Kota Bima tidak hanya dikenal sebagai daerah dengan kekayaan sejarah dan budaya, tetapi juga memiliki potensi besar dalam sektor pariwisata berbasis kearifan lokal. Salah satu wujud nyata dari potensi tersebut adalah Festival Rimpu Kota Bima. Sebuah perayaan budaya yang kini semakin mendapat perhatian luas.
Festival Rimpu bukan sekadar agenda tahunan.
Ia merupakan simbol identitas masyarakat Bima yang mencerminkan nilai religius, kesopanan, serta filosofi hidup yang diwariskan secara turun-temurun. Busana rimpu yang menjadi ikon utama festival ini memiliki keunikan tersendiri, sekaligus menjadi daya tarik kuat bagi wisatawan yang mencari pengalaman budaya autentik.
Dalam konteks pengembangan pariwisata, keterlibatan BPPD menjadi sangat penting. BPPD memiliki peran strategis sebagai ujung tombak promosi destinasi. Tanpa dukungan promosi yang terarah dan profesional, potensi besar Festival Rimpu berisiko hanya dikenal dalam lingkup lokal.
Melalui pendekatan promosi yang terintegrasi, BPPD dapat mengangkat Festival Rimpu menjadi produk wisata unggulan. Pemanfaatan platform digital, kolaborasi dengan media, serta keterlibatan pelaku industri pariwisata menjadi langkah penting dalam memperluas jangkauan promosi. Dengan strategi yang tepat, festival ini dapat menembus pasar nasional bahkan internasional.
Selain aspek promosi, Festival Rimpu yang akan digelar 24-27 April 2026 di Museum Asi Mbojo, Kota Bima, juga berperan penting dalam membangun citra daerah. Di tengah persaingan destinasi wisata yang semakin kompetitif, Kota Bima membutuhkan diferensiasi yang kuat. Rimpu sebagai warisan budaya memberikan identitas khas yang tidak dimiliki daerah lain. Inilah yang menjadi modal utama dalam membangun branding pariwisata yang berkarakter.
Dari sisi ekonomi, penyelenggaraan festival memberikan dampak yang signifikan. Kehadiran wisatawan selama festival berlangsung mendorong pertumbuhan sektor usaha, mulai dari UMKM, perhotelan, kuliner, hingga transportasi. Efek berganda (multiplier effect) ini menjadi salah satu alasan utama mengapa festival budaya harus dikelola secara serius dan berkelanjutan.
Lebih jauh, Festival Rimpu juga membuka peluang kolaborasi lintas sektor. Keterlibatan BPPD memungkinkan terbangunnya kemitraan strategis dengan investor, pelaku industri kreatif, serta komunitas lokal. Sinergi ini sangat penting untuk memastikan bahwa festival tidak hanya berlangsung meriah, tetapi juga memberikan dampak jangka panjang.
Pada akhirnya, Festival Rimpu adalah lebih dari sekadar perayaan budaya. Ia merupakan instrumen strategis dalam mendorong kemajuan pariwisata dan ekonomi daerah. Dengan peran aktif BPPD, festival ini memiliki peluang besar untuk naik kelas menjadi event unggulan yang tidak hanya membanggakan masyarakat lokal, tetapi juga dikenal di kancah global. (abdus syukur, anggota BPPD NTB)












