MotoGP  

Riders Go to School Tekankan Keselamatan Berkendara Sejak Dini

Riders Go to School: Chairman Pertamina Grand Prix of Indonesia Troy Reza Warokka dan sejumlah pembalap Moto2 dan Moto3 dalam program Riders Go to School di SD 2 Kuta. (susan/ntbnow.co)

MATARAM (NTBNOW.CO)–Gelaran Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 tak hanya menyuguhkan aksi para pebalap dunia di Sirkuit Mandalika. Ajang MotoGP juga dimanfaatkan untuk menyampaikan pesan edukasi kepada generasi muda melalui program Riders Go to School.

Program tersebut salah satunya menyasar siswa SD 02 Kuta, Mandalika, Lombok Tengah. Para siswa mendapat kesempatan bertemu langsung dengan sejumlah pebalap seperti Mario Surya Aji, Veda Ega Pratama, David Almansa, Manuel Gonzalez dan ⁠Luca Lunetta. Para siswa sekaligus menerima pesan mengenai pentingnya keselamatan berkendara sejak usia dini.

Chairman Pertamina Grand Prix of Indonesia Troy Reza Warokka mengatakan, keselamatan berkendara menjadi perhatian penting ITDC, MGPA, maupun Dorna.

Menurutnya, masih banyak aktivitas penggunaan sepeda motor di luar sirkuit yang tidak diikuti dengan penggunaan helm. Karena itu, edukasi keselamatan berkendara perlu ditanamkan sejak anak-anak.

“Pesannya salah satunya menyampaikan keselamatan berkendara sejak dini. Karena salah satu yang menjadi perhatian ITDC, MGPA dan Dorna adalah mengenai keselamatan berkendara yang memang harus dijaga sama-sama,” ujar Troy, Kamis 8/10.

Selain keselamatan berkendara, para pebalap juga memberikan motivasi kepada siswa agar rajin belajar dan berlatih. Troy menyebut keberhasilan para pebalap mencapai level dunia tidak terlepas dari latihan yang dilakukan secara konsisten.

“Mereka juga menyampaikan pesan untuk rajin belajar, menjadi pelajar yang baik dan rajin latihan. Mereka bisa berada di posisi ini karena banyak latihan,” tuturnya.

Dia menyebutkan, kunjungan pebalap ke sekolah juga menjadi pengalaman tersendiri bagi rider mancanegara. Beberapa pebalap bahkan disebut telah beberapa kali berkunjung ke Lombok dan mengaku terkesan dengan sambutan masyarakat.

“Mereka menyampaikan rasa senangnya. Kehangatan sambutan dan ramah tamah itu sesuatu yang spesial buat mereka,” ungkapnya.

Troy menegaskan, rangkaian side event MotoGP tidak semata-mata diarahkan untuk memberikan dampak ekonomi. Program tersebut juga diharapkan memberikan dampak terhadap pengembangan sumber daya manusia, khususnya anak-anak sekolah.

“Jadi bukan hanya masalah bicara dampak ekonomi, tapi dampak sumber daya manusia untuk anak-anak sekolah. Keselamatan berkendara itu menjadi sangat penting,” tegasnya.

Selain menghadirkan pebalap, ITDC dan MGPA juga memberikan sejumlah bantuan kepada sekolah. Bantuan tersebut disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing sekolah, mulai dari perlengkapan sekolah hingga fasilitas sanitasi.

Troy mengatakan, pihaknya tidak ingin memberikan bantuan secara asal. Kebutuhan sekolah terlebih dahulu dikomunikasikan agar bantuan yang diberikan benar-benar memberikan manfaat.

“Intinya ini salah satu bentuk kepedulian ITDC, MGPA kepada lingkungan yang ada di Mandalika, khususnya ke sekolah. Sekolah menjadi penting karena mereka adalah pemimpin masa depan bangsa,” jelasnya.

Dia menyebut sebelumnya bantuan juga diberikan untuk peremajaan toilet sekolah serta kebutuhan alat tulis dan perlengkapan pendidikan lainnya.

“Kami tidak memberikan bantuan serta-merta asal-asalan. Apa yang diperlukan itu yang kita bantu. Kami tanyakan apa yang dibutuhkan, kemudian kami sesuaikan dengan kebutuhan anak-anak sekolah,” ucapnya.

Terkait pemerataan program ke sekolah lain, Troy menjelaskan pelaksanaan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan MotoGP tetap melalui koordinasi dan persetujuan Dorna.

Panitia, kata dia, mengajukan sejumlah sekolah yang dinilai sesuai untuk menjadi lokasi program. Selanjutnya, Dorna melakukan kurasi dan menentukan sekolah yang dipilih.

“Semua kegiatan yang dibuat oleh panitia itu harus lapor dan mendapat persetujuan dari Dorna. Tidak serta-merta kita bergerak sendiri,” ujarnya.

Hal itu juga berlaku untuk program Riders Go to School maupun kegiatan lain seperti Riders Go to Paddock.

“Kami selalu mengajukan sekolahnya ini, ini dan ini. Kemudian mereka yang memilih. Mereka melihat apakah layak atau tidak dan apa yang harus diberikan,” pungkasnya. (can)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *