BANDUNG (NTBNOW.CO)– Budaya tak lagi sekadar warisan yang disimpan dalam museum atau dikenang lewat cerita masa lalu. Di tangan pelaku usaha, kekayaan budaya bisa berubah menjadi produk bernilai ekonomi sekaligus membuka jalan bagi UMKM untuk naik kelas.
Gagasan itu mengemuka dalam Ruang Resonansi IFG Group 2026 bertema Menghidupkan Budaya untuk Melahirkan Karya yang digelar di Gedung IFG Life Asia Afrika, Bandung, Sabtu (26/9/2026) kemarin.
Kegiatan yang digagas Indonesia Financial Group (IFG) bersama PT Jaminan Kredit Indonesia (Persero) atau Jamkrindo tersebut mempertemukan unsur pemerintah, pelaku UMKM, seniman, komunitas, generasi muda hingga dunia usaha.
Wakil Jaksa Agung Republik Indonesia Prof. Dr. Asep N. Mulyana menilai, ruang kolaborasi semacam itu penting untuk memastikan warisan budaya tetap hidup sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Menurut dia, sebuah produk UMKM tidak hanya memiliki nilai jual. Di baliknya terdapat pengetahuan, keterampilan, serta kerja keluarga dan komunitas yang diwariskan dari generasi ke generasi.
“Saya mengapresiasi ruang bagi UMKM dalam kegiatan ini. Di balik sebuah produk terdapat kerja dan pengetahuan keluarga serta komunitas. Ketika masyarakat mengenal pembuatnya dan menghargai kualitasnya, pelestarian budaya ikut memberi manfaat ekonomi,” ujar Asep.
Ia juga menitipkan tiga pesan kepada generasi muda. Pertama, mengenali akar budaya sebagai sumber identitas sekaligus inspirasi berkarya.
Kedua, kebebasan berkarya harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab dan penghormatan terhadap karya serta pelaku budaya.
Ketiga, perlu dibangun kolaborasi yang lebih kuat antara seniman, komunitas, UMKM, dunia usaha, dan generasi muda.
“Warisan budaya akan terus hidup melalui perhatian dan tindakan kita. Mari jadikan Ruang Resonansi sebagai tempat untuk mendengar cerita, membangun kerja sama, dan melahirkan karya yang berakar pada identitas bangsa,” tuturnya.
Deputi Bidang Kewirausahaan Kementerian UMKM M. Riza Damanik turut memberikan apresiasi. Menurutnya, kegiatan tersebut sejalan dengan upaya pendampingan dan pemberdayaan UMKM.
“Penguatan kapasitas dinilai penting agar pelaku usaha tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga meningkatkan daya saing dan mengembangkan skala bisnisnya,” ucapnya.
Sementara itu, Kepala Divisi Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan 5 OJK Arieck Priyatna menyoroti aspek lain yang tak kalah penting, yakni literasi keuangan.
Menurutnya, pemahaman terhadap pengelolaan keuangan menjadi modal penting bagi UMKM ketika ingin mengakses pembiayaan dan mengambil keputusan bisnis.
“Literasi keuangan yang kuat juga dibutuhkan agar pelaku usaha mampu menjaga keberlanjutan bisnisnya,” tuturnya.
Direktur SDM dan Hukum IFG Rizal Ariansyah mengatakan, budaya memiliki posisi penting dalam membangun ekosistem ekonomi kreatif.
Sebab, budaya bisa menjadi sumber inspirasi yang kemudian diterjemahkan menjadi karya, produk, hingga peluang usaha baru.
“Budaya bukan hanya warisan yang perlu kita jaga, tetapi juga sumber inspirasi yang dapat melahirkan kreativitas dan membuka peluang ekonomi,” ujar Rizal.
Karena itu, lanjut dia, Ruang Resonansi dihadirkan sebagai ruang yang mempertemukan nilai budaya, kreativitas dan pemberdayaan UMKM. “Melalui Ruang Resonansi, IFG ingin menghadirkan ruang kolaborasi yang mempertemukan nilai budaya, kreativitas, dan pemberdayaan UMKM sehingga dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat,” cetusnya.
Rizal menambahkan, dukungan terhadap UMKM tidak berhenti pada persoalan pembiayaan. Ekosistem usaha juga perlu diperkuat agar pelaku UMKM dapat tumbuh secara berkelanjutan.
“Ketika budaya mampu diterjemahkan menjadi karya dan produk bernilai ekonomi, maka kita tidak hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga menciptakan peluang bagi masyarakat untuk tumbuh. Di sinilah pentingnya sinergi antar-entitas dalam ekosistem IFG,” ujarnya.
Direktur Utama Jamkrindo Abdul Bari menegaskan, budaya dan UMKM memiliki hubungan yang erat. Berbagai kekayaan budaya Indonesia, kata dia, justru terus hidup melalui aktivitas pelaku UMKM. Mulai kerajinan, kuliner, seni, musik hingga berbagai produk kreatif lokal.
“Budaya dapat menjadi sumber inspirasi, kreativitas, dan pertumbuhan bagi UMKM. Karena itu, pelestarian budaya dan pengembangan UMKM seharusnya berjalan bersama,” katanya
Jamkrindo, lanjut dia, mengambil peran melalui bisnis penjaminan. Salah satunya dengan membantu memperluas akses pembiayaan bagi pelaku UMKM, termasuk sektor ekonomi kreatif, seni dan budaya.
“Sebagai perusahaan penjaminan, kami berkomitmen untuk membantu memperluas akses pembiayaan bagi UMKM, termasuk pelaku usaha di sektor ekonomi kreatif, seni, dan budaya,” tegasnya.
Penjaminnya dapat membuka kesempatan lebih luas bagi UMKM untuk mendapatkan pembiayaan.
“Penjaminan membuka kesempatan agar UMKM dapat tumbuh, naik kelas, dan memberikan dampak yang lebih luas,” ujarnya.
Dia berharap sinergi dalam ekosistem IFG dapat memperkuat UMKM agar tidak hanya bertahan menghadapi tantangan usaha, tetapi juga berkembang dan membawa karya serta kekayaan budaya Indonesia ke pasar yang lebih luas.
Menariknya, Ruang Resonansi IFG Group 2026 digelar di Gedung IFG Life Asia Afrika. Lokasi tersebut merupakan salah satu aset bersejarah.
Pemanfaatan gedung bersejarah itu sekaligus menjadi simbol upaya mempertemukan nilai sejarah dengan kreativitas masa kini.
Melalui kegiatan tersebut, IFG dan Jamkrindo mendorong terbentuknya ruang kolaborasi yang mempertemukan pelestarian budaya, ekonomi kreatif dan pemberdayaan UMKM.
Harapannya, kekayaan budaya tidak berhenti sebagai warisan, tetapi dapat terus melahirkan karya, membuka peluang ekonomi dan memperluas ruang tumbuh bagi UMKM. (can)










