Tidak semua orang memilih jalan yang mudah. Ada yang memilih berjalan perlahan, menikmati setiap proses, lalu meninggalkan jejak yang berarti. Begitulah perjalanan hidup H. Abdus Syukur, S.H., M.H. Sebuah perjalanan panjang yang dibangun bukan oleh ambisi mengejar jabatan, melainkan oleh keyakinan bahwa hidup akan lebih bermakna jika diisi dengan pengabdian.
Lahir dan tumbuh di Ranggagata, Lombok Tengah, Abdus Syukur memahami sejak dini bahwa pendidikan adalah pintu pertama menuju perubahan. Karena itu, profesi pertamanya bukan sebagai wartawan, melainkan guru Bahasa Inggris. Di ruang kelas sederhana, ia belajar bahwa mengajar bukan sekadar menyampaikan pelajaran, tetapi menumbuhkan harapan dan membuka cakrawala berpikir generasi muda.
Perjalanan hidup kemudian membawanya ke dunia perhotelan di Senggigi. Pengalaman itu mengajarkannya arti disiplin, pelayanan, dan penghargaan terhadap setiap orang. Di sana ia menyaksikan bagaimana keramahan mampu menjadi kekuatan yang menggerakkan pariwisata sekaligus menghidupkan ekonomi masyarakat.
Namun, panggilan hatinya akhirnya berlabuh di dunia jurnalistik.
Ia memulai karier sebagai wartawan di Harian Nusa Tenggara, kemudian melanjutkan kiprahnya di Suara Karya. Ketekunan, keberanian, dan konsistensinya mengantarkannya menjadi Pemimpin Redaksi Lombok Post, salah satu media terbesar di Nusa Tenggara Barat. Setelah itu, ia dipercaya memimpin Radar Mandalika sebagai Pemimpin Redaksi, Pemimpin Umum, sekaligus Direktur. Kini, ia juga menjadi pemilik media digital NTBNOW.CO dan Lombokexpress.id.
Bagi Abdus Syukur, media bukan sekadar tempat menyampaikan berita. Pers adalah pilar demokrasi yang menjaga akal sehat publik. Karena itu, ia selalu meyakini bahwa setiap informasi harus disampaikan secara benar, berimbang, dan dapat dipertanggungjawabkan. Kepercayaan masyarakat, menurutnya, adalah aset paling berharga yang harus dijaga oleh setiap insan pers.
Komitmennya terhadap dunia jurnalistik juga diwujudkan melalui berbagai organisasi profesi. Saat ini ia mengemban amanah sebagai Ketua Dewan Kehormatan PWI Provinsi Nusa Tenggara Barat, Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) NTB, serta Penguji Uji Kompetensi Wartawan (UKW) yang diakui Dewan Pers. Selain itu, ia juga dipercaya menjadi anggota Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) NTB periode 2024–2027.
Di luar dunia pers, Abdus Syukur juga mengabdikan dirinya di bidang hukum. Sebagai advokat yang tergabung dalam Kongres Advokat Indonesia (KAI) NTB, ia memandang hukum dan jurnalistik memiliki tujuan yang sama. Menghadirkan keadilan dan memastikan suara masyarakat tetap mendapat ruang untuk didengar.
Pengabdian itu tidak berhenti di sana. Di lingkungan pendidikan dan keagamaan, ia dipercaya sebagai Ketua Dewan Pembina Pondok Pesantren Darunnashihin Aik Ampat, Ranggagata. Amanah tersebut menjadi ruang baginya untuk menanamkan nilai-nilai moral, kejujuran, dan tanggung jawab kepada generasi muda.
Bagi rekan-rekannya, Abdus Syukur dikenal sebagai pribadi yang sederhana, mudah berdiskusi, tetapi tegas ketika menyangkut prinsip dan integritas. Ia percaya bahwa menjadi pemimpin bukan berarti berada di depan untuk dihormati, melainkan berada di tengah untuk memberi teladan dan di belakang untuk mendorong lahirnya generasi penerus yang lebih baik.
Sebagai alumni Magister Hukum, ia tidak pernah berhenti belajar. Baginya, ilmu pengetahuan harus terus diperbarui agar tetap relevan dengan perkembangan zaman. Karena itulah, ia juga aktif membimbing wartawan muda, berbagi pengalaman, dan menanamkan pentingnya etika dalam profesi jurnalistik.
Jika suatu hari orang bertanya apa yang ingin ia tinggalkan, jawabannya mungkin sederhana. Bukan deretan jabatan atau penghargaan, melainkan manfaat yang terus hidup bagi orang lain.
Di tengah derasnya arus informasi dan perubahan zaman, Abdus Syukur tetap memegang keyakinan yang sama. Integritas adalah fondasi utama seorang jurnalis, hukum harus berpihak pada keadilan, dan pengabdian kepada masyarakat adalah warisan terbaik yang dapat ditinggalkan untuk generasi berikutnya. (*)












