MATARAM (NTBNOW.CO) – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) terus memperkuat ketahanan dan swasembada pangan daerah sebagai bentuk dukungan nyata terhadap program strategis nasional di sektor pertanian.
Komitmen tersebut sejalan dengan arahan Presiden Republik Indonesia yang menekankan pentingnya mengembalikan kejayaan swasembada pangan nasional seperti era 1980-an, melalui peningkatan produksi, perluasan areal tanam, serta penguatan produktivitas pertanian di seluruh wilayah, termasuk NTB.
Berdasarkan data Kerangka Sampel Area (KSA) Badan Pusat Statistik (BPS), produksi padi NTB pada tahun 2025 mencapai 1.698.283 ton Gabah Kering Giling (GKG). Angka ini meningkat 16,85 persen dibandingkan tahun 2024 yang tercatat sebesar 1.453.408 ton GKG.
Peningkatan produksi tersebut ditopang oleh bertambahnya luas panen dari 281.718 hektare pada 2024 menjadi 322.927 hektare pada 2025, serta naiknya produktivitas padi dari 51,59 kuintal per hektare menjadi 52,59 kuintal per hektare.
Secara rinci, capaian produksi padi 2025 di NTB berdasarkan KSA BPS mencatat Kabupaten Lombok Tengah sebagai penyumbang terbesar dengan luas panen 78.639 hektare, produksi 421.941 ton GKG, dan produktivitas 53,66 kuintal per hektare. Disusul Kabupaten Sumbawa dengan luas panen 74.736 hektare, produksi 398.864 ton GKG, dan produktivitas 53,37 kuintal per hektare.
Kabupaten Lombok Timur mencatat luas panen 45.387 hektare dengan produksi 243.474 ton GKG dan produktivitas 53,64 kuintal per hektare. Kabupaten Bima memiliki luas panen 42.845 hektare, produksi 208.018 ton GKG, dan produktivitas 48,55 kuintal per hektare.
Sementara itu, Kabupaten Dompu mencatat luas panen 30.448 hektare dengan produksi 151.335 ton GKG dan produktivitas 49,70 kuintal per hektare. Kabupaten Lombok Barat memiliki luas panen 25.488 hektare, produksi 135.678 ton GKG, dan produktivitas 53,23 kuintal per hektare. Kabupaten Sumbawa Barat mencatat luas panen 14.548 hektare, produksi 74.496 ton GKG, dan produktivitas 51,21 kuintal per hektare.
Adapun Kabupaten Lombok Utara mencatat produktivitas tertinggi mencapai 60,19 kuintal per hektare dari luas panen 5.536 hektare dengan produksi 33.320 ton GKG. Kota Mataram juga mencatat produktivitas tinggi sebesar 64,78 kuintal per hektare dengan produksi 17.727 ton GKG dari luas panen 2.736 hektare, sementara Kota Bima mencatat produksi 13.431 ton GKG dari luas panen 2.564 hektare.
Kepala Dinas Kominfotik NTB, Ahsanul Khalik, menyampaikan bahwa capaian tersebut merupakan hasil sinergi dan kerja kolektif seluruh pihak dalam membangun sektor pertanian, sekaligus menjadi modal optimisme menuju penguatan swasembada pangan NTB tahun 2026.
Keberhasilan ini, menurutnya, didukung berbagai program pro-rakyat seperti optimasi lahan seluas 10.574 hektare pada 2025, penggunaan benih unggul bersertifikat, alokasi pupuk subsidi sesuai RDKK, penyesuaian Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah menjadi Rp6.500 per kilogram, serta kolaborasi lintas sektor antara pemerintah pusat, Pemprov NTB, pemerintah kabupaten/kota, TNI, Polri, instansi teknis, dan petani.
“Ini capaian yang luar biasa, dan pada 2026 insyaallah kita targetkan meningkat lagi,” ujarnya.
Sementara itu, Plt Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTB, Eva Dewiyani, menegaskan bahwa memasuki tahun 2026, Pemprov NTB akan terus mengoptimalkan seluruh potensi daerah melalui berbagai program strategis pertanian sebagai bentuk dukungan terhadap kebijakan swasembada pangan pemerintah pusat.
“NTB optimistis mampu menjaga tren peningkatan produksi sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah, sebagai kontribusi nyata dalam mewujudkan kebangkitan swasembada pangan Indonesia,” pungkasnya. (can)












