Pertaruhan Akhir
Malam semakin larut, Arman dan Mira bekerja keras menyiapkan laporan mereka. Namun, waktu terus berjalan, dan perasaan waspada mulai menguasai suasana. Mereka tahu, ketika matahari terbit, dunia akan tahu tentang skandal besar ini. Namun, mereka juga menyadari bahwa ancaman semakin dekat.
“Kalau kita ingin berita ini dipublikasikan, kita harus memastikan semua bukti aman,” ujar Mira sambil memeriksa dokumen-dokumen tersebut.
Arman mengangguk. “Kita bisa menyimpannya di tempat yang aman. Mungkin ke redaksi, atau kita bisa menggunakan beberapa kode untuk mengirimkan berita ini.”
Ketika mereka memutuskan langkah selanjutnya, tiba-tiba pintu depan diketuk dengan keras. Arman dan Mira saling memandang dengan ketegangan di wajah mereka. Siapa yang datang malam-malam seperti ini?
“Cepat, sembunyi!” Arman berbisik, dan mereka berdua bergegas mencari tempat untuk bersembunyi.
Suara ketukan semakin keras, diikuti oleh teriakan dari luar. “Ini polisi! Bukalah pintu!”
Arman merasa jantungnya berdegup kencang. Jika mereka menemukan dokumen itu, semua kerja keras mereka selama ini akan sia-sia. Dalam keadaan genting, Arman meraih amplop dan menyimpannya di tempat yang aman, berusaha menyembunyikan semua jejak yang mungkin bisa mengaitkan mereka dengan skandal tersebut.
Ketika pintu didobrak, Arman dan Mira bersembunyi di belakang sofa, menahan napas. Suara langkah kaki masuk ke dalam rumah, dan ketegangan semakin meningkat. Mereka tahu, inilah saat yang menentukan—apakah mereka bisa mempertahankan kebenaran atau akan terjebak dalam permainan kekuasaan yang lebih besar. (ai/bersambung)
Ilustrasi foto: bing.com