Merayakan Lebaran, Menahan Belanja

Hari Raya Idulfitri selalu identik dengan kebahagiaan, kebersamaan, dan kecukupan. Namun, tahun ini suasana itu tampaknya akan berbeda bagi jutaan rakyat Indonesia. Meski lampu-lampu di kota tetap menyala, Lebaran 2025 terasa “gelap” di mata rakyat kecil—bukan karena krisis energi, tetapi karena krisis harapan akibat tekanan ekonomi yang kian berat.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Februari 2025 menunjukkan inflasi tahunan mencapai 4,11 persen (year-on-year), tertinggi dalam dua tahun terakhir. Kelompok pangan menjadi penyumbang inflasi tertinggi, yaitu sebesar 7,25 persen. Harga beras medium kini menyentuh Rp15.200/kg, beras premium bahkan menembus Rp18.500/kg. Minyak goreng naik ke Rp17.000/liter, dan daging ayam mencapai Rp42.000/kg. Semua ini terjadi justru saat masyarakat seharusnya menikmati momen berkumpul dengan hidangan layak.

Sementara itu, tingkat kemiskinan ekstrem berada di angka 2,04 persen, atau sekitar 5,6 juta jiwa, dan tingkat pengangguran terbuka 5,45 persen. Ini adalah alarm keras bahwa pemulihan ekonomi belum menyentuh akar kehidupan masyarakat bawah. Mereka yang bekerja di sektor informal dan UMKM menjadi kelompok paling rentan.

Bhima Yudhistira, Ekonom INDEF, dalam diskusi publik bertema “Ekonomi Rakyat Jelang Lebaran” di Jakarta, 18 Maret 2025, mengatakan:

“Pemulihan ekonomi kita hanya dinikmati segelintir kalangan. Jika daya beli rakyat tidak segera dijaga, maka Lebaran hanya akan menjadi simbol—tanpa makna sosial dan spiritual yang utuh.”

Senada, pelaku UMKM pun mengeluh. Menurut survei Akumindo, 40 persen pelaku UMKM mengalami penurunan omzet 30 hingga 60 persen selama Ramadan, akibat melonjaknya harga bahan baku dan menurunnya permintaan pasar.

Menanggapi situasi ini, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam konferensi pers di Kompleks Istana Negara, 21 Maret 2025, menyatakan:

“Pemerintah akan mempercepat penyaluran bantuan sosial dan memperkuat subsidi pangan untuk menjaga daya beli masyarakat menjelang Idulfitri.”

Namun kebijakan tersebut harus cepat dan tepat sasaran. Keterlambatan atau salah distribusi hanya akan memperburuk kepercayaan publik terhadap pemerintah di tengah situasi sulit ini.

Dari sisi moral, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Miftachul Akhyar, dalam tausiah nasional di Masjid Istiqlal pada 10 Maret 2025, mengingatkan:

“Ibadah Ramadan dan Lebaran bukan hanya soal ritual, tapi juga solidaritas. Negara harus hadir membela mereka yang lemah, agar semua bisa merayakan kemenangan dengan layak.”

Lebaran seharusnya menjadi perayaan atas kemenangan spiritual dan sosial. Namun bagi sebagian besar rakyat Indonesia, tahun ini Lebaran justru menjadi pengingat bahwa perjuangan ekonomi belum usai.

Pemerintah harus bergerak lebih cepat dan berpihak pada rakyat kecil. Stabilkan harga pangan, kuatkan UMKM, dan pastikan bantuan sosial menjangkau yang membutuhkan. Cahaya Lebaran tak hanya berasal dari lampu hias di jalan, tetapi dari terangnya keadilan sosial di meja makan rakyat. (**)

Ilustrasi bing.com