Pagi itu, Dina berdiri di depan pintu kamar anaknya, Adi, seorang remaja berusia 16 tahun yang lebih sering tenggelam dalam dunia virtualnya. Tumpukan tugas sekolah yang belum selesai dan suara gaduh dari game online terus terdengar sepanjang malam. Dina mengetuk pintu pelan.
“Adi, ayo bangun. Sekolahnya online, tapi bukan berarti kamu bisa tidur sampai siang.”
“Sebentar, Ma! Lagi turnamen!” sahut Adi dengan suara setengah berteriak.
Dina menghela napas panjang. Rasanya ini adalah kali keseratus dia mengingatkan Adi soal disiplin. Sejak pandemi, rutinitas anaknya berubah total. Jam tidur kacau, waktu belajar bergeser, dan gadget menjadi teman setianya.
Saat Adi akhirnya keluar dari kamar, rambutnya acak-acakan, masih mengenakan kaos lusuh dengan headset menggantung di lehernya. Dina melirik meja makan yang penuh remah-remah bekas camilan semalam.
“Kamu ini gimana, Di? Masih ada PR Matematika yang belum selesai, kan? Itu yang bikin gurumu kemarin telepon Mama.”
Adi menguap lebar. “Nanti juga selesai, Ma. Lagi pula, sekarang zamannya beda. Belajar nggak harus textbook. Ada YouTube, ada Google, semua ada di situ.”
Dina berusaha menahan emosi. “Tapi tanggung jawab tetap tanggung jawab. Kalau gurumu meminta kamu kerjakan, ya harus selesai. Kamu pikir dunia kerja nanti bisa cuma cari jawaban di internet?”
Adi mengangkat bahu, lalu berjalan menuju sofanya yang penuh dengan kabel charger. Dina tahu, ini bukan sekadar soal gadget. Ada sesuatu yang berubah dalam pola pikir anak-anak zaman sekarang.
Di sore hari, Dina mencoba pendekatan lain. Ia mengajak Adi berbincang sambil makan cemilan.
“Di, Mama ngerti kok kalau zaman sekarang memang beda. Mama juga dulu ngalamin masa-masa susah, tapi tetap harus belajar dan disiplin. Apa kamu nggak mau sukses nanti?”
Adi menatap ibunya sebentar, lalu kembali memainkan ponsel. “Aku mau sukses, Ma, tapi nggak mau jadi kayak orang dulu. Semua terlalu kaku. Sekarang tuh bisa jadi gamer sukses, jadi YouTuber terkenal. Sekolah nggak segitu pentingnya.”
Mendengar itu, hati Dina terasa nyeri. Ia merasa gagal menjadi orang tua. “Tapi jadi apa pun, kamu tetap butuh disiplin, nak.”
Adi terdiam. Untuk pertama kalinya, ia melihat wajah ibunya yang benar-benar lelah.
Malam itu, Dina memasuki kamarnya sambil membawa sebuah buku. Sebelum tidur, ia memutuskan menulis di jurnalnya:
“Mendidik anak zaman now adalah tantangan terbesar. Mereka punya mimpi yang berbeda, tapi aku harus terus berdiri di sisi mereka. Bukan untuk memaksa, melainkan untuk menuntun, meski jalannya sulit. Semoga aku cukup kuat.”
Dan begitu lampu kamar Dina padam, Adi mengintip dari celah pintu. Sebuah rasa bersalah perlahan muncul di hatinya. Mungkin, besok pagi, ia akan mencoba sedikit lebih baik. (**)
Cerpen ini dihasilkan dengan bantuan ChatGPT
Ilustrasi: big.com