ADA yang berbeda dalam denyut organisasi pariwisata NTB hari ini. Sejarah itu akhirnya datang—tenang, tapi pasti. Sellywati, SH, dipercaya memimpin DPD ASITA NTB periode 2026–2031. Ia bukan hanya terpilih, tapi juga membuka jalan. Perempuan pertama di pucuk kepemimpinan.
Musyawarah Daerah (Musda) ke-VIII ASITA NTB, di Mataram, Senin (30/3), menjadi saksi. Proses berjalan demokratis, penuh dinamika, namun tetap dalam koridor kebersamaan. Di ujungnya, suara anggota berbicara jernih—Sellywati meraih 38 suara, meninggalkan pesaingnya, Sahnan dengan 32 suara.
Ini bukan sekadar angka. Ini adalah kepercayaan. Dan kepercayaan tidak pernah lahir dari ruang kosong.
Sellywati bukan nama baru. Ia tumbuh dari dalam organisasi, pernah menjadi bendahara, memahami denyut, mengerti ritme. Ia tidak datang sebagai penonton, tapi sebagai bagian dari perjalanan itu sendiri.
Kemenangan ini bukan tentang siapa mengalahkan siapa. Tapi tentang siapa yang siap memikul amanah. Dan Musda telah menjawab itu.
Lebih dari itu, ini adalah penanda zaman. Bahwa ruang-ruang kepemimpinan kini semakin terbuka. Bahwa perempuan tidak lagi berada di pinggir, tapi berdiri di depan—memimpin arah.
Kompetisi berjalan sehat. Tidak ada riuh yang berlebihan, tidak ada luka yang dipelihara. Justru yang tampak adalah kedewasaan berorganisasi. Ini penting. Karena organisasi yang besar bukan hanya soal siapa yang menang, tapi bagaimana semua tetap berjalan bersama setelahnya.
Ke depan, tantangan tidak ringan. Industri pariwisata terus bergerak, berubah cepat, penuh persaingan. Sellywati memahami itu. Ia membawa tekad untuk memperkuat pelaku usaha travel lokal, mendorong inovasi, dan menjaga agar NTB tetap berdiri sebagai destinasi yang diperhitungkan.
Pada akhirnya, kepemimpinan bukan tentang jabatan. Ia adalah tanggung jawab yang harus ditunaikan.
Dan hari ini, ASITA NTB telah memilih—bukan hanya seorang ketua, tapi juga arah baru perjalanan. (red)
Keterangan Foto:
Sellywati, SH, Ketua ASITA NTB yang baru. (ist)












