Di Balik Perebutan Kursi, Ketika Jabatan Lebih Menggoda dari Integritas

Oleh: Redaksi NTBNOW.CO

Di lorong-lorong kantor pemerintahan, bisik-bisik terdengar lebih nyaring dari biasanya. Senyuman di antara para pejabat tampak lebih hangat, sapaan lebih manis dari hari-hari biasa. Tapi semua itu bukan tanpa alasan. Ada aroma persaingan yang begitu kentara. Belasan jabatan strategis tengah kosong. Dan seperti biasa, kekosongan itu tidak akan lama. Mereka yang berambisi, kini mulai bergerak dalam senyap—menyusun langkah, menyiapkan strategi, bahkan bila perlu, menyusun skenario licik.

Sebut saja R, seorang pejabat eselon III yang dalam dua tahun terakhir menjadi “penggembira” dalam bursa promosi. Kali ini, dia tak ingin kalah lagi. “Saya sudah tahu polanya. Kalau mau naik jabatan, bukan cuma kerja bagus, tapi juga siapa yang kita dekati,” katanya setengah berbisik saat ditemui usai apel pagi.

Politik Balas Jasa dan Lobi di Balik Layar

Tak sedikit dari mereka yang bermain cantik—mendekati orang dalam, menjalin hubungan dengan kerabat dekat pemimpin, atau sekadar menunjukkan loyalitas lewat simbol-simbol kecil: hadir di semua acara, memberikan pujian di media sosial, atau rajin membagikan unggahan atasan. Semua dilakukan demi satu hal: masuk radar kekuasaan.

“Sekarang bukan soal siapa paling kompeten, tapi siapa paling dekat,” ujar seorang staf senior yang telah lama menyaksikan praktik semacam ini. Ia menyebut ada nama-nama tertentu yang rajin ‘silaturahmi’ ke rumah tokoh politik berpengaruh atau bahkan membawa buah tangan ke meja istri pejabat tinggi.

Dari Suap Halus hingga Cerita Palsu

Lebih jauh, permainan menjadi lebih kotor. Suap, yang dibungkus dalam bentuk “tali kasih” atau “bantuan operasional,” mengalir ke tangan-tangan tertentu yang punya kuasa memberi rekomendasi. Di sisi lain, ada pula yang membangun citra dengan cerita-cerita palsu: mengklaim proyek sukses yang dikerjakan tim, membanggakan penghargaan yang ternyata hasil kolektif, bahkan menyebarkan isu miring tentang pesaingnya.

“Sekarang semua tentang narasi. Siapa yang bisa bikin cerita bagus, dia yang menang,” kata seorang konsultan komunikasi yang pernah diminta membantu ‘branding’ salah satu calon pejabat.

Belasan jabatan kosong kini menjadi rebutan. Mulai dari kepala dinas, sekretaris badan, hingga kepala bidang yang punya akses langsung ke proyek dan anggaran. “Ini bukan sekadar jabatan. Ini tentang kekuasaan, pengaruh, dan tentu saja uang,” kata seorang akademisi yang meneliti birokrasi lokal.

Dalam diam, banyak yang berharap. Dalam diam pula, strategi dijalankan. Tapi tak semua memilih cara kotor. Ada pula yang tetap berpegang pada prinsip, walau tahu peluangnya kecil. “Saya percaya masih ada pemimpin yang melihat kerja keras. Kalau harus menyogok, lebih baik saya tetap di tempat,” ujar seorang calon yang sudah tiga kali gagal promosi.

Harapan di Tengah Ketidakpastian

Kini, semuanya menunggu. Panitia seleksi sibuk menyusun skema, kepala daerah memantau gerak-gerik, dan publik menanti siapa yang akan mengisi kursi-kursi kosong itu. Apakah mereka yang berintegritas akan menang? Atau justru mereka yang paling licin dalam lobi dan manuver?

Masyarakat punya hak untuk tahu dan menilai. Karena ketika jabatan diberikan pada orang yang salah, bukan hanya birokrasi yang rusak, tapi kepercayaan publik pun ikut hancur.

Di balik baju dinas yang rapi, ada ambisi yang kadang tak terkendali. Dan di balik setiap jabatan, seharusnya ada tanggung jawab—bukan sekadar gengsi dan kuasa. (**)

Ilustrasi Foto: internet