MGPA  

Cuaca Panas dan Angin Jadi Tantangan Pembalap di Mandalika

RIDERS GO TO SCHOOL: Mario Surya Aji dari Idemitsu Honda Team Asia, ⁠Veda Ega Pratama dari Honda Team Asia, David Almansa dari Liqui Moly Dynavolt Intact GP, Manuel Gonzalez dari Liqui Moly Dynavolt Intact GP, dan Luca Lunetta dari BETA Tools SpeedRS Team mengunjungi sekolah SDN 2 Kuta, Mandalika. (susan/ntbnow.co)

MATARAM (NTBNOW.CO)–Tantangan berat menanti para pembalap pada Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 di Pertamina Mandalika International Circuit, Lombok Tengah. Selain karakter lintasan yang menantang, cuaca panas dan hembusan angin menjadi faktor yang harus diperhitungkan para rider.

Pembalap Indonesia Mario Aji mengakui kondisi cuaca dan angin di Mandalika menjadi salah satu tantangan utama yang bisa memengaruhi jalannya balapan.

Terlebih, balapan akhir pekan ini menjadi pengalaman penting bagi Mario yang akan turun menggunakan motor Moto2 di hadapan publik Indonesia.

“Kalau dari sirkuit lain, cuaca dan juga angin. Di sini di Mandalika kan dekat dengan laut, jadi anginnya lumayan kencang,” kata Mario, saat mengunjungi SDN 2 Kuta, Lombok Tengah, Kamis 8/10.

Menurutnya, kondisi tersebut bisa memberikan pengaruh terhadap performa pembalap maupun motor saat berada di lintasan.

“Tapi sudah cukup beradaptasi karena sudah dicoba juga. Kami sudah latihan juga,” ujarnya.

Mario mengaku sangat antusias bisa kembali membalap di Mandalika. Apalagi, kesempatan tersebut menjadi momen untuk tampil di depan masyarakat Indonesia.

“Ya tentunya senang banget, dan sudah lama juga nggak balapan di Sirkuit Mandalika. Terakhir dua tahun lalu. Jadi senang banget dan minggu ini saya bisa balap lagi di sini di kelas Moto2 dan di depan masyarakat Indonesia,” ungkapnya.

Tantangan serupa juga dirasakan para pembalap asing. David Almansa, pembalap asal Spanyol, bahkan melakukan persiapan khusus untuk menghadapi temperatur tinggi di Mandalika.

David mengatakan, salah satu persiapan yang dilakukan adalah beradaptasi dengan suhu panas melalui latihan fisik.

“Di pagi hari, saya pergi ke GYM untuk menyesuaikan diri dengan suhu. Kondisi di sini selalu menantang untuk perlombaan karena suhunya sangat tinggi dan panas, jadi kami perlu melakukan penyelesaian,” ungkapnya.

Dia menyebut kondisi panas di Mandalika berbeda dengan sejumlah sirkuit lainnya. Karena itu, kemampuan tubuh beradaptasi dengan temperatur menjadi bagian penting sebelum balapan.

“Persiapannya memang cukup berat. Panas di Kuta sangat terasa, apalagi di sirkuit, lintasannya lebih panas lagi,” ujar David.

Menurutnya, pembalap harus mampu menjaga kondisi fisik sepanjang akhir pekan balapan. Sebab, temperatur tinggi bisa menguras stamina ketika pembalap harus memacu motor dalam kecepatan tinggi.

Sementara itu, Manuel Gonzales pembalap Moto2 asal Spanyol itua memiliki optimisme tinggi menghadapi balapan di Mandalika. Setelah mengalami masalah pada kopling motor pada balapan sebelumnya di Motegi, Jepang, dia bertekad tampil lebih baik di Indonesia.

“Saya mengalami masalah dengan kopling motor. Ketika tiba di grid, kopling tidak bekerja,” kata Manuel.

Namun, pengalaman tersebut tidak menyurutkan optimismenya. Mandalika justru menjadi salah satu sirkuit yang dia sukai.

“Indonesia selalu bagus untuk saya. Saya sudah sangat cepat di sini, jadi saya akan mencoba untuk menang tahun ini,” tegasnya.

Bagi para pembalap, karakter Mandalika memang memberikan tantangan tersendiri. Selain lintasan yang membutuhkan konsentrasi tinggi, posisi sirkuit yang berada di kawasan pesisir membuat angin dan temperatur menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan.

Pembalap Indonesia lainnya, Veda Ega Pratama pembalap Moto3 asal Wonosari, Gunungkidul, Yogyakarta itu mengatakan pengalaman latihan sebelumnya menjadi modal penting menghadapi kondisi tersebut.

“Kami kemarin sempat sudah latihan di musim panas. Bekal yang kami bawa dari latihan kemarin, mungkin tantangannya itu sendiri cuaca di Mandalika sangat panas dan temperatur di atas sirkuit cukup tinggi,” katanya.

Dia menilai balapan dapat berjalan lebih baik selama kondisi cuaca mendukung. “Kami melihat balapan kemarin mungkin tidak ada banyak kendala kalau cuacanya baik-baik saja. Jadi kita lihat. Mungkin yang paling challenging-nya di cuaca saja,” ujarnya.

Dukungan masyarakat Indonesia pun menjadi tambahan motivasi bagi para rider. Mario dan Veda mengaku senang bisa kembali merasakan langsung antusiasme masyarakat Lombok.

“Senang tentunya kami berdua bisa merasakan langsung dukungan dari masyarakat Lombok, masyarakat Indonesia. Beberapa hari terakhir kami juga cukup sibuk, tapi kami selalu senang dan gembira melihat seluruh masyarakat Lombok yang sangat menaruh antusias besar kepada kami,”  tutur Veda.

“Kami berterima kasih sebanyak-banyaknya atas doa dan dukungannya. Doakan kami, semoga minggu ini kami bisa finish di posisi terbaik,” pungkasnya. (can)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *