APA KEUNTUNGAN MASUK PWI?

Oleh: Abdus Syukur*

Pertanyaan itu datang dari Mustain, seorang wartawan senior. Singkat. Langsung. Dan menohok: Apa keuntungan kita masuk PWI?”

Banyak yang menganggap pertanyaan semacam itu terlalu remeh untuk dijawab. Tapi justru karena dianggap remeh itulah, pertanyaan ini menjadi penting. Dan diam-diam menyimpan bom waktu.

Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) adalah organisasi wartawan tertua dan terbesar di negeri ini. Tapi besar tidak selalu berarti relevan. Tua tidak otomatis berarti bijak. Maka, saat seorang wartawan senior bertanya: “Apa untungnya menjadi anggota PWI?”, kita harus mengakui—bahwa mungkin ada yang selama ini salah arah.

Organisasi profesi, apa pun bentuknya, mestinya menjawab satu kebutuhan: menjadi rumah bagi anggotanya.
Rumah itu bisa dalam bentuk perlindungan. Bisa pelatihan. Bisa pembelaan hukum. Bisa jaringan yang saling menguatkan. Bahkan bisa juga sekadar tempat untuk merasa dihargai sebagai profesional.

Apakah PWI sudah menjadi rumah itu?

Jika jawabannya iya, maka pertanyaan Mustain tidak akan muncul. Tapi jika pertanyaannya terus hidup, bahkan dari mulut para wartawan yang sudah puluhan tahun di lapangan, kita harus berani mengevaluasi ulang.

Selama ini, banyak wartawan masuk PWI karena “sudah seharusnya”, karena “biar resmi”, atau karena ingin mendapat sertifikat Uji Kompetensi Wartawan (UKW). Tapi setelah itu? Apakah ada keberlanjutan? Apakah ada manfaat yang nyata?

Apakah PWI hadir saat wartawan dikriminalisasi karena tugas jurnalistiknya?
Apakah PWI hadir saat media tempat wartawan bekerja terancam tutup, dan wartawan jadi pengangguran?
Apakah PWI punya program yang menjawab tantangan dunia digital, AI, dan runtuhnya batas antara jurnalis dan content creator?

Kalau belum, maka yang dibutuhkan bukan jawaban. Tapi perubahan.

Organisasi profesi tidak boleh hanya menjadi tempat kumpul-kumpul elite. Tidak boleh hanya hadir saat pemilihan pengurus. Tidak boleh hanya bicara etika, tapi lupa memperjuangkan “kesejahteraan”.

Wartawan hari ini tidak lagi hanya butuh pengakuan. Mereka butuh perlindungan. Butuh peningkatan kapasitas. Butuh solidaritas nyata.

Jadi, jika kita ditanya lagi, “Apa keuntungan masuk PWI?”, kita tidak perlu menjawab dengan kata-kata indah. Cukup dengan menunjuk pada program nyata, keberpihakan yang terasa, dan kontribusi yang membekas.

Kalau itu belum ada? Maka pertanyaannya bukan lagi “apa keuntungan masuk PWI”, tapi: Apakah PWI masih layak untuk diikuti?

Ilustrasi: internet.

*Ketua DKD PWI NTB

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *