ANGIN malam berembus pelan di halaman pesantren. Cahaya lampu pijar menerangi serambi masjid, tempat Kiyai Ahmad duduk bersila bersama beberapa santrinya. Suasana syahdu menyelimuti majelis kecil itu. Seorang santri membacakan kitab kuning dengan suara perlahan, sementara yang lain menyimak penuh khidmat.
Kiyai Ahmad adalah sosok sederhana. Sejak muda, ia mengabdikan diri untuk mengajar ilmu agama di pesantren yang ia bangun dari nol. Tidak ada tarif bagi santri yang ingin belajar. Ia percaya bahwa ilmu agama adalah amanah yang harus disampaikan tanpa pamrih.
Namun, di balik pengabdian itu, ada persoalan yang selama ini ia simpan rapat. Honor.
Di masyarakat, seorang kiyai dihormati bukan hanya karena ilmunya, tetapi juga karena ketulusannya dalam mengajar. Namun, tak jarang penghormatan itu tidak diiringi dengan penghargaan yang layak. Bagi sebagian orang, kiyai adalah sosok yang harus ikhlas mengajar tanpa menuntut balasan.
Kiyai Ahmad tidak pernah meminta bayaran atas pengajarannya. Tetapi sebagai manusia biasa, ia juga memiliki kebutuhan. Ia harus menghidupi keluarganya, membayar listrik pesantren, dan memenuhi kebutuhan santri yang tak mampu.
Pernah suatu hari, seorang tamu dari kota datang menemui Kiyai Ahmad. Ia adalah seorang pejabat yang ingin mengundang beliau untuk mengisi ceramah di acara pemerintahan.
“Pak Kiyai, mohon kesediaannya untuk mengisi pengajian di kantor kami pekan depan. Kami sangat membutuhkan tausiah dari panjenengan,” kata pejabat itu dengan penuh hormat.
Kiyai Ahmad tersenyum. “InsyaAllah saya bisa hadir. Semoga ada manfaatnya.”
Namun, sebelum pergi, pejabat itu berbisik kepada salah satu santri, “Tolong sampaikan ke Kiyai, kami tidak menyediakan honor. Karena ini acara agama, kami berharap beliau ikhlas.”
Santri itu ragu menyampaikan pesan tersebut. Tetapi, pada akhirnya, ia memberanikan diri.
Kiyai Ahmad hanya tersenyum ketika mendengar hal itu. Ia sudah terbiasa dengan permintaan seperti itu.
“Baiklah, saya tetap akan datang,” jawabnya.
Santri-santri yang mendengar percakapan itu merasa geram. “Kenapa ilmu Kiyai dianggap gratis, sementara untuk acara lain mereka sanggup membayar mahal?”
Kiyai Ahmad hanya menggelengkan kepala. “Ilmu bukan barang dagangan. Tapi, jika orang yang meminta tidak menghargainya, itu bukan salah kita. Itu urusan mereka dengan Allah.”
Ketika Kehormatan Tak Dihargai.
Meski demikian, dalam hati kecilnya, Kiyai Ahmad sadar bahwa penghargaan terhadap ulama semakin luntur. Para penceramah motivasi bisa mendapatkan bayaran jutaan rupiah untuk satu sesi seminar, sementara kiyai yang mengajarkan ilmu agama sering kali hanya mendapatkan sekadar ‘terima kasih’.
Ada suatu ketika, seorang pengusaha sukses datang ke pesantren. Ia dulu adalah santri Kiyai Ahmad.
“Pak Kiyai, saya ingin berterima kasih. Dulu, saya belajar banyak di sini. Alhamdulillah, sekarang saya sukses. Ini ada sedikit sumbangan untuk pesantren,” katanya sambil menyerahkan amplop tebal.
Kiyai Ahmad menerima dengan senyum, tapi lalu mengembalikan amplop itu.
“Terima kasih, Nak. Gunakanlah untuk kebaikan lain. Pesantren ini bukan tempat mencari uang. Ilmu tidak bisa dibayar dengan rupiah,” katanya lembut.
Sang pengusaha terdiam. “Tapi, Kiyai, bukankah pesantren juga butuh biaya? Santri-santri butuh makan, bangunan perlu direnovasi…”
Kiyai Ahmad menghela napas. Ia menyadari dilema yang dihadapinya. Di satu sisi, ia ingin mempertahankan prinsip bahwa ilmu agama harus diajarkan dengan ikhlas. Di sisi lain, ia tahu bahwa realitas kehidupan juga membutuhkan biaya.
Mengubah Paradigma
Suatu hari, seorang santri seniornya memberanikan diri berbicara.
“Kiyai, kami tahu panjenengan tidak mau menerima honor. Tapi bagaimana kalau sistemnya diubah? Misalnya, kita buat program donasi untuk pesantren. Bukan sebagai bayaran, tapi sebagai bentuk dukungan agar pesantren bisa berjalan lebih baik.”
Kiyai Ahmad terdiam sejenak, lalu tersenyum. “Ide yang bagus. Kalau itu diniatkan untuk keberlanjutan pesantren, insyaAllah tidak ada masalah.”
Sejak saat itu, pesantren mulai menerapkan sistem donasi terbuka. Para dermawan bisa menyumbang tanpa merasa seperti membayar ilmu, dan santri tetap bisa belajar tanpa terbebani biaya.
Namun, di luar sana, masih banyak kiyai lain yang menghadapi dilema serupa. Mereka yang terus mengajar dengan ikhlas, tapi sering kali tidak dihargai secara layak.
Honor sang kiyai bukanlah tentang jumlah uang, tetapi tentang bagaimana ilmu dihargai. Sebuah masyarakat yang menghormati ulama bukan hanya dengan kata-kata, tetapi juga dengan tindakan nyata, adalah masyarakat yang akan selalu diberkahi ilmu dan keberkahan.
“Karena ilmu adalah cahaya, dan cahaya tidak boleh padam hanya karena manusia lupa untuk menjaganya.” (has)
*Tulisan ini dibuat atas bantuan artificial intelegent
Ilustrasi: bing.com