Proposal Bukan Masalah, Independensi Itulah Ujiannya

Abdus Syukur. (Foto: dokumen pribadi)

Oleh: Abdus Syukur

Ada yang bertanya kepada saya. Apakah organisasi wartawan boleh mengajukan proposal kepada pemerintah atau perusahaan untuk membiayai kegiatannya?

Saya balik bertanya. Lalu, dari mana organisasi harus membiayai kegiatannya? Organisasi profesi bukan perusahaan. Ia tidak menjual produk. Tidak mengejar laba. Yang dimilikinya hanyalah anggota, semangat, dan program kerja. Ketika ingin menyelenggarakan pelatihan, uji kompetensi, bakti sosial, atau pekan olahraga wartawan, tentu dibutuhkan biaya.

Maka proposal menjadi salah satu ikhtiar. Bukan sesuatu yang harus disembunyikan. Yang harus dijaga justru sesudah proposal itu diterima. Jangan sampai bantuan berubah menjadi utang budi. Jangan sampai dukungan berubah menjadi kewajiban untuk memuji. Lebih buruk lagi, jangan sampai kritik menjadi tumpul hanya karena pernah menerima bantuan.

Di situlah sesungguhnya Kode Etik Jurnalistik bekerja. Kode etik tidak melarang organisasi mencari dukungan. Yang dijaga adalah kemerdekaan wartawan dalam menjalankan profesinya. Berita tidak boleh diperjualbelikan. Fakta tidak boleh ditukar dengan fasilitas. Kritik tidak boleh berhenti karena kedekatan.

Organisasi profesi dan ruang redaksi adalah dua hal yang berbeda. Yang satu mengurus pembinaan organisasi. Yang lain mengurus kepentingan publik melalui karya jurnalistik. Keduanya tidak boleh saling mencampuradukkan fungsi.

Olahraga wartawan sendiri bukan sekadar pertandingan. Di dalamnya ada persahabatan yang dipererat, kesehatan yang dijaga, dan solidaritas yang dirawat. Wartawan pun manusia. Mereka membutuhkan ruang untuk beristirahat sejenak dari rutinitas liputan yang penuh tekanan.

Karena itu, dukungan pemerintah maupun dunia usaha terhadap kegiatan organisasi bukanlah sesuatu yang keliru. Selama dilakukan secara terbuka, dipertanggungjawabkan dengan baik, dan tidak disertai syarat yang mengganggu independensi, dukungan itu justru menjadi bentuk partisipasi dalam membangun kehidupan pers yang sehat.

Pada akhirnya, marwah wartawan tidak ditentukan oleh siapa yang membantu kegiatan organisasinya. Marwah wartawan ditentukan oleh satu hal yang jauh lebih mahal. Keberanian untuk tetap menulis apa adanya, meskipun yang dikritik adalah mereka yang pernah berdiri di samping kita.

Sebab kepercayaan publik selalu lebih berharga daripada bantuan sebesar apa pun.

**Ketua DK Provinsi NTB

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *