Forum Tanah Air Rampungkan 5 Sumur Bor untuk Santri dan Warga Terdampak Bencana di Aceh

ACEH (NTBNOW.CO) – Akses air bersih masih menjadi tantangan serius di sejumlah wilayah Aceh yang terdampak bencana pada akhir November 2025. Menjawab kebutuhan tersebut, Forum Tanah Air (FTA), organisasi diaspora Indonesia yang memiliki jaringan di 26 negara, merampungkan pembangunan lima sumur bor sebagai upaya menyediakan sumber air bersih bagi masyarakat dan pesantren di daerah terdampak.

Program ini merupakan kelanjutan dari aksi kemanusiaan FTA yang sebelumnya menyalurkan bantuan pangan dan sandang kepada korban bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Pembangunan lima sumur bor dimulai sejak Juni 2026 dan tahap awalnya selesai pada Juli 2026. Seluruh sumur dibangun di kawasan pesantren (dayah) dan permukiman warga yang selama ini mengalami kesulitan memperoleh air layak konsumsi.

Ketua Umum FTA, Tata Kesantra yang bermukim di New York, Amerika Serikat, mengatakan inisiatif tersebut lahir dari kepedulian diaspora Indonesia terhadap masyarakat yang terdampak bencana.

“Saat bencana datang, yang hilang bukan hanya rumah, tetapi juga akses terhadap air bersih. Padahal air merupakan kebutuhan dasar untuk minum, memasak, mandi, hingga beribadah,” ujarnya.

Menurut Tata, selama ini banyak warga dan santri harus berjalan jauh atau membeli air dengan harga mahal hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kondisi tersebut berdampak terhadap kesehatan, pendidikan, hingga aktivitas ekonomi masyarakat.

Melalui penggalangan dana dari diaspora Indonesia di berbagai negara, FTA berhasil menghimpun dana untuk membangun lima sumur bor pada tahap pertama. Lokasi pembangunan dipilih agar mampu melayani lebih dari 500 santri dan sekitar 1.000 warga di sekitarnya.

Program Ketahanan Bencana

Sekretaris Jenderal FTA, Syafril Sjofyan, menjelaskan pembangunan sumur bor juga menjadi bagian dari program ketahanan bencana yang diinisiasi organisasi tersebut.

Menurutnya, keberadaan sumur bor diharapkan dapat menjadi sumber air darurat apabila terjadi bencana di masa mendatang.

“Program penyediaan air bersih ini bukan sekadar bantuan jangka pendek. Air bersih merupakan investasi untuk kesehatan dan masa depan generasi,” katanya.

Ia berharap kepedulian diaspora Indonesia terus mengalir sehingga pembangunan sumur bor dapat diperluas ke wilayah lain yang masih membutuhkan akses air bersih.

Sementara itu, Koordinator FTA Aceh, Sayid Jalal, yang bertindak sebagai penanggung jawab proyek di lapangan, menyampaikan bahwa pembangunan tahap pertama telah selesai di lima dayah yang berada di wilayah terdampak bencana.

Menurutnya, masih banyak daerah yang membutuhkan fasilitas serupa sehingga dukungan dari diaspora maupun masyarakat luas sangat diharapkan.

Lima Dayah Rasakan Manfaat

Program pembangunan sumur bor ini dilaksanakan di lima dayah, yaitu:

Dayah Bustanus Sa’adah Al Munawarah, Kota Lhokseumawe.

Dayah Al Madinatuddiniyah Syamsudhuha, Kabupaten Aceh Utara.

Dayah Istiqamatuddin Daruzzahidin, Kabupaten Pidie Jaya.

Dayah Darul Ishlah Al Aziziyah, Kabupaten Pidie Jaya.

Dayah Raudhatul Ulum As Shamady, Kabupaten Pidie Jaya.

Pimpinan Dayah Bustanus Sa’adah Al Munawarah, Ustadz Muhammad Yusuf, mengaku keberadaan sumur bor sangat membantu kebutuhan para santri.

“Alhamdulillah, kini para santri lebih mudah memperoleh air untuk berwudu, mandi, mencuci, memasak, serta memenuhi kebutuhan sehari-hari. Manfaatnya juga dirasakan masyarakat sekitar dayah,” katanya.

Senada dengan itu, para pimpinan empat dayah lainnya berharap program serupa dapat terus berlanjut sehingga semakin banyak pesantren dan masyarakat yang memperoleh akses air bersih.

Mereka juga mendoakan seluruh donatur agar mendapatkan kesehatan, keberkahan rezeki, dan pahala amal jariyah atas kontribusi yang diberikan.

Santri dan Warga Bersyukur

Sejumlah santri dan warga di Kabupaten Pidie Jaya maupun Aceh Utara mengaku sangat terbantu dengan keberadaan sumur bor tersebut.

Mereka menyebut air bersih bukan hanya penting untuk kebutuhan rumah tangga, tetapi juga menjadi bagian penting dalam menjalankan ibadah, kegiatan belajar di pesantren, hingga mendukung usaha kecil seperti perajin tenun, pembuat kue tradisional, pedagang, dan petani.

Dengan hadirnya fasilitas tersebut, masyarakat berharap kesulitan memperoleh air bersih yang selama ini dialami pascabencana dapat teratasi sekaligus meningkatkan kualitas hidup warga di sekitar lokasi pembangunan.

Program lima sumur bor yang diinisiasi Forum Tanah Air menjadi bukti bahwa kepedulian diaspora Indonesia dapat memberikan dampak nyata bagi masyarakat di tanah air, khususnya dalam penyediaan akses air bersih yang berkelanjutan. (red/fta)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *