Dalam politik dan pemerintahan, rakyat selalu menanti pemimpin yang tidak hanya berbicara manis, tetapi juga bekerja nyata. Sayangnya, masih banyak yang hanya pandai berpidato, menyusun janji, tetapi minim aksi. Mereka lupa bahwa yang dibutuhkan rakyat bukanlah sekadar kata-kata, melainkan bukti nyata dari kebijakan dan tindakan mereka.
Saat kampanye, hampir semua calon pemimpin berlomba-lomba menawarkan gagasan besar. Ada yang menjanjikan pendidikan gratis, ada yang mengklaim akan menciptakan ribuan lapangan kerja, ada pula yang berjanji menuntaskan kemiskinan. Namun, setelah duduk di kursi kekuasaan, banyak yang berubah. Janji-janji itu menguap begitu saja, tergantikan oleh alasan-alasan klise seperti anggaran terbatas atau proses yang butuh waktu. Sayangnya, alasan-alasan ini kerap dijadikan tameng untuk menutupi ketidakmampuan dan kurangnya komitmen dalam menjalankan amanah yang telah diberikan rakyat (Lipset, 1960).
Seorang pemimpin sejati tidak diukur dari seberapa bagus pidatonya, tetapi dari sejauh mana ia bisa membawa perubahan. Kepemimpinan bukanlah sekadar retorika yang menghanyutkan, melainkan keberanian untuk mengambil keputusan yang berpihak kepada kepentingan publik. Pemimpin yang hanya pandai berbicara tanpa tindakan ibarat orator di panggung, yang setelah turun, tak lagi memiliki arti. Rakyat membutuhkan pemimpin yang tidak hanya bisa menyusun strategi, tetapi juga turun langsung memastikan kebijakan berjalan efektif dan membawa dampak nyata (Northouse, 2018).
Jika berbicara soal perbaikan ekonomi, maka buktikan dengan kebijakan yang mendukung UMKM, menciptakan lapangan kerja, dan mengendalikan harga kebutuhan pokok. Jika berbicara soal pembangunan, jangan hanya mengandalkan proyek mercusuar tanpa memperhatikan manfaatnya bagi masyarakat. Jika berbicara soal keadilan sosial, pastikan bahwa kebijakan yang diambil tidak hanya menguntungkan segelintir elit, tetapi benar-benar dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Studi dari Acemoglu dan Robinson (2012) menunjukkan bahwa negara-negara dengan kepemimpinan yang fokus pada pembangunan inklusif lebih maju dibandingkan negara-negara dengan pemimpin yang hanya mencari keuntungan bagi dirinya sendiri.
Pemimpin yang baik adalah yang siap mempertanggungjawabkan setiap keputusannya. Jangan hanya muncul saat pemilu dan menghilang saat dibutuhkan. Jangan hanya menyalahkan bawahan atau kondisi eksternal ketika janji tidak terpenuhi. Rakyat membutuhkan pemimpin yang benar-benar peduli, bukan sekadar mencari popularitas. Pemimpin harus menjadi problem solver, bukan sekadar komentator yang sibuk mencari alasan atas kegagalannya sendiri (Kotter, 1996).
Pada akhirnya, rakyat menilai bukan dari kata-kata, tetapi dari hasil yang mereka rasakan. Jika sebuah kepemimpinan gagal memberikan perubahan yang nyata, maka kepercayaan publik akan memudar. Sebaliknya, jika seorang pemimpin bekerja dengan sungguh-sungguh dan menepati janjinya, rakyat akan mendukung dengan sepenuh hati.
Wahai pemimpin, hentikan omon-omon! Buktikan dengan kerja nyata, karena sejarah akan mencatat bukan seberapa banyak janji yang diucapkan, tetapi seberapa besar perubahan yang telah diciptakan. (has/ai)
Referensi:
– Acemoglu, D., & Robinson, J. A. (2012). Why Nations Fail: The Origins of Power, Prosperity, and Poverty. Crown Business.
– Kotter, J. P. (1996). Leading Change. Harvard Business Review Press.
– Lipset, S. M. (1960). Political Man: The Social Bases of Politics. Doubleday.
– Northouse, P. G. (2018). *Leadership: Theory and Practice. SAGE Publications.
Ilustrasi: bing.com