Kasus  

Enam Ruang Kelas SMAN 1 Gunungsari Disegel, Siswa Terpaksa Belajar di Gudang dan Ruang Darurat

Enam ruang kelas di SMAN 1 Gunungsari, Lombok Barat, disegel karena dinilai tidak lagi layak digunakan dan berpotensi membahayakan keselamatan siswa. Untuk sementara, kegiatan belajar mengajar dipindahkan ke ruang terbuka, aula kantin, bekas gudang, hingga perpustakaan sambil menunggu rehabilitasi bangunan. (ist)

MATARAM (NTBNOW.CO) – Kegiatan belajar mengajar di SMAN 1 Gunungsari, Kabupaten Lombok Barat, terpaksa dipindahkan ke sejumlah ruang darurat setelah enam ruang kelas disegel karena dinyatakan tidak lagi layak digunakan. Langkah tersebut diambil demi menjaga keselamatan siswa menyusul hasil asesmen yang menunjukkan kondisi bangunan mengalami penurunan kualitas akibat usia.

Kepala SMAN 1 Gunungsari, Musyrifin, mengatakan pihak sekolah memanfaatkan berbagai fasilitas yang tersedia agar proses pembelajaran tetap berjalan. Ruang terbuka di samping musala, aula kantin, bekas gudang, hingga perpustakaan diubah menjadi ruang belajar sementara.

“Kami memiliki ruang terbuka di samping musala yang biasa digunakan untuk salat zuhur dan salat duha berjamaah. Kemudian yang berikutnya ada di kantin,” ujar Musyrifin di Lombok Barat, Selasa (28/7/2026).

Menurutnya, ruang terbuka tersebut disekat menggunakan tripleks menjadi dua ruang kelas, sementara sisi kanan dan kiri ditutup dengan gorden agar kegiatan belajar tidak terganggu.

Selain itu, aula kantin juga dibagi menjadi dua fungsi. Sebagian tetap digunakan sebagai kantin dan lokasi pembagian Program Makan Bergizi Gratis (MBG), sedangkan sebagian lainnya dimanfaatkan sebagai ruang kelas.

“Di aula kantin itu kami sekat, setengahnya untuk kantin dan tempat pembagian MBG. Setengahnya lagi untuk ruang kelas supaya kegiatan belajar tetap berjalan,” katanya.

Meski telah memanfaatkan berbagai fasilitas, ruang belajar sementara yang tersedia masih belum mencukupi. Sekolah akhirnya menggunakan bekas gudang dan beberapa ruangan lain, termasuk perpustakaan, sebagai lokasi pembelajaran.

Musyrifin menjelaskan, sebelum enam ruang kelas disegel, sekolah memang sudah mengalami kekurangan ruang belajar. Saat ini SMAN 1 Gunungsari membutuhkan sedikitnya 11 ruang kelas, terdiri atas empat ruang kelas baru dan enam ruang pengganti untuk bangunan yang rusak.

Ia memperkirakan kebutuhan anggaran rehabilitasi enam ruang kelas mencapai sekitar Rp700 juta, sementara biaya pembangunan ruang kelas baru masih dalam tahap perhitungan.

Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan dan Kawasan Permukiman (PUPRPKP) Provinsi NTB, Lalu Kusuma Wijaya, mengatakan penyegelan dilakukan sebagai langkah antisipasi untuk mencegah terjadinya kecelakaan akibat bangunan yang sudah tidak aman digunakan.

“Kita proteksi untuk mengantisipasi, jangan sampai digunakan dan tiba-tiba ambruk, kemudian mencederai atau menimbulkan korban,” ujarnya.

Ia menjelaskan, langkah tersebut diambil setelah sebelumnya terjadi insiden ambruknya sejumlah ruang kelas di SMAN 7 Mataram dan SMAN 1 Lingsar akibat kondisi bangunan yang telah menua. Dalam kedua kejadian tersebut tidak dilaporkan adanya korban jiwa.

Menurutnya, kegiatan belajar mengajar tetap dapat berlangsung dengan memanfaatkan ruang alternatif, termasuk tenda atau fasilitas lain yang memungkinkan.

“Ya bisa pakai tenda, bisa pakai ruangan apa saja untuk sementara. Memang kondisi ini cukup memprihatinkan,” katanya.

Lalu Kusuma menambahkan, persoalan bangunan sekolah yang telah berusia tua tidak hanya terjadi di SMAN 1 Gunungsari. Sejumlah sekolah lain di NTB juga menghadapi kondisi serupa.

Karena keterbatasan tenaga teknis, Dinas PUPRPKP NTB meminta setiap sekolah melakukan asesmen mandiri terhadap kondisi bangunan dengan mengacu pada panduan yang telah disiapkan. Salah satu indikator yang perlu diwaspadai adalah atap bangunan yang mulai melengkung, karena dapat menjadi tanda adanya kerusakan struktur yang berpotensi menyebabkan bangunan ambruk apabila tetap digunakan. (can)Caption foto: Enam ruang kelas di SMAN 1 Gunungsari, Lombok Barat, disegel karena dinilai tidak lagi layak digunakan dan berpotensi membahayakan keselamatan siswa. Untuk sementara, kegiatan belajar mengajar dipindahkan ke ruang terbuka, aula kantin, bekas gudang, hingga perpustakaan sambil menunggu rehabilitasi bangunan. (can)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *