Penggunaan QRIS Rambah Rinjani dan Mandalika

Konferensi Pers : Head of Funding and Transaction Departme Bank NTB Syariah David Rosedi, memaparkan program dana retail membangun pengelolaan dana berbasis transaksi, di Aula Bank NTB Syariah, Minggu, 27/9/2026. (susan/ntbnow.co)

MATARAM–Bank NTB Syariah memperluas penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS). Kawasan yang menjadi tujuan utama yakni di kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika.

Head of Funding and Transaction Departme Bank NTB Syariah David Rosedi mengatakan, Bank NTB Syariah, saat ini mulai membangun ekosistem transaksi digital di sejumlah kawasan. Salah satunya melalui keberadaan merchant di Taman Nasional Gunung Rinjani.

“Beberapa yang sudah jalan yang kami coba itu ada di Taman Nasional Gunung Rinjani. Itu yang dari semula nol lah kita bilang, itu sekarang, mungkin sudah 120-an merchant. Itu baru beberapa bulan,” kata David dalam saat memaparkan program dana retail membangun pengelolaan dana berbasis transaksi, di Aula Bank NTB Syariah, Minggu, 27/9/2026.

Dia menyebutkan, dari data hingga bulan Juli 2026. Sebanyak 34 pelaku jasa ojek wisata di kawasan Gunung Rinjani, Lombok Timur mulai melayani transaksi nontunai menggunakan QRIS Cross Border. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem pembayaran digital di salah satu destinasi wisata unggulan NTB.

Penggunaan QRIS Cross Border di kawasan Rinjani tersebut membuka peluang transaksi dari wisatawan mancanegara. “Sistem tersebut telah menerima transaksi internasional dari sejumlah negara, antara lain Singapura, Thailand, Malaysia, Korea Selatan, dan China,” sebutnya.

Kawasan Rinjani sendiri menjadi salah satu destinasi yang banyak dikunjungi wisatawan mancanegara. Dengan transaksi digital, wisatawan tidak harus selalu bergantung pada uang tunai ketika menggunakan jasa pelaku wisata lokal.

Menurutnya, kebiasaan menggunakan uang tunai masih cukup kuat di daerah. Sebagian pelaku usaha bahkan merasa transaksi belum benar-benar terjadi apabila uang belum berada di tangan.

“Setelah kita coba edukasi, semuanya segala macam, sekarang kami memiliki tiga pojok pasar,” ujarnya.

Selain Rinjani, pengembangan ekosistem pembayaran digital juga menyasar kawasan Mandalika. Kehadiran merchant QRIS di destinasi dan kawasan event pariwisata dinilai penting karena perputaran uang di sektor tersebut melibatkan banyak pelaku usaha.

David menjelaskan, strategi Bank NTB Syariah bukan sekadar menambah jumlah merchant. Bank juga berusaha mengikuti aliran uang dari satu transaksi ke transaksi lainnya.

“Kalau kita berbicara dana retail, tentu harapan kita adalah untuk membuat dana retail ini stabil, kita harus bermain di transaksi,” jelasnya.

Dia mencontohkan seorang pedagang yang memperoleh omzet sekitar Rp1 juta dalam sehari. Uang tersebut kemudian digunakan kembali untuk membeli barang dagangan. Dari transaksi itu, terdapat sebagian dana yang tersisa.

“Nah, besok kan dia harus beli barang. Beli barang berapa? Paling sisa dana transaksinya Rp200.000. Ini yang kita kejar, sehingga kita membutuhkan effort yang lebih,” katanya.

Konsep tersebut kemudian dikembangkan menjadi ekosistem. Ketika uang masuk ke rekening nasabah, Bank NTB Syariah berupaya agar sebagian transaksi berikutnya kembali mengalir ke merchant yang juga menggunakan layanan bank tersebut.

“Kita ikuti aliran dananya. Misalnya untuk belanja, dananya sering di mana? Misalnya di Cakra atau di pasar mana? Itu yang kita coba untuk mengakuisisi merchant-merchant pedagang itu,” jelasnya.

David menyebut jumlah keseluruhan merchant yang pada Juli 2025 tercatat 6.538 merchant, meningkat menjadi 13.863 merchant pada Agustus 2026. Artinya terdapat tambahan 7.325 merchant dalam periode tersebut.

Pertumbuhan juga terjadi pada frekuensi transaksi. Dari 62.187 transaksi pada 31 Juli 2025, meningkat menjadi 478.140 transaksi pada Agustus 2026.

Menurutnya , peningkatan tersebut menjadi indikator bahwa akuisisi merchant tidak berhenti pada penambahan jumlah pedagang. Bank juga berusaha memastikan merchant aktif melakukan transaksi.

“Artinya merchant-merchant yang diakuisisi oleh teman-teman kami di lapangan itu adalah merchant yang berkualitas,” tuturnya.

Strategi tersebut, lanjut David dilakukan melalui sejumlah pendekatan, mulai pemberian reward kepada pedagang, evaluasi, retensi hingga kegiatan gathering bersama merchant.

Bank juga mulai mengklasifikasikan merchant berdasarkan aktivitas transaksi. Merchant yang masuk kategori prime merupakan merchant dengan frekuensi transaksi sekitar 100 transaksi per minggu atau 200 transaksi dalam dua minggu.

“Merchant prime ini yang bertransaksi 100 transaksi per minggu atau 200 per dua minggu,” ujarnya.

Dia mengaku, memperluas penggunaan QRIS membutuhkan proses panjang. Terlebih di sektor pariwisata, karakter transaksi sangat bergantung pada wisatawan, pelaku usaha, lokasi dan kebiasaan masyarakat.

Karena itu, Bank NTB Syariah tidak hanya mengejar pemasangan QRIS, tetapi juga membangun hubungan dengan nasabah dan merchant.

“Kita sekarang fokus bagaimana membangun hubungan dengan nasabah,” tuturnya.

Bagi Bank NTB Syariah, penguatan transaksi digital di Rinjani dan kawasan wisata lainnya diarahkan untuk membentuk ekosistem pembayaran yang lebih luas. Mulai dari wisatawan, jasa ojek, pedagang, pelaku UMKM hingga berbagai layanan pendukung pariwisata.  “Ini tentunya akan melalui proses yang panjang,” pungkasnya. (can)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *