MATARAM (NTBNOW.CO)–Ajang Pertamina Grand Prix of Indonesia atau MotoGP Mandalika 2026 tak hanya menjadi panggung balap dunia. Event internasional tersebut juga menjadi wadah pengembangan sumber daya manusia (SDM) lokal.
Sebanyak 2.500 volunteer asal NTB dilibatkan dalam berbagai bidang pekerjaan selama penyelenggaraan MotoGP Mandalika. Mulai hospitality, crowd management, security, marshal hingga berbagai profesi pendukung lainnya.
Chairman Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 Troy Warokka mengatakan, seluruh volunteer yang terlibat telah melalui proses seleksi dan dinilai mampu menjalankan tugasnya.
“Kita berterima kasih bahwa semua ini 100 persen memang kita anggap mampu dan lolos seleksi,” kata Troy, Selasa 7/10.
Menurutnya, keterlibatan ribuan volunteer lokal tidak lepas dari perhatian besar Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal. Gubernur disebut memiliki misi membawa NTB mendunia, salah satunya melalui peningkatan kualitas SDM.
Troy menyebut pengalaman menjadi volunteer MotoGP dapat menjadi modal bagi anak-anak muda NTB untuk menekuni profesi profesional di masa mendatang.
“Pak Gubernur punya misi NTB mendunia. Salah satunya sumber daya manusia. SDM ini cetakannya salah satunya di MotoGP,” ujarnya.
Dia menjelaskan, para volunteer mendapatkan berbagai pelatihan sesuai bidang masing-masing. Pengalaman tersebut diharapkan tidak berhenti ketika gelaran MotoGP selesai.
“Beragam training menjadi marshal, menjadi profesi lain yang di MotoGP ini adalah salah satu yang baik dan harus bisa membawa perubahan untuk NTB,” jelasnya.
Kehadiran Gubernur NTB di tengah para volunteer juga dinilai memberikan motivasi tersendiri. Gubernur ingin memastikan masyarakat NTB tidak sekadar menjadi penonton, tetapi ikut mengambil peran dalam event berskala internasional tersebut.
“Pak Gubernur datang memastikan bahwa semua berpartisipasi, berkontribusi. Saya rasa kehadiran Pak Gubernur memberikan motivasi khusus kepada teman-teman untuk bisa menjadi seseorang di masa depan, berangkat sebagai volunteer di MotoGP,” tutur Troy.
Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal mengatakan, keterlibatan volunteer dalam MotoGP membuka peluang bagi masyarakat untuk mengenal sejumlah profesi yang selama ini masih tergolong langka.
Salah satunya adalah crowd management. Menurut Iqbal, keterampilan tersebut tidak hanya dibutuhkan dalam penyelenggaraan MotoGP.
“Ini adalah sebagian profesi-profesi yang cukup langka yang direkrut. Crowd management itu butuh,” katanya.
Ia menilai kemampuan yang diperoleh para volunteer dapat menjadi bekal untuk bekerja di berbagai event besar lainnya. Termasuk ketika NTB semakin banyak menjadi tuan rumah meeting, incentive, convention and exhibition (MICE).
“Dia juga bisa mengambil posisi crowd manager di luar itu,” ujarnya.
Karena itu, Iqbal melihat program volunteer MotoGP sebagai salah satu cara menciptakan peluang ekonomi baru bagi masyarakat NTB.
“Iya, peluang ekonomi itu kan mesti diciptakan. Ini salah satu cara kita menciptakan peluang ekonomi itu,” tegasnya.
Menurutnya, ketika sektor MICE dan berbagai event internasional berkembang di NTB, kebutuhan terhadap tenaga profesional di bidang hospitality, crowd management, security dan profesi lainnya juga akan meningkat.
“Semakin berkembang profesi-profesi itu, bisa tidak hanya dimanfaatkan di MotoGP. Ketika nanti NTB berkembang, MICE, insentif, convention, exhibition itu muncul di NTB, maka tadi profesi-profesi itu muncul paling depan,” jelas Iqbal.
Di sisi lain, Iqbal mengakui masih banyak pekerjaan rumah yang harus dibenahi NTB. Evaluasi tidak hanya menyangkut penyelenggaraan MotoGP, tetapi juga kondisi pendukung seperti kebersihan, jalan dan penerangan.
“Kalau kita lihat dari organisasi penyelenggaraannya lebih baik dari waktu ke waktu. Kita banyak PR-nya, benahi seperti kebersihan, jalan, kemudian penerangan,” katanya.
Dia berharap pembenahan tersebut tidak hanya dilakukan menjelang MotoGP. Namun menjadi kebiasaan yang berlangsung sepanjang tahun.
“Harapan kita kan jangan pas pelaksanaan MotoGP saja, tapi seterusnya. Ini sebagai catatan,” tegasnya.
Iqbal mencontohkan persoalan kebersihan dan penerangan jalan. Setiap menjelang MotoGP, pemerintah melakukan pengecekan dan pembersihan. Namun setelah event selesai, persoalan serupa kembali muncul.
“Setiap menjelang MotoGP kita cek dulu penerangan jalan, sampah-sampah kita bersihkan. Begitu selesai MotoGP, sampah kembali lagi ke kondisi semula. Terus begitu,” ujarnya.
Karena itu, pemerintah ingin pembenahan dilakukan secara permanen dan menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat. “Bagaimana kita terus permanen supaya jadi gaya hidup,” pungkasnya. (can)












