Masih segar dalam ingatan, tiga hari lalu almarhum Anang Zulkarnaen begitu sibuk mengurus bonus bagi para atlet PWI yang telah mengharumkan nama NTB di ajang Porwanas, Kalimantan Selatan (Kalsel) 2024.
Ia hadir sebagai sosok yang tak hanya bekerja di balik meja, tapi juga turun langsung, memastikan bahwa jerih payah para atlet mendapatkan apresiasi yang layak. “Beliau orang yang total bekerja. Sampai akhir hayatnya, tetap memikirkan nasib atlet,” tutur Ketua PWI NTB, Nasruddin, mengenang dengan mata yang berkaca-kaca.
Anang yang mantan Kiper PS Lombok Post era 2000-an itu, bukan sekadar pejabat di Dinas Pemuda dan Olahraga NTB. Ia adalah sosok bersahaja yang menjembatani banyak kepentingan dengan hati. Wartawan, aktivis, atlet, bahkan masyarakat biasa—semuanya pernah merasakan sentuhan kebaikannya. “Kami merasa sangat kehilangan. Anang itu orang yang baik, rendah hati, dan selalu hadir saat dibutuhkan,” ucap Budi.
Bagi rekan-rekan pemain bola dan teman teman media, terutama teman-teman jurnalis senior dari Lombok Post, almarhum adalah sahabat lama yang tak pernah berubah sikap meski menduduki jabatan penting.
Ia tetap ramah, tetap terbuka, dan tetap menjadi tempat bertukar cerita serta keluh kesah. Di kalangan wartawan, nama Anang yang pelatih bola itu identik dengan kedekatan yang tulus, bukan dibuat-buat.
Hari itu, langit Narmada tampak mendung. Seolah ikut bersedih atas kepergian seorang putra terbaik daerah. Jenazah almarhum dishalatkan di Masjid Nurul Mu’min, Lembuak, Narmada, Lombok Barat. Derai doa mengiringi kepergiannya, dari mereka yang mencintainya dalam diam maupun terang-terangan.
Kepergianmu, Kawan Anang, meninggalkan duka yang dalam. Tapi juga pelajaran berharga: bahwa jabatan bisa membuat seseorang tinggi, tapi hanya kebaikan dan ketulusan yang membuatnya abadi di hati orang-orang.
Selamat jalan, sahabat. Terima kasih atas ketulusan dan pengabdianmu. Semoga Allah SWT menempatkanmu di tempat terbaik, di sisi-Nya yang penuh kasih sayang. (*)
Keterangan Gambar: Anang Zulkarnaen (alm).