Oleh: Dr. Ali Muhtasom, A.Md., M.M., CHCM., CHE.
MotoGP Mandalika kini tidak lagi bisa dibaca sekadar sebagai ajang olahraga. Sejak 2022, pagelaran sport ini telah menjadi instrumen diplomasi pariwisata, penggerak ekonomi daerah, sekaligus etalase kemampuan Indonesia mengelola event global. Data menunjukkan tren yang kuat: penonton Mandalika naik dari 102.801 orang pada 2022, 102.929 pada 2023, 121.252 pada 2024, menjadi 140.324 pada 2025. Dalam tiga tahun terakhir saja, pertumbuhan mencapai sekitar 36,3 persen. (Sumber : Databoks)
Dampak ekonominya juga makin terukur. MotoGP Mandalika 2025 disebut memberi dampak ekonomi nasional sekitar Rp 4,8–4,96 triliun, melibatkan lebih dari 600 UMKM dan sekitar 3.000 tenaga kerja lokal. (KEK Mandalika). Ini menunjukkan Mandalika telah bergerak dari fase “membuktikan diri” menuju fase “mengoptimalkan nilai tambah”.
Namun, dibanding Malaysia dan Thailand, Indonesia masih punya pekerjaan rumah. Sepang Malaysia menarik 190.977 penonton pada 2025, dengan dampak ekonomi lebih dari RM329 juta dan ROI 6,3 kali. (Sumber : BERNAMA). Thailand bahkan telah memperpanjang kontrak MotoGP hingga 2031, dengan dukungan anggaran 3,9 miliar baht untuk lima tahun; sejak 2018–2025, MotoGP Thailand diklaim menghasilkan sekitar 24 miliar baht dan menarik lebih dari 1,2 juta penonton. (Sumber; Reuters)
Pelajaran utamanya jelas: keberhasilan MotoGP bukan hanya soal sirkuit, tetapi ekosistem. Le Mans Prancis mencatat rekor 311.797 penonton pada 2025; MotoGP global juga menembus 3,6 juta penonton lintas sirkuit dan basis penggemar 632 juta. (The Official Home of MotoGP). Artinya, Mandalika tidak cukup menjual “balapan”; ia harus menjual pengalaman lengkap: Lombok, budaya, pantai, kuliner, musik, komunitas motor dan perjalanan lintas destinasi.
Untuk MotoGP Mandalika 2026, yang masuk kalender pada 9 – 11 Oktober 2026, Indonesia perlu menargetkan minimal 160.000 penonton, memperbesar porsi wisatawan mancanegara dan memperpanjang masa tinggal wisatawan dari 2–3 hari menjadi 5–7 hari. Strateginya: paket “MotoGP plus holiday” Lombok–Sumbawa-Bali, tiket bundling dengan hotel dan penerbangan, festival kota satu minggu sebelum race, serta promosi bersama maskapai, OTA, komunitas motor ASEAN dan diaspora Indonesia.
Kolaborasi juga perlu dibuat
lebih konkret. Pemerintah pusat fokus pada promosi internasional, visa/event facilitation dan konektivitas udara. Pemda NTB mengelola atraksi lokal, transportasi kawasan, kebersihan, keamanan dan kurasi UMKM. ITDC–MGPA fokus pada kualitas event, ticketing, fan zone, data penonton dan sponsorship. Swasta masuk lewat paket hospitality, aktivasi merek, transportasi, konten digital dan investasi amenitas. Komunitas lokal menjadi tuan rumah pengalaman budaya, bukan sekadar penonton pembangunan.
Yang paling penting, Mandalika harus punya dashboard data terbuka: asal penonton, lama tinggal, belanja rata-rata, okupansi hotel, transaksi UMKM, pergerakan transportasi dan sentimen digital. Tanpa data, dampak ekonomi akan mudah diperdebatkan. Dengan data, MotoGP menjadi argumen investasi.
Kesimpulannya, MotoGP Mandalika 2026 harus naik kelas: dari event tahunan menjadi platform sport tourism nasional. Malaysia unggul dalam konsistensi sirkuit dan komersialisasi; Thailand unggul dalam komitmen kontrak panjang dan dukungan negara; Prancis unggul dalam budaya fan engagement. Indonesia dan terkhusus NTB punya keunggulan berbeda: destinasi tropis, pasar domestik besar, cerita budaya kuat dan posisi strategis di ASEAN. Bila kolaborasi lintas pihak dikelola berbasis data, Mandalika bukan hanya akan menjadi tuan rumah MotoGP, tetapi ikon baru pariwisata olahraga Asia.
Penulis: Anggota BPPD Periode 2024-2027












