Enam Kalimat Warisan Hikmah dari Seorang Bijak

Dahulu, dalam bentangan sejarah yang tak tercatat oleh tinta dan kertas, ada seorang bijak yang mengabdikan hidupnya berkeliling negeri. Ia tak membawa pedang atau pasukan, tapi menyusuri kota dan desa dengan satu misi mulia: menyampaikan enam kalimat yang diyakininya mampu menuntun manusia menuju kemuliaan. Bukan kalimat biasa, namun mutiara hikmah yang lahir dari kedalaman ilmu dan pengembaraan batin, sebagaimana diabadikan dalam karya Hikmah, Seni Politik dari Imam Al-Ghazali—seorang tokoh besar dalam khazanah pemikiran Islam.

Kalimat pertama yang ia ajarkan mengandung pesan mendalam tentang pentingnya ilmu. “Orang yang tak memiliki ilmu, ia tidak akan mempunyai kemuliaan di dunia dan akhirat.” Ilmu bukan sekadar pengetahuan, tetapi cahaya yang membimbing langkah dan menyingkap kegelapan. Tanpa ilmu, manusia hanya akan terombang-ambing dalam arus zaman, kehilangan arah dan harga diri.

Yang kedua, bijak itu menegaskan pentingnya kesabaran sebagai pondasi iman. “Orang yang tak bersabar, maka ia tak bisa menyelamatkan agamanya.” Sabar bukan pasrah, melainkan kekuatan dalam diam, keteguhan saat badai mengguncang, dan kompas yang menjaga agama tetap di jalurnya, ketika godaan dan cobaan datang silih berganti.

Kalimat ketiga menyentuh soal kebodohan yang membutakan hati. “Orang yang bodoh maka perbuatannya tidak akan bermanfaat.” Kebodohan bukan semata tidak tahu, tapi ketidaksadaran akan pentingnya belajar dan memahami. Perbuatan orang bodoh, meski tampak besar, sering kali berujung sia-sia karena tanpa landasan yang benar.

Pesan keempat menggugah kesadaran spiritual: “Orang yang tak miliki ketaqwaan, ia tak akan mulia di sisi Allah.” Ketaqwaan adalah bekal menuju ridha Ilahi—ia bukan sekadar ritual, tapi sikap hidup yang menjadikan Allah sebagai pusat segala niat dan tindakan. Tanpa taqwa, amal bisa kosong dari makna.

Kemudian, ia menyentuh sisi sosial manusia melalui kalimat kelima: “Orang yang tak dermawan, maka ia tak akan mendapat bagian dari harta yang dimilikinya.” Derma bukan soal banyaknya harta, tapi kemauan untuk berbagi. Kekayaan sejati bukan yang disimpan, melainkan yang dibagikan dengan ikhlas, karena di sanalah letak keberkahannya.

Dan yang terakhir, sebuah penutup yang mengakar dalam dimensi keimanan dan akidah: “Orang yang tak memiliki ketaatan, niscaya dirinya tak memiliki hujjah di sisi Allah.” Ketaatan menjadi jalan untuk membela diri di hadapan Sang Pencipta kelak. Tanpa ketaatan, manusia akan kehilangan alasan untuk berharap ampunan dan rahmat-Nya.

Enam kalimat ini mungkin terdengar sederhana, namun di baliknya tersimpan kekuatan besar yang mampu mengubah cara pandang, sikap hidup, bahkan masa depan manusia. Ia adalah warisan hikmah yang tak lekang oleh waktu—sebuah pelita yang terus menyala bagi siapa pun yang ingin hidup mulia di dunia dan akhirat. (Hikmah, Seni Politik Imam Al- Ghazali/ai)

Ilustrasi: internet