Di Balik Layar Berita (4)

Pintu-pintu Rahasia

SETELAH pertemuan di kafe, Arman berjalan pulang dengan pikiran yang tak tenang. Ucapan Rizal berputar-putar di kepalanya. Nama-nama besar, ancaman, karir yang terancam—semua itu membuatnya sadar bahwa kasus ini bisa menjadi titik balik bagi hidupnya. Tapi ada satu hal yang lebih penting dari semua itu: kebenaran.

Sesampainya di apartemennya yang kecil dan sederhana, Arman menyalakan lampu meja kerja dan menatap dinding yang penuh dengan catatan investigasi sebelumnya. Malam itu, ia memutuskan untuk memeriksa setiap detail informasi yang ia miliki, mencari celah yang bisa membawanya lebih dekat pada kebenaran.

Ia mulai menghubungi beberapa sumber lama, termasuk kolega yang bekerja di Balai Kota dan beberapa aktivis anti-korupsi. Namun, tak satupun dari mereka yang mau berbicara. Mereka semua terdengar waspada, seakan ada sesuatu yang menakutkan membayangi.

Keesokan paginya, Arman tiba di Balai Kota untuk menghadiri konferensi pers yang dijanjikan. Ruang itu penuh sesak dengan wartawan lain, kamera-kamera siap merekam setiap kata. Seorang pejabat tinggi kota berdiri di podium, diapit oleh beberapa staf hukum dan keamanan. Namun, sebelum ia bisa membuka mulut, seorang pria berjubah hitam melangkah ke depan ruangan dengan tegas, menginterupsi acara.

“Ada yang lebih penting yang harus disampaikan,” ucap pria itu dengan lantang, membuat semua mata tertuju padanya. Arman terkejut—pria itu adalah salah satu sumber yang ia coba hubungi semalam, seseorang yang dikenal sebagai whistleblower di lingkaran kecil anti-korupsi. Jantungnya berdebar keras. Apakah ini akan menjadi awal dari terbukanya rahasia besar? (bersambung)

Ilustrasi foto: beng.com