ParTha Dorong Mahasiswa Jadi Mata dan Telinga Cegah Perdagangan Orang di Era Digital

SEMINAR TPPO: Yayasan ParTha usai memberikan seminar kepada mahasiswa Unram berkaitan “Perdagangan Orang di Era Digital”. (susan/ntbnow.co)

MATARAM (NTBNOW.CO)– Yayasan Parinama Astha (ParTha) mendorong mahasiswa dan generasi muda di Nusa Tenggara Barat (NTB) menjadi bagian dari sistem peringatan dini untuk mencegah tindak pidana perdagangan orang (TPPO). Terutama yang menggunakan media digital sebagai sarana perekrutan.

Ketua Yayasan Parinama Astha (ParTha), Rahayu Saraswati, mengatakan peningkatan literasi digital menjadi penting karena perkembangan internet dan media sosial turut membuka ruang bagi pelaku perdagangan orang untuk menjaring korban.

Hal itu disampaikan Rahayu dalam kegiatan Youth Seminar Generation Safe Online bertajuk “Perdagangan Orang di Era Digital” di Kampus Universitas Mataram, NTB, Rabu, 12/8.

“Melihat kondisi yang ada di NTB, kerentanan memang sangat tinggi, apalagi dengan adanya masuknya internet dan juga penggunaan media sosial jika tidak difilter,” kata Rahayu.

Menurutnya, kerentanan tersebut dapat meningkat apabila masyarakat, terutama anak muda, tidak memiliki pengetahuan yang cukup untuk mengenali modus perdagangan orang. Salah satu modus yang perlu diwaspadai adalah tawaran pekerjaan di luar negeri melalui media sosial.

Rahayu mencontohkan kasus penipuan berkedok tawaran kerja atau scamming. Korban kerap tergiur tawaran bekerja di luar negeri tanpa melakukan pemeriksaan terhadap perusahaan, agen, maupun prosedur keberangkatan.

“Kita melihat banyak ada kasus-kasus scamming, jadi banyak yang tertipu dengan ajakan untuk bisa bekerja tapi di negara lain, tapi tidak dilakukan riset terlebih dahulu, langsung mereka percaya saja,” ujarnya.

Ia menuturkan, peningkatan kesadaran tidak hanya bertujuan mencegah mahasiswa menjadi korban, tetapi juga menjadikan mereka bagian dari upaya pencegahan dan pelaporan.

Rahayu mengajak mahasiswa menjadi “mata dan telinga” di lingkungan masing-masing untuk mengenali potensi perdagangan orang sejak dini.

“Mereka harus menjadi mata dan telinga, mereka juga bisa menjadi bagian dari pencegahan, mereka juga bisa bagian dari pelaporan,” tuturnya.

Ia berharap mahasiswa Universitas Mataram dapat menjadi penggerak di komunitasnya masing-masing. Pengetahuan mengenai TPPO, kata dia, juga dapat dikembangkan melalui penelitian akademik, termasuk skripsi maupun disertasi.

Isu tersebut, kata dia relevan bagi NTB karena daerah ini memiliki jumlah pekerja migran yang cukup besar. Persoalannya bukan hanya keberangkatan melalui jalur resmi, tetapi juga keberangkatan secara nonprosedural yang meningkatkan risiko menjadi korban perdagangan orang.

“NTB dengan adanya tingkat pekerja migran yang cukup besar, dan ini kan bukan hanya yang jalur formal tapi juga yang non-prosedural. Itu juga sangat besar,” ucapnya.

Rahayu juga mendorong Universitas Mataram memasukkan edukasi pencegahan perdagangan orang dalam kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Mahasiswa dinilai memiliki posisi strategis untuk memberikan edukasi langsung kepada masyarakat di desa.

Menurut dia, desa tidak cukup hanya diarahkan menjadi desa migrasi aman atau safe migration. Masyarakat juga perlu dibangun menjadi komunitas yang memiliki sistem perlindungan terhadap perdagangan orang.

“Yang di mana kita perlu bukan hanya desa-desa imigrasi atau safe migration, tapi juga harus desa-desa aman perdagangan orang supaya masyarakatnya bisa terlindungi,” katanya.

Ia menilai kerentanan ekonomi merupakan salah satu faktor yang membuat seseorang mudah dijerat oleh pelaku perdagangan orang. Karena itu, pencegahan harus berjalan beriringan dengan penguatan ekonomi masyarakat dan penciptaan lapangan kerja.

“Anak-anak muda mudah-mudahan bisa menciptakan lapangan pekerjaan juga pada saat mereka nanti lulus dari Unram dan menjadi bagian dari solusi,” ujarnya.

Rektor Universitas Mataram, Prof. Dr. Sukardi mengatakan kegiatan seminar tidak boleh berhenti pada penyampaian materi, tetapi harus diterjemahkan menjadi kegiatan nyata di masyarakat. “Jadi jangan sampai selesai di seminar tapi terus ditindaklanjuti,” kata Sukardi.

Dia mengungkapkan, konsep tersebut sejalan dengan arah pembelajaran di Universitas Mataram yang menempatkan mahasiswa sebagai bagian dari masyarakat. Dalam konteks KKN, mahasiswa tidak hanya diarahkan melakukan pembangunan fisik, tetapi juga memberikan pengetahuan dan membantu mengidentifikasi persoalan sosial.

“Kampus itu kan mahasiswa itu menjadi mata dan telinga kampus di masyarakat,” ujarnya.

Sukardi juga mengatakan mahasiswa dapat membantu mendeteksi kelompok masyarakat, termasuk anak-anak, yang berada dalam kondisi rentan terhadap perdagangan orang.

“Jadi kalau KKN itu bukan untuk membangun fisik, tapi memang menyadarkan masyarakat, memberikan pengetahuan pada masyarakat,” tegasnya.

Ia menyebut pendekatan tersebut merupakan bagian dari konsep kampus berdampak, yakni pendidikan tinggi tidak berhenti pada proses pembelajaran di ruang kelas, tetapi memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. “Jadi bukan hanya mengajarkan,” tuturnya.

Ia menambahkan transformasi pembelajaran di Universitas Mataram saat ini juga diarahkan pada kemampuan berpikir kritis, pemecahan masalah, serta penguatan literasi, termasuk literasi digital.

“Berpikir kritis, problem solving, semua itu kan dalam rangka itu. Salah satunya literasi tentang kondisi, literasi digital, dan lain-lain sebagainya,” ucapnya.

Dengan pendekatan tersebut, seminar mengenai perdagangan orang diharapkan tidak sekadar menjadi forum diskusi, melainkan pintu masuk bagi keterlibatan mahasiswa dalam mendeteksi, mencegah, dan melaporkan potensi perdagangan orang di tengah masyarakat. (can)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *