CERPEN  

Takbir di Dua Rumah

HAS duduk di bangku kayu di depan toko pakaian, menatap dua kantong belanja di tangannya. Jari-jarinya meremas plastik tipis itu pelan, seakan menimbang berat bukan hanya kain di dalamnya, tetapi juga beban yang tak terlihat.

Baju gamis warna krem dan kerudung senada untuk Sia, istri pertamanya. Sia adalah perempuan yang menemaninya sejak muda, perempuan yang dulu ikut merasakan pahitnya hidup dari nol, yang tahu bagaimana rasanya tidur di lantai dengan tikar anyaman, yang dulu tersenyum bahagia saat rumah kecil mereka akhirnya berdiri di tanah sendiri.

Baju koko biru tua dan mukena putih bermotif bunga untuk Ina, istri keduanya. Lima tahun lalu, Has menikahi Ina dalam sunyi. Ina bukan gadis muda yang cantik jelita, tetapi seorang janda beranak satu yang hidupnya penuh kepedihan. Has menikahinya bukan karena godaan, tapi karena iba. Begitu yang selalu ia yakinkan pada dirinya sendiri.

Tapi apakah iba cukup untuk membangun rumah tangga?

Has menatap langit sore yang mulai memerah. Lebaran tinggal tiga hari. Dua rumah telah menyiapkan kue dan ketupat, dua meja makan telah terisi, dua hati telah menunggu. Tapi ia tahu, bukan kue atau ketupat yang paling dinanti.

“Lebaran di mana, Bang?”

Pertanyaan itu telah datang berulang kali. Dari bibir Sia yang ia kenal sejak gadis, dan dari mata Ina yang selalu takut mendengar jawabannya.

Bukan hanya tentang hari raya. Tapi tentang rasa.

Has menarik napas panjang, lalu bangkit. Ia tahu, pulang ke rumah pertama lebih dulu berarti meninggalkan luka di rumah kedua. Pulang ke rumah kedua lebih dulu berarti menambah perih di hati yang pertama.

Maka ia memilih pulang ke masjid.

Malam takbiran, Has berdiri di antara gemuruh takbir yang menggema. Ia takbir sendirian, bukan karena tak punya rumah, tapi karena dua rumah sama-sama memiliki celah kosong yang tak bisa ia isi.

Di rumah pertama, Sia duduk di ruang tamu, memandangi baju baru yang terlipat rapi di meja. Di rumah kedua, Ina menyesap teh hangat dengan mata menerawang.

Tak ada istri yang benar-benar rela berbagi suami. Dan tak ada suami yang benar-benar bisa adil dalam rasa.

Pagi Lebaran, Has pulang lebih awal. Ia masuk ke rumah Sia, mencium tangan istrinya, menggendong anak bungsunya, lalu menyalami anak-anaknya satu per satu. Tak ada air mata, hanya tatapan dalam yang menyimpan banyak cerita.

Ia bergegas ke rumah Ina sebelum matahari terlalu tinggi. Ia mendapati Ina masih memakai mukena barunya, anak tirinya berlari kecil menyambutnya. Ada senyum di sana, tapi Has tahu, ada pertanyaan yang tak diucapkan: “Setelah ini, Abang akan kembali ke rumah pertama?”

Tak ada kata yang cukup untuk menjawab.

Has tahu, cinta itu berat. Dan poligami bukan hanya tentang berbagi suami, tapi juga tentang berbagi kesabaran, berbagi luka, berbagi ketidakpastian.

Hari itu, Has duduk sendirian di teras rumah, memandangi dua rumah yang berdiri dengan jarak yang tak seberapa. Tapi dalam hatinya, jarak itu terasa jauh.

Ia hanya berharap, Tuhan tak hanya memberinya keberanian untuk membagi cinta, tapi juga kebijaksanaan untuk memahami luka.

Sebab takbir telah berkumandang, dan dua rumah masih sama-sama menunggunya pulang.

Has menyalakan radio kecil di teras, takbir masih bergema dari siaran langsung salat Idul Fitri. Ia menyesap kopi hitam, pekat seperti pikirannya. Di ujung hari yang fitri, ia merasa justru semakin jauh dari kata fitrah. Bukan karena dosanya, tapi karena ia belum bisa memberi bahagia yang seimbang.

Sore harinya, ia kembali ke rumah Sia dengan membawa kue dari Ina. Lalu ia ke rumah Ina membawa rendang dari Sia. Ia coba menjadi jembatan, meski tahu tak selalu ada yang mau menyeberang. Keduanya diam, tapi tidak menolak.

Malam harinya, Has menulis surat. Bukan surat cinta, melainkan permohonan maaf. Ia tahu cinta itu bukan hanya milik hati, tapi juga milik waktu dan kehadiran. Ia tuliskan isi hatinya di dua lembar kertas berbeda, lalu ia selipkan di bawah bantal kedua istrinya.

Di akhir surat itu ia tulis:

“Kalau ada yang paling sulit di dunia ini, bukan membagi harta atau waktu, tapi membagi hati yang satu agar tidak menyakiti siapa pun.” (ai)

Ilustrasi: internet