JAKARTA (NTBNOW.CO) — Di tengah lanskap industri media yang terus berubah, para pengelola media siber dari berbagai penjuru tanah air kembali berkumpul. Mereka datang bukan sekadar menghadiri agenda organisasi, melainkan merawat sebuah harapan bersama: menjaga idealisme pers di tengah arus zaman.
Itulah suasana yang mengemuka dalam Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) dan peringatan Hari Ulang Tahun ke-9 Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) yang berlangsung di Millennium Hotel Sirih Jakarta pada 6–8 Maret 2026.
Bagi SMSI, Rapimnas bukan sekadar forum rapat rutin organisasi. Ia menjadi ruang pertemuan gagasan—tempat para pengurus dari seluruh provinsi menyatukan persepsi tentang masa depan media siber, sekaligus memperkuat fondasi kemandirian perusahaan pers berbasis digital.
Menyatukan Visi dari Berbagai Daerah
Para ketua SMSI provinsi hadir membawa dinamika daerah masing-masing. Ada yang datang langsung, ada pula yang diwakili pengurus daerah karena keterbatasan jarak dan waktu. Beberapa wilayah seperti Papua, NTB, NTT, dan Aceh memang tidak dihadiri langsung oleh ketuanya, namun tetap mengirimkan perwakilan.
Bagi Ketua Umum SMSI, Firdaus, Rapimnas memiliki arti strategis. Forum ini menjadi sarana menyelaraskan arah organisasi sekaligus merumuskan sikap terhadap berbagai persoalan yang dihadapi industri media digital saat ini.
“Rapimnas ini merupakan panggilan bagi SMSI untuk memberikan kontribusi nyata kepada bangsa dan negara,” ujar Firdaus.
Di tengah derasnya arus digitalisasi, media siber dituntut tidak hanya cepat, tetapi juga tetap setia pada prinsip jurnalistik: akurat, independen, dan berpihak pada kepentingan publik.
Rumah bagi Wartawan yang Bertahan pada Idealisme
Sejarah kelahiran SMSI tidak dapat dipisahkan dari dinamika dunia pers Indonesia. Organisasi ini lahir sebagai rumah bagi media startup, terutama yang didirikan oleh wartawan profesional yang memilih bertahan di jalur jurnalistik.
Sebagian dari mereka, kata Firdaus, adalah korban gelombang pemutusan hubungan kerja dari perusahaan media besar. Mereka kehilangan ruang di perusahaan lama, tetapi tidak kehilangan panggilan profesinya sebagai jurnalis.
Dalam realitas yang keras itu, banyak wartawan terpaksa mencari pekerjaan lain demi menyambung hidup. Ada yang membuka usaha kecil, ada pula yang berjualan makanan, sekadar agar dapur tetap mengepul.
Namun di balik semua itu, kemampuan jurnalistik mereka tetap hidup. Mereka masih memiliki energi untuk menulis, mengkritik, dan memberi perspektif bagi publik.
Di titik itulah SMSI hadir: memberi ruang agar idealisme wartawan tetap menemukan jalannya melalui perusahaan media yang mereka dirikan sendiri. “Itulah latar belakang SMSI berdiri, menjaga idealisme wartawan,” kata Firdaus.
Sembilan Tahun Perjalanan yang Tidak Mudah
Sembilan tahun perjalanan SMSI bukanlah lintasan yang tanpa hambatan. Organisasi ini tumbuh dalam situasi industri media yang terus bertransformasi, di mana perusahaan pers kecil harus berhadapan dengan raksasa digital global.
Kini SMSI menaungi sekitar 3.181 perusahaan pers anggota di seluruh Indonesia. Mayoritas merupakan media startup yang tumbuh dengan sumber daya terbatas, namun memiliki semangat besar untuk bertahan.
Di tengah kompetisi global yang semakin ketat, keberadaan media lokal menjadi penting. Mereka hadir lebih dekat dengan masyarakat, memahami persoalan daerah, dan menyuarakan realitas yang sering luput dari perhatian media besar.
Karena itu, SMSI terus mendorong pemberdayaan media siber lokal. Tujuannya bukan hanya agar mereka bertahan, tetapi juga mampu tumbuh sebagai pilar penting dalam ekosistem jurnalisme Indonesia.
Sebab pada akhirnya, kekuatan pers tidak semata ditentukan oleh besar kecilnya perusahaan media. Ia ditentukan oleh keberanian menjaga idealisme—sebuah nilai yang justru sering lahir dari ruang-ruang kecil tempat wartawan bekerja dengan hati.
Rapimnas ke 9 itu juga menghasilkan pernyataan sikap organisasi terkait Perjanjian Perdagangan Resiprokal atau Agreement on Reciprocal Trade (ART) antara pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat, khususnya pada sektor Digital Trade and Technology.
Pernyataan sikap tersebut dibacakan Sihono HT, yang juga menjabat Ketua Dewan Penasihat SMSI Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Pembacaan pernyataan sikap menjadi penutup rangkaian Rapimnas SMSI tahun ini. (red)
Keterangan Foto:
Pembacaan pernyataan sikap SMSI terkait Perjanjian Perdagangan Resiprokal atau Agreement on Reciprocal Trade (ART) antara pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat, khususnya pada sektor Digital Trade and Technology. (Foto: dokumen smsi pusat)












