JAKARTA (NTBNOW.CO)— Kongres Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) 2025 resmi digelar dan menjadi momentum penting bagi dunia pers nasional. Agenda utama perhelatan ini adalah pemilihan Ketua Umum dan Ketua Dewan Kehormatan PWI, dengan dua pasangan calon yang bersaing, yakni Hendry Ch Bangun – Sihono serta Akhmad Munir – Atal S. Depari.
Ketua Dewan Pers, Kamarudin Hidayat, dalam sambutannya menegaskan bahwa jurnalis memegang peran besar dalam menentukan arah sejarah bangsa.
“Pers adalah kekuatan kata-kata. Nabi pun sejatinya juru berita dari langit. Namun ada juga yang menyalahgunakan kata-kata dengan hoaks. Damai atau konflik, semuanya bisa dipicu oleh informasi,” ujarnya.
Ia menambahkan, di era digital masyarakat bahkan bangun tidur langsung mencari ponsel untuk memperoleh informasi. Karena itu, wartawan dituntut menjaga akurasi dan integritas.
“Wartawan adalah pilar peradaban. Pers harus memberi tahu rakyat apa yang dilakukan pemerintah sekaligus menyampaikan aspirasi rakyat kepada pemerintah,” tegas Kamarudin.
Pemerintah Apresiasi Kritik Pers
Mewakili Menteri Hukum dan HAM, Gusti Ayu Putu Swardani menyampaikan apresiasi pemerintah atas kontribusi pers. Menurutnya, kebebasan pers melahirkan pemerintahan yang lebih responsif.
“Kode etik harus dijunjung tinggi. Jangan hanya terpancing sesuatu yang viral. Kritik pedas maupun halus adalah tanda pers yang sehat,” katanya.
Ia juga menyinggung tantangan besar dunia media, mulai dari penurunan iklan akibat dominasi platform global, penyebaran hoaks, serangan digital terhadap jurnalis, hingga kekhawatiran penggunaan Artificial Intelligence (AI) yang bisa menurunkan kualitas berita bila tidak dikelola dengan benar.
Selain itu, isu kebebasan pers yang menurun secara global dan kekerasan berbasis gender online (KBGO) terhadap jurnalis perempuan disebutnya perlu menjadi perhatian serius.
Wamen Komdigi: Jurnalisme Profesional Pilar Utama
Sementara itu, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, menyebut PWI sebagai “kakak tertua” organisasi pers yang harus dijaga bersama.
“Industri media kini menghadapi tantangan besar bersaing dengan konten kreator. Karena itu, kita perlu satu gerakan bersama memperkuat jurnalisme profesional,” tegasnya.
Nezar menekankan bahwa jurnalis profesional berbeda dengan konten kreator media sosial. Jurnalis bekerja di bawah kendali redaksi dengan disiplin verifikasi yang ketat, sementara konten media sosial lebih bebas namun rawan hoaks.
“Disiplin verifikasi adalah garis batas utama antara jurnalis profesional dengan penyebar informasi di medsos,” jelasnya.
Kongres PWI 2025 disebut bukan hanya soal memilih pemimpin baru, tetapi juga konsolidasi organisasi di tengah tantangan global.
“Siapa pun yang terpilih sebagai Ketua PWI, mari kita dukung bersama demi pers yang kuat dan bermartabat,” tutup Nezar. (red)