak hanya sekadar tempat tinggal. Yang akan kita rekonstruksi di sana adalah rekonstruksi sejarah, peradaban, harapan-harapan masyarakat di situ, tetapi dengan versi yang lebih baik dari sebelumnya,” tegasnya.
Pemerintah pun menargetkan proses pembangunan dapat dipercepat tanpa menghilangkan karakter asli Desa Adat Sade.
“Intinya kita akan melakukan percepatan dalam upaya membangun kembali Desa Adat Sade untuk lebih baik,” pungkasnya. (can)












