Kasus  

352 Penerima MBG di Lombok Tengah Keluhkan Mual dan Muntah, Sampel Makanan Diuji

Menu makanan MBG yang dibagikan kepada penerima manfaat berupa kebab, ayam, sayur, nugget tempe, dan salak. (Foto: susan/ntbnow.co)

LOMBOK TENGAH (NTBNOW.CO) — Sebanyak 352 penerima manfaat Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Batukliang dan sekitarnya, Lombok Tengah, mendapatkan penanganan di sejumlah fasilitas kesehatan setelah mengalami sejumlah keluhan kesehatan pada Jumat (11/9).

Berdasarkan data sementara hingga pukul 12.30 WITA, para penerima manfaat dilaporkan mengalami keluhan seperti pusing, mual, muntah, mulas atau nyeri perut, lemas, sesak, hingga diare.

Mereka mendapatkan penanganan di empat fasilitas kesehatan, yakni 124 orang di Puskesmas Aik Dareq, 67 orang di Puskesmas Mantang, 144 orang di Puskesmas Pringgarata, dan 17 orang di Puskesmas Bagu.

Namun, belum ada kesimpulan bahwa keluhan kesehatan tersebut disebabkan oleh makanan MBG. Pemerintah masih menunggu hasil penyelidikan epidemiologi dan pemeriksaan sampel makanan.

Asisten II Sekda Lombok Tengah sekaligus Ketua Satgas MBG Lombok Tengah, Lalu Rinjani, mengatakan tim kesehatan dari Dinas Kesehatan telah mengambil sampel makanan untuk diperiksa lebih lanjut.

“Sampel sudah dibawa oleh tim kesehatan dari Dikes. Nanti akan diuji dulu dan diselidiki supaya kita tidak spekulasi,” kata Rinjani saat dihubungi melalui sambungan telepon, Jumat (11/9).

Rinjani menegaskan pemerintah masih melakukan penyelidikan untuk mengetahui penyebab munculnya keluhan kesehatan tersebut. Karena itu, pihaknya meminta agar tidak ada kesimpulan sebelum hasil pemeriksaan laboratorium diperoleh.

“Besok pagi sudah kita tahu apa penyebabnya,” ujarnya.

Rinjani juga mengatakan pemerintah belum memperoleh data lengkap mengenai jumlah sekolah yang terdampak. Data yang tersedia sementara merupakan jumlah penerima manfaat yang mendapatkan penanganan di fasilitas kesehatan.

“Kalau berapa sekolah yang kena, belum saya dapat datanya. Kalau penerima manfaat kita sudah ada datanya,” jelasnya.

Berdasarkan informasi sementara, kejadian tersebut terjadi setelah makanan MBG disalurkan oleh SPPG Lombok Tengah Mekar Bersatu di bawah Yayasan Budi Sain Mangling.

Makanan mulai diantar ke sejumlah sekolah sekitar pukul 08.15 WITA dan dibagikan kepada penerima manfaat sekitar pukul 09.00 WITA. Keluhan kesehatan dilaporkan mulai muncul sekitar pukul 09.10 WITA hingga 12.15 WITA.

Meski demikian, pemerintah masih melakukan penelusuran untuk memastikan apakah terdapat hubungan antara makanan yang dikonsumsi dengan keluhan kesehatan yang dialami para penerima manfaat. “Yang jelas dari makanan itu akan dilakukan uji sampel,” tutur Rinjani.

Terkait kemungkinan pemberian sanksi kepada pihak penyelenggara MBG, Rinjani mengatakan pemerintah daerah belum dapat mengambil keputusan sebelum proses investigasi selesai.

Menurutnya, mekanisme pemberian sanksi terhadap penyelenggara MBG dilakukan secara berjenjang dan menjadi kewenangan Badan Gizi Nasional (BGN) sesuai hasil pemeriksaan.

“Kalau sanksi nanti korwil akan melaporkan ke korek, kan berjenjang. Sanksinya dari BGN,” tegasnya.

Hingga berita ini ditulis, penyebab keluhan kesehatan terhadap 352 penerima manfaat tersebut belum dapat dipastikan. Pemerintah masih menunggu hasil pemeriksaan sampel makanan dan penyelidikan tim kesehatan sebagai dasar menentukan langkah selanjutnya.

Pemerintah juga terus melakukan pendataan dan pemantauan terhadap penerima manfaat yang mengalami keluhan serta mereka yang telah mendapatkan penanganan medis. (can)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *