Oleh: Abdus Syukur**
Mengutip Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi NTB, target kunjungan wisatawan NTB pada tahun 2026 ini ditetapkan sebesar 2,55 juta kunjungan.
Hal itu juga pernah disampaikan Kepala Dinas Pariwisata NTB, Ahmad Nur Aulia. “Sesuai RPJMD ditetapkan kunjungan wisatawan ke daerah kita, Lombok-Sumbawa sebanyak 2,555 juta,” katanya.
Target itu terdengar menjanjikan. Angka itu rapi, optimistis, dan mudah dipresentasikan. Namun pariwisata tidak pernah benar-benar hidup dari angka. Ia hidup dari pengalaman—dari kesan yang dibawa pulang wisatawan, dan dari alasan yang membuat mereka ingin kembali.
NTB sesungguhnya tidak kekurangan tamu. Yang masih menjadi pekerjaan rumah adalah lama tinggal. Banyak wisatawan datang singkat. Foto, lalu pulang. Dampak ekonomi lokal pun terbatas. Karena itu, orientasi promosi pariwisata NTB 2026 semestinya bergeser. Tidak hanya mengejar jumlah kunjungan, tetapi juga kualitas kunjungan—berapa lama wisatawan tinggal dan seberapa besar manfaat ekonomi yang tertinggal.
Promosi pariwisata tidak bisa lagi dijalankan sekadar untuk terlihat ramai. Ia harus tepat sasaran dan berbasis data. Pasar Australia, Malaysia, dan Singapura merupakan pilihan rasional. Dekat secara geografis dan serasi secara karakter. Mereka mencari alam, budaya, dan pengalaman autentik. Tantangannya, promosi kita kerap berbicara ke semua arah, tetapi kurang mendengar siapa yang sebenarnya ingin datang.
Di sinilah peran Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) menjadi krusial. BPPD tidak cukup hadir sebagai pelengkap kelembagaan, melainkan harus menjadi pusat strategi—membaca tren, mengolah data, dan membangun jejaring promosi yang efektif. Promosi tanpa riset hanya akan menghasilkan keramaian sesaat tanpa dampak jangka panjang.
Perubahan perilaku wisatawan juga menuntut penyesuaian. Dunia promosi telah berpindah ke layar ponsel. Ke cerita visual, ke pengalaman yang dibagikan secara digital. Promosi NTB harus hadir dengan konten yang jujur dan membumi. Bukan yang terlalu dipoles hingga terasa tidak nyata. Wisatawan hari ini lebih percaya pada pengalaman sesama pelancong dibandingkan slogan resmi.
Kerja sama global dan eksposur media internasional memang penting. Namun perlu diingat, sorotan dunia hanya akan bertahan jika yang disorot memang layak. Promosi tidak bisa menutupi persoalan di lapangan—ia justru akan mempercepat kekecewaan jika realitas tidak sejalan dengan narasi.
Integrasi pariwisata dengan Bali dan NTT juga merupakan langkah strategis. Wisatawan tidak mengenal batas administrasi. Mereka mengenal pengalaman perjalanan. Tanpa keterhubungan yang baik, potensi kawasan justru terfragmentasi.
Brand wisata ramah Muslim tetap menjadi keunggulan NTB. Namun ia harus hadir dalam praktik, bukan sekadar label. Wisatawan mencari rasa aman, kenyamanan, dan layanan yang konsisten—bukan istilah yang indah di brosur.
Event budaya dan festival tetap penting, tetapi perlu dikelola dengan kurasi yang matang. Event yang baik bukan sekadar ramai, melainkan mampu menciptakan kesan yang membuat wisatawan ingin kembali.
Promosi luring—pameran, kerja sama agen perjalanan, hingga fam trip media—masih relevan. Namun semua itu hanyalah pintu masuk. Yang menentukan adalah apa yang wisatawan temui setelah pintu itu terbuka.
Infrastruktur, konektivitas, dan kesiapan destinasi bukan urusan belakang layar. Ia adalah wajah promosi yang sesungguhnya. Jalan rusak, jadwal transportasi yang tidak pasti, dan minimnya informasi adalah promosi negatif yang bekerja jauh lebih efektif daripada iklan mahal.
Pada akhirnya, pariwisata NTB 2026 bukan soal seberapa sering proposal dibawa ke luar negeri. Melainkan seberapa serius rumah sendiri dibenahi. Wisatawan mungkin mudah datang karena promosi. Tetapi mereka hanya akan tinggal—dan kembali—jika harapan mereka dikelola dengan baik dan pengalaman mereka benar-benar layak dikenang. (*)
**Anggota BPPD NTB 2024-2027












