Pendakian Zero Waste di Gunung Rinjani, Fasilitas dan Aturan Baru

Gunung Rinjani, dengan ketinggian 3.726 meter di atas permukaan laut, merupakan salah satu gunung tertinggi dan paling menakjubkan di Indonesia. Berlokasi di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, gunung ini masuk dalam kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) dan menjadi favorit bagi pendaki serta pecinta alam. Namun, di balik pesonanya, Rinjani juga menghadapi masalah besar: sampah yang berserakan di sepanjang jalur pendakian.

Sebagai upaya menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan, TNGR mulai menerapkan kebijakan Pendakian Zero Waste per 3 April 2025. Konsep ini bertujuan untuk mengurangi sampah plastik yang dibawa pendaki ke gunung dan memastikan kebersihan tetap terjaga.

Program Zero Waste Trekking Rinjani 2025

Balai TNGR merancang Zero Waste Trekking Rinjani 2025, sebuah program yang berfokus pada kesadaran lingkungan dan pengurangan sampah di kawasan Gunung Rinjani. I Gusti Ketut Suarta, selaku Polisi Kehutanan dan penanggung jawab penanganan sampah di Rinjani, menyatakan bahwa program ini tidak hanya bertujuan membersihkan jalur pendakian, tetapi juga meningkatkan kesadaran pendaki akan pentingnya menjaga lingkungan.

Balai TNGR menerapkan konsep Refill dan Reuse:

Refill: Pendaki diwajibkan membawa wadah minuman yang bisa diisi ulang guna mengurangi penggunaan botol plastik sekali pakai.

Reuse: Memanfaatkan kembali barang atau kemasan yang dapat digunakan berulang kali untuk mengurangi limbah plastik.

BERSIH : Area Camp pelawangan tampak bersih setelah di lakukan clean up oleh TNGR dan gabungan komunitas pada Februari 2025 lalu.

“Pendaki dilarang membawa sampah plastik ke gunung. Semua barang bawaan harus dikemas dalam wadah yang bisa digunakan kembali. Ini adalah langkah nyata untuk mengurangi sampah di Rinjani,” ujar Suarta.

Sampah Rinjani Capai Puluhan Ton

Sampah di Gunung Rinjani menjadi masalah serius. Pada 2024, TNGR mencatat total sampah mencapai 43,25 ton, terdiri dari:

Sampah pendakian: 40,8 ton

Sampah non-pendakian: 2,44 ton

Sampah anorganik: 38,21 ton (terdiri dari plastik 20,48 ton, kaleng 3,7 ton, botol kaca 724,54 kg, botol plastik 5,32 ton, serta kertas/tisu 7,97 ton).

Sebanyak 97,64% sampah dari aktivitas pendakian berhasil dibawa turun oleh pendaki melalui sistem Pack In Pack Out, sementara 2,36% atau sekitar 964,3 kg ditemukan berserakan berdasarkan hasil pembersihan oleh TNGR.

Blacklist bagi Pendaki yang Tidak Bawa Sampah Turun

Untuk menegakkan aturan, TNGR memberlakukan sistem blacklist bagi pendaki yang tidak mematuhi kebijakan pengelolaan sampah. Dari April hingga September 2024, 202 pendaki masuk dalam daftar hitam akibat tidak membawa turun sampah mereka. Mayoritas berasal dari NTB.

Sebelumnya, TNGR menerapkan skema Pack In Pack Out, di mana setiap barang bawaan pendaki dicatat saat masuk dan diperiksa saat turun. Jika ada barang yang hilang atau tertinggal, pendaki berisiko terkena sanksi.

Trekking Organizer (TO) Jadi Sorotan

Manajer Geowisata dan Trekking Rinjani Lombok UNESCO Global Geopark, Lalu Ramli, menyebut bahwa Trekking Organizer (TO) menjadi penyumbang sampah terbesar di Rinjani. Hal ini karena TO terus membawa tamu ke gunung sepanjang musim pendakian tanpa pengelolaan sampah yang optimal.

“Banyak TO yang menawarkan harga murah tanpa memperhatikan kebijakan pengelolaan sampah. Sementara TO yang lebih mahal biasanya memberikan insentif kepada guide untuk membawa turun sampah pelanggan mereka,” ujar Ramli.

Menurutnya, blacklist tidak hanya diterapkan pada pendaki, tetapi juga pada TO yang tidak bertanggung jawab.

“Jika ditemukan TO yang membiarkan sampah berserakan, langsung blacklist saja. Ini akan menjadi solusi terbaik untuk masalah sampah di Rinjani,” tegasnya.

Persiapan Pendakian Minim Sampah

Ketua Pemandu Geowisata Indonesia (PGWI) Rinjani, Imam Firmansyah, menegaskan bahwa konsep pendakian minim sampah sudah mulai diterapkan sejak 2024. Ia membagikan beberapa tips bagi pendaki untuk mengurangi sampah:

Gunakan wadah makanan yang dapat digunakan kembali

Simpan beras dalam kantong kain dengan resleting

Bawa botol air isi ulang atau tumbler

Gunakan kantong jaring untuk menyimpan sayuran agar tidak cepat busuk

Kurangi penggunaan tisu kering dan tisu basah

Pendaki juga diharapkan membawa turun kembali sampah organik atau menguburnya dengan benar agar cepat terurai.

Fasilitas Baru: Toilet dengan View Tercantik di Pelawangan Sembalun

TNGR bekerja sama dengan Arei Outdoor Gear membangun toilet modern dengan pemandangan terbaik di Pelawangan Sembalun. Fasilitas ini dirancang untuk menjaga kebersihan dan mengurangi dampak lingkungan.

Keunggulan toilet ini antara lain:

Ramah lingkungan dengan tenaga surya

Dilengkapi kamera pengawas (CCTV)

Memiliki toilet duduk dan jongkok

Menggunakan sistem pembakaran dan sistem tanam untuk pengelolaan limbah

Selain itu, TNGR berencana membangun toilet serupa di Segara Anak guna meningkatkan fasilitas pendakian.

Pendakian Rinjani Dibuka Kembali 3 April 2025

Setelah ditutup sejak Januari 2025, pendakian Gunung Rinjani akan dibuka kembali pada 3 April 2025 dengan kuota harian 700 pendaki. Banyak wisatawan lokal dan mancanegara yang berlomba mendapatkan tiket untuk menikmati keindahan Rinjani setelah masa penutupan.

Dengan penerapan Pendakian Zero Waste, diharapkan Gunung Rinjani tetap lestari dan bebas dari sampah, sehingga tetap menjadi destinasi pendakian terbaik di Indonesia dan dunia. (sri susantini/ntbnow.co)

Keterangan Foto:

Pendaki yang saat di letter E menuju puncak Rinjani. (susan)